Padi Hampa di Bilangan Seribu

Padi Hampa di Bilangan Seribu
Penulis : Rinaldi Syahril Djakfar

Ilustrasi

Mungkin aku baru sadar,
bahwa kau tak kan bisa melawan sayatan angin subuh yang kau jamak bersama gelombang.

Kemarin malam pun berombak…,

Bukankah, tuhan menitahkan bilangan airmata untuk kita berbagi lapuk, leleh, dan dingin?

Seandainya lusa belum tentu ada,
sungguh amat tak adil sesak didada.

Di tengah lamunan sawah yang hambar,
kau tak pernah letih mendamba senyum di atas lembaran kertas bekas dan kosong seperti kain-kain memudar di keranda jiwamu.

Senja

Hari-hari belumlah ditikam gamang
Sepertinya dia harus mendaki dua sisi mata tebing,
tampak dengan tenang kau jatuhkan kodrat ilahi di antara ranjang, noda, dan takdir.

“Tahukah dikau, Adindaku..?”

Limabelas tahun sansai bersemayam di
pandan tubuh yang merintih itu…!,
namun kau masih berdiri lalu membatu bersama jijik yang meringkuk di kedalaman luka-luka,
sampai hati ia tuliskan sebait kata yang berisikan riak:

Rey mister arwen

“Kakanda, mohon katakan pada ayah dan ibunda kita,
bahwa Aku sedang berbeda, yang padi hampa tetaplah hampa, yang seribu adalah pilu”

Wahai dindaku, jika yang hampa tiada guna, yang seribu berbanding tujuh,
tuangkan saja sembilu rindumu pada cawan doa-doa.

Sekian lama kau
menepi dari kubangan aral,
ke mana jua kau akan melintang
di kebungkaman sang Kehendak, Dik…?
sementara cinta, kasih sayang, cobaan, penderitaan, masa depanmu tak pernah mati dan mengalah…!

Rey & (alm) wak jengot saat sama poktan & KWT sehati sejati dekla ikut juga

 

Solok Selatan, 4 April 2016

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of