Nilai Edukasi Sastra Tutur ‘Dempo Awang’ Lahirkan ‘Tanampo Sakti’

credit from Facebook user born from Teluk kijing river edge Tanampo Sakti remains

Palembang, gesahkita.com–Dibalik cerita tanah bisa dimakan di kampung hulu Musi, tepat nya di desa Teluk Kijing yang ramai dibicarakan orang mengundang cibiran,”ahk masak iya?”Sesuatu yang tak masuk diakal pikiran sehat. Perhatikan frase kata ‘tanah bisa dimakan’ yang memiliki makna ‘tanah syah untuk dimakan’ atau ‘Boleh boleh saja mau makan tanah tersebut’.

Ngapain juga harus ditanya ke Dinkes para ahli kesehatan dan seterus nya, tentang keberadaan tanah tersebut. Repot amat. Pelajari dulu cerita orang orang yang tinggal disana. Latar belakang nya seperti apa? Penulis memang asli lahir dan besar di teluk kijing, merasakan sendiri bagaimana cerita tersebut dari mulut ke mulut yang acapkali didaulat sebagai cerita wajib bagi orang tua untuk didengarkan kepada anak anak mereka.

Disana ada bekas banker kapal yang bersemayam. Menurut cerita orang orang tua, kapal tersebut merupakan kapal milik saudagar kaya yang durhaka pada ibu nya, karena tidak mengakui ibu nya yang tua miskin, renta, pakaian compang camping. Saudagar kaya tersebut bernama Dempo Awang, tiba di desa Teluk Kijing dengan menaiki kapal Rejong megah dari negeri seberang. Bersama istri cantik anak pejabat kerajaan, kapal berisi dengan segala persediaan makanan dan pakaian serbah berkecukupan.

Ketua dan Pengurus Ikatan Keluarga Broyot Teluk Kijing, Salah Satu Ormas Berorientasi merangkul semua sanak sedulur bertebaran seluruh nusantara

Hingga singkat cerita ibu nya yang melahir kan dia sangat merindukan nya itu datang menemui dia dan ingin memeluk nya, sontak saja si Dempo Awang menolak dan tidak mau mengakui bahwa perempuan itu sebenar nya ibu kandung nya. Dengan rasa sedih ibu nya berdoa jika memang Dempo Awang itu bukan anak nya, maka dia memohon minta diberi petunjuk.

Tak lama berselang. Melintas lah ular lidi (ular kecil berwarna hijau) melompati kapal nya itu. Langsung terdengar dentuman halilintar dan air dibawah kapal nya beriak membentuk pusaran sangat besar mau menengelamkan kapal nya itu.

Dempo Awang lalu berteriak, emak..! emak…! maafkan aku. Dia berteriak trus hingga kapal nya tenggelam. Dempo Awang dan istri nya menjelma jadi sepasang burung Enggang. Tiap musim kemarau sepasang burung enggang itu sering muncul melintas disekitar kapal tenggelam tadi.

Jika sepasang burung itu melintas masyarakat berbisik ‘Tu suara Dempo Awang’. Atau dikejauhan suara burung enggang itu bergema masyarakat juga mengingat kan ‘Tu suara Dempo Awang sama istri nya’.

Ketua Adat dan Beberapa Tokoh Masyarakat Teluk Kijing

Banker kapal itu akan muncul ketika sungai Musi surut. Masyarakat setempat sering mengambil onggokan tanah liat bekas persediaan makanan kapal Dempo Awang itu. Onggokan tanah liat dimana pun posisi nya disebut orang orang disini ‘Tanampo’ . Kemudian onggokan tanah liat dimana tempat kapal terbaring itu dinamakan ’Tanampo Sakti’. Lantas bagaimana cara nya masyarakat disini menjadikanya obat? Masyarakat mengambil Tanampo itu, kemudian dibentuk bulat sebesar buah pinang lalu diasapi hingga tidak ada kandungan air nya.

 

Hingga rasa nya seperti rasa getah gambir. (Bingung juga bagi yang belum tahu seperti apa getah gambir itu) Hingga menurut keyakinan, jika ada yang sakit perut salah satu anggota keluarga, dengan diberi obat tersebut, Tanampo Sakti tersebut maka akan segera sembuh.

Cerita singkat diatas ini merupakan salah satu judul dan jenis ‘seni tutur’ atau ‘Sastra Tutur’ yang berkembang di masyarakat Sumatera Selatan pada umum nya. Tetapi ‘Cerita Dempo Awang’ adalah asli yang dimiliki masyarakat desa Teluk Kijing, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin.

Kata sastra secara etimology (asal usul kata) yaitu dari (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

 

Menurut Plato, Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Sedangakan,  Aristoteles Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Lain lagi Sapardi (1979: 1), Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium.

Ketua IKBT Muba dan Rombongan saat Serahkan Donasi ke Pungurus Masjid Uula Pada Persiapan Acara Keagamaan

Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social. Sastra Tutur menurut para ahli adalah sebuah rangkaian kisah yang tersebar dari mulut ke mulut (tidak melalui tulisan) menceritakan sebuah kejadian dari masa lalu yang dikaitkan dengan bukti bukti masa kini mengandung pesan pesan bernilai untuk kehidupan masa sekarang dan akan datang sehingga menjadi pedoman untuk kebaikan, baik itu berupa larangan maupun ajakan.

Lalu kembali ke kisah ‘Dempo Awang’ dan ‘Tanampo Sakti’ nya, cerita tersebut seperti disebutkan diatas  merupakan cerita yang wajib diketahui oleh anak anak di desa Teluk Kijing semenjak usia anak anak batas mampu bercerita dan faham makna cerita.

Tentu saja karena pesan yang terkandung sangat kaya makna. Ya secara umum setiap anak dimanapun berada diajarkan untuk hormat dan tidak durhaka pada orang tua. Lantas bagaimana seni tutur ini diceritakan pada anak anak di desa ini?

 

Para orang tua biasa nya bercengkrama dengan anak anak nya di malam hari setelah keseharianya kerja di sawah, kebun atau ladang (Talang). Ketika hendak menjelang tidur ibu atau ayah meminta untuk memijit atau memijak tubuh ayah atau ibu yang meminta dengan perjanjian bahwa si anak akan diberi “anai anai’. (Riwayat, kisah cerita).

Panorama nan ‘Padek’ Desa Teluk Kijing credit from facebook user born in Teluk kijing

jika di kota atau era ‘jaman Now’ cerita disampaikan dengan membacakan kumpulan cerita ketika anak anak kota mau tidur ‘dininabobokan’, kebalikanya ya gak? Ada pelajaran lain juga dari cara sastra tutur itu disampaikan ke anak anak di desa Teluk Kijing ini.

Anak anak disini terbiasa untuk mendapatkan sesuatu harus ada usaha terlebih dahulu itu nilai nilai yang turun temurun. Tentu saja yang lain nya anak anak bukan hanya hormat saja pada orang tua nya lebih dari itu yaitu sentuhan ungkapan sayang menyayangi terbiasa dari situ.

 

Ada lagi pesan yang tersimpan dari masyarakat disini untuk menghormati saudara yang lebih tua. Dan tabu untuk menyebut nama. Sehingga sebutanya berbeda untuk saudara laki laki, mulai dari ‘Anang’, ‘Kakcik’, ‘Kaknga’, ‘Kakcak’, ‘Kakcek’, ada juga yang memakai ‘Kakning’ selain itu ada juga yang memakai sebutan ’Gulu’ , kemudian dibawah nya nomor dua dari terakhir biasa dipanggil ‘Uju’ serta yang terakhir biasa nya panggil ‘Pisat’.

Sedangkan untuk anak perempuan biasa dengan panggilan membuang imbuhan ‘Kak” karena ‘Kak” berarti Kakak untuk laki laki. Ya untuk perempuan ‘Cak’, ‘Cek”, ‘Cik’, ‘Gulu’ dan nomor dua dari terakhir dan terakhir untuk perempuan dan laki sama, ‘Uju’ dan ‘Pisat’. Bagaimana dengan ‘Tanampo Sakti’ dari kisah ini? Dimana letak kesaktian ‘Tanampo’ itu sendiri? Setuju jika kita maknai Sakti tidak berarti kebal dan kuat saja kan.

Merujuk pada lagu Bang haji Rhoma berjudul ‘Kramat’. Disini ‘Kramat’ bukan berarti ketika orang sakti atau atau orang yang dianggap soleh meninggal, lantas makam nya akan membentuk gundukan dan seperti gunung. Bukan demikian kan, tetapi bang haji lebih menekan kan bahwa hormat pada ibu lah adalah “kramat’ itu.

Baca lyric nya lagu bang haji biar lebih jelas. Sakti di ‘Tanampo Sakti’ itu adalah mempuni kisah nya. Yang sarat akan pesan selain kewajiban untuk hormat dan Sayang pada orang tua, apa lagi yang telah melahirkan kita, juga tidak boleh sombong dan takabur, itu yang pertama.

Dan yang kedua dari pendapat Plato dan Supardi diatas, tercermin Tanampo itu adalah bagian dari alam yang bisa menjadi saksi awal dan akhir nya sebuah kejayaan kerajaan manusia.

Ketiga, durhaka pada orang tua yang berjasa pada kita itu kesombongan, namun lebih luas dari situ dalam konteks ini bahwa melupakan orang yang pernah berbuat kebaikan pada kita juga tidak baik.

Terakhir ada pesan politik dari kisah desa yang butuh banyak perhatian dari penguasa ini bahwa melupakan janji janji politik pada rakyat yang telah memilih untuk Pilkada, Pileg  dan Pilpres juga dapat akibat nya. Mumpung masih ada waktu untuk memenuhi janji itu, jika tidak berakhir sepert kisah ‘Tanampo Sakti’. Waulahualam.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini