Begini Orang Teluk Kijing Sebut ‘Jumputan’ dan ‘Jemputan’

Palembang, gesahkita.com-Jumputan kosa kata selalu tersemat dengan jenis kain, ya dikenal dengan ‘kain jumputan’ atau berdisain batik jumputan jika di Palembang, Sumsel Songket desain Jumputan.

Jumputan berkata dasar jumput, kata ini di Desa Teluk Kijing, Kabupaten Muba, Sumsel sering disebut masyarakat jemput memiliki fungsi kata sebagai kata sifat bermakna jumlah yang tidak bisa dihitung ditambahi awalan se- sehingga menjadi ‘ Sejemput‘ berarti sekelompok kecil, atau dalam jumlah sedikit.

Misal ketika di ladang atau sawah masyarakat biasanya menggarap lahan, menanam atau memanen untuk bagian kecil lahan atau wilayah, orang orang di dusun Teluk Kijing menamai ukuran kecil itu dengan kata ‘ sejemput’.

Misal :ketika d sawah ketika musim bertandur (menyamai anak padi ke ateal sawah)

A: Banyak keape pek pelorean nanur kau ari ini? (Berapa meter persegi hasil semaian hari ini Yuk?)

B. Ai ade sejemput ! ( Sedikit sekali)

Sangat mirip dengan kata ‘cempuk‘. Seperti semua sudah pada tahu imbuhan ‘Se-‘ dalam morphology bahasa Indonesia prefix atau awalan se- bermakna satu.

Begitu juga dengan akar kata atau kata dasar ‘cempuk’ bila di gabung hingga menjadi ‘secempuk’ kata ini mirip juga makna nya dengan kata sejemput diatas, akan tetapi penempatan nya untuk ukuran jumlah yang bisa digerakan atau ditumpuk tumpuk.

Misal, karena masyarakat disini sangat gemar dengan namanya mencari ikan di sungai, di sawah atau di lebak lebung ukuran dalam jual beli ikan yang kecil kecil seperti ikan jenis seluang, sepat dan sejenis nya maka ikan ikan itu dijual dalam ukuran ‘cempukan’

Misal:
A: berape budak secempuk seluang kau tu?
B: amek la due ribu pek..!

Kembali ke kata Jemput di Ulak Paceh, masih di Muba, Sumsel Jemput konon bermakna tidak baik. Kata jemput berarti sebuah gerakan dengan menggunakan jari jari tangan dengan makna meremas sesuatu. Maka orang dusun Ulak Paceh terlarang sembarangan gunakan kata ‘ jemput’. Maka di Ulak Paceh kata jemput artinya tambat atau nambat.

Hubungan “Kain Jumputan’ dengan ‘Kain Jemputan’

Dua kata ‘Jemputan’ dan ‘Jumputan’ ini bila ditanya mana yang bisa berdri sendiri?

Betul kata ‘jemputan’ bisa berdiri sendiri karena berkata dasar ‘Jemput’ merupakan kata kerja yang berarti perbuatan atau tindakan memindahkan seseorang atau benda ke tempat lain dengan maksud melidungi atau mengamankan dari pada atau dipindahtangankan ke tangan orang lain.

Maka jemputan berarti benda atau orang yang dipindahkan tadi. Misal, Tukang ojek kali ini gak bisa bantu karena dia ada jemputan.

Bagaimana dengan ‘jumputan’ karena kata ini selalu menjelaskan jenis kain yaitu jenis kain Jumputan.

Kenapa dikatakan Kain jumputan,? Ya jika merujuk kepada makna kata jumput karena disain gambar yang ada pada kain itu seperti kata orang Teluk Kijing gambar nya sejemput bergambar sejemput tidak dengan bahasa lain reko gambar nya jarang jarang atau Tidak merata.Tahu sendiri lah kan mana duluan bicara atau baca tulis? Bicara dong ya..Makanya pegiat literasi itu harus didorong terus bukan hanya omdo alias omong doang.hihi

Adat Melari Gunakan Kata Jemputan dan Jumputan

Kembali ke desa Teluk Kijing, salah satu desa di hulu sungai Musi ini, para remaja disini sebelum melangkah ke Pelaminan sepasang muda mudi di desa ini untuk melepas masa lajang nya mereka harus melalui adat yang dikenal dengan ‘Melari‘.

Melari atau belarian kata dasar ‘lari’ diseberamg sana disebut ‘Run‘ jadi ingat si ‘Pretty Woman’ debut kedua ngetop Julia Robert dalam ‘Runaway Bride’, nah ini bukan juga kisah yang dimaksud seperti sosok si Julia Robert ini. Pada nonton gak jika Julia Robert saat mau nikah selalu minggat alias gak jadi nikah nya batal melulu.

Melari yang ada didesa kelahiran sang Bupati Banyuasin, H Askolani, SH, MH ini, biasa nya dilakukan oleh remaja perempuan dengan alasan meminta pertanggung jawaban dari remaja laki laki untuk dinikahi. Melari berarti melapor ke tua tua adat, bisa ke penggawa dusun atau ke kepala desa.

Berkembang nya zaman berkembang juga pola latar belakang melari itu sendiri.

Dahulu apa bila seorang remaja cowok main mata (mengedipkan mata sebelah mata) atau cuman senggol ujung pakaian remaja perempuan dan si remaja perempuan gak terimah itu. Lalu si remaja perempuan melapor penggawa atau kepala dusun itu disebut ‘naik’.

Naik‘ maksudnya tindakan atau melapornya remaja perempuan ke rumah tua tua adat dengan untuk minta pertangguang jawaban remaja laki laki, untuk dinikahi penjelasan secara singkat nya seperti itu.

Jika menurut tua tua adat sudah memenuhi pasal dan hukum adat, selanjutnya pihak tua tua adat memanggil keluarga masing masing untuk menyetujui maka hari itu juga remaja perempuan harus dijemput oleh pihak remaja laki laki.

Kemudian sepulang nya remaja perempuan dari rumah tua tua adat si remaja perempuan tidak boleh pulang ke rumah orang tua dia sendiri. Maka dia harus tinggal di rumah remaja laki laki sampai masa prosesi pernikahan ditentukan.

Kembali ke prosesi naik tadi, Kemudian pihak remaja laki laki harus menjemput remaja perempuan dari rumah tua tua adat untuk dibawak atau diboyong ke rumah remaja laki yang masing masing remaja tadi sebutan nya menjadi ‘gemian‘ hingga masa prosesi pernikahan. Ya ‘gemian betine untuk sebutan remaja cewek calon penganten cewek dan ‘gemian lanang’ sebutan remaja cowok, calon penganten cowok.

Biar gak salah kaprah bahwa adat ini dituduh buruk karena penulis juga orang Teluk Kijing, (hihi) di rumah si gemian lanang si Gemian betine selalu ditemani remaja remaja putri sekitar atau tetangga gemian lanang. Ya karena zaman dahulu jangkaun dusun nikah nya kebanyakan masih satu nenek moyang tetap menjaga nama baik keluarga. Di rumah gemian lanang sepasang ini belum boleh tidur satu kamar, adat ini melarang ini  zina kan…mereka tahu kok, maksudnya kami tahu.

Kembali ke proses penjemputan gemian betine dari rumah tua tua adat tadi, utusan dari gemian lanang harus membawa ‘ kain jumputan‘ dan jika tidak tersedia harus kain yang terbaik lah serta selendang tutup kepala.

Sehingga kedua benda itu menjadi symbol dan syarat bahwa gemian lanang dan mereka berdua menyetujui akan janji janji yang dibuat di rumah tua tua adat.

Itu lah salah satu bagian prosesi adat menikah yaitu ‘ Malari’ yang dipakai di desa Teluk Kijing dan hubungan dengan dua kosa kata Jemputan dan Jumputan. Jika kita abaikan pelesetanya ya tetap seperti itu. Maka etimology nya mau yang mana jika memang gak mau diusik yo wes.

Penulis cuman berbagi gambaran sederhana bahwa ada kekayaan bahasa dan adat tersimpan di Sumsel ini yang belum digali dan diteliti karena dalih dana gak ada ‘good will‘ sehingga tingkat pelestarian budaya dan inventarisir budaya berkesan mandek alias gak jalan. Maka berani gak nyimpulkan siapa pun pemimpin nya keadaan gini gini terus..! Semogah Menggugah.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini