PETAPA

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA.com–Kang Rukin mendadak njanur gunung menemui kang Jamil. Saat itu kang Jamil sedang “bertapa” nulis kolom di kursi meja kerjanya. Kang Jamil bukan Penulis. Dia hanya penikmat sebuah tulisan. Baginya menulis itu sehat.

Dia tidak harus mempublish tulisannya ke sebuah media seperti jaman ketika ia muda. Kini, ia lebih senang -cukup- menyimpannya untuk dirinya sendiri. Paling jika sedikit dirasa perlu -tentu dengan pertimbangan tertentu- ada yang dishare untuk keluarga terdekat.

Itupun alasan biar ada backup filenya pribadi. Tak harus dibaca. Dan kang Rukin sebagai teman dekat sangat memahami itu.

“Santai kang,” celetuk kang Rukin.

“Tumben, njanur gunung,” balas kang Jamil

“Iya, bosen di rumah terus sejak pemerintah sarankan kerja di rumah saja menghindari penyakit Corona.”

“Ooooo….”

“Lah, kok cuma oooo saja to kang?”

“Terus aku kudu bilang apa, aku sengaja ke sini sebenarnya ingin tahu pendapat kang Jamil.”

“Itu malah salah lagi. Bahkan salah alamat.”

“Tidak to kang, maksud saya, siapapun orangnya, setiap warga negara berhak dan layak mengeluarkan pendapatnya masing-masing.”

“Bener, tapi kalimat itu belum selesai, seharusnya ada tambahan lagi, bahwa …dan siapapun, setiap warga negara juga berhak dan layak untuk tidak mengeluarkan pendapatnya masing-masing.”

“Halah, kang Jamil bercanda, saya serius ini kang.”

“Iya, jadi bagaimana?”

“Ikut berpendapat dong kang?”

“Halah… sudah terlalu banyak jutaan rakyat yang sudah menjadi pakar.”

“Justru itu, semakin tidak ada yang bisa saya percaya. Rata-rata copas dan hoax.”

“Begitulah juga aku nanti, jika saya berkomentar tentu saya -bisa jadi- akan menjadi pembual yang ke sejuta satunya. Aku tidak mau berada di ukuran itu.”

“Ini tentang hidup kang, bukan sekedar penyakit,” kang Rukin tampak mulai tersudut.

“Walaupun tentang hidup, sekarang apa yang harus dibanggakan sekaligus ditakutkan?”

“Nah itu dia maksud saya kang,” kang Rukin mulai menemukan celah.

“Begini kang Rukin, kamu tahu sendiri, dengan pendekatan teori ilmiah apapun, kamu akan batal menemukan kebenaran satu pun dari perkataanku. Aku ini orang awam, hanya Petapa”

“Justru karena saya hanya menyandarkan pada undzur maa qoola wa la tandzur man qoola kang,” sepertinya kang Rukin sedikit memancing kang Jamil.

“Hakikat hidup ini prinsipnya kan cuma dua to kang Rukin.”

“Apa itu?” kang Rukin tampak mulai semangat.

“Secara ilahiyah kita ini kan hanya ibadah, dan secara kemanusiaan kan cuma ‘khoirunnas anfa uhum linnas. Karena dengan beribadah itu berarti ketundukan, kepasrahan dan muslim. Sedang dengan menebar nilai kemanfaatan bagi sesama itu adalah khalifah.”

“Terus, jika Alloh datangkan bala’ misalnya semacam corona, ini bagaimana?”

“Ya, secara ilahiyah, tentu sebagai hamba Alloh, pertama kita patut bersyukur, karena Alloh hanya menurunkan peringatan, bukan -langsung- adzab atas manusia karena kesalahan dan dosa. Kedua, tentu dengan adanya bala’ membuat kita sebagai hamba ibarat mobil tanpa rem, harus segera bisa kontrol diri, atur kecepatan, jika perlu segera bertobat dan memperbaiki kendaraannya agar rem dan segala komponen spare-partnya kembali normal.

Ketiga, secara kekhalifahan, sepertinya bala’ adalah sarana menyadarkan kita sebagai hambaNya yang -mungkin- selama ini salah menempatkan setiap kebenaran dan kebaikan pada tempatnya yang bukan baik dan benar. Bisa jadi ilmu pengetahuan yang didapat dari Tuhan justru disalahgunakan dan dijadikan sarana menjadi sombong dan sumber kecongkakan.

Padahal kesombongan adalah salah satu penyakit yang biasanya langsung diganjar cash oleh Tuhan dengan kebinasaan.”

“Mungkinkah manusia sudah sampai ke tahapan itu kang?”

“Saya bukan pengukur. Pertanyaanmu aneh.”

“Maksud saya, dari tanda-tanda dengan adanya bala’, berarti itu membuktikan ada titik pengingkaran terhadap kebenaran Tuhan, sehingga Tuhan kembali memberi peringatan sebagaimana kisah pada kaum-kaum sebelumnya.”

“Bisa jadi begitu. Yang penting menurut saya, sekarang segera ajak diri dan keluarga bisa terbebas dari api neraka. Itu adalah tugas nilai kemanusiaan paling dasar dari setiap orang tua.

Neraka dalam arti dunia adalah bukan sekedar kesengsaraan, penyakit, kelaparan dan musibah. Tapi ketika orangtua tidak mengenalkan kepada anak agar mendekat kepada Alloh dan rosulNya. Itu adalah ‘neraka’ yang sebenarnya.

Tugas berketurunan adalah melanjutkan ‘ajaran Tauhid’ dari setiap risalah para Nabi. Melalui ajaran setiap nabi, -khususnya- nabiyulloh akhir zaman Sayyidina Muhammad sholallohu alaihi wasallam.

Karenanya apapun bentuk nilai-nilai kemanusiaan dan segala wujud ilmu pengetahuan apapun, rujukan dasarnya adalah keilahiyahan. Tanpa didasarkan kepada Ilahi Robbul Izzaty, otomatis segala bentuk teknologi dan tatanan peradaban sehebat apapun pasti akan roboh dan tak memiliki daya dukung yang kuat.

Karena ilmu dasar dari segala pembangunan seharusnya adalah ‘la khaula wala quwwata illa billah’ tidak ada daya dan kekuatan kecuali itu milik Alloh semata.”

“Artinya, sebuah keberhasilan apapun bentuknya dari manusia, itu adalah hanya pinjaman Alloh semata.”

“Betul, untuk itu, setiap manusia mesti harus pandai menempatkan sesuatu TEPAT pada tempatnya.”

“Lah, itu seperti hukum kemanusiaan kang Jamil, the right man in the right place.”

“Kamu memang sahabatku kang Rukin.”

“Terus bagaimana ini, akibat corona, harus berdiam sekian lama di rumah?”

“Ya, itu lebih baik tooo… Kalau saya tidak ada pengaruhnya dengan perintah itu, soalnya kang Rukin tahu sendiri, pekerjaan saya

‘Petapa’ alias nganggur. Jadi sudah sangat biasa diam di rumah. Paling keluar, ngluyur, foto-foto yang tak ada duitnya.”

“Tapi kok kang Jamil anteng-anteng saja ya?” penasaran kang Rukin.

“Badan saya saja kelihatan anteng, tapi jika dibandingkan dengan otak kamu, otak saya putarannya jauh lebih kencang dari kamu kang Rukin hehhe….”

Keduanya tertawa terbahak-bahak. Menyusul kang Rukin pamit pulang. Kang Jamil menepuk punggung kang Rukin tanda persahabatan.

“Salam Corona,” kata kang Rukin.

“Moh,” celetuk kang Jamil spontan sambil tertawa.

“Wa’alaikumsalam warokhmatulloh.”

Kembali kang Jamil melanjutkan aktifitasnya sebagai PETAPA alias nganggur.(*)


Info Covid-19 Propinsi Sumatera Selatan


TOTAL POSITIF

736

ORANG

Positif

TOTAL SEMBUH

102

ORANG

Positif

TOTAL MENINGGAL

25

ORANG

Positif

Sumber Data: Kementerian Kesehatan & JHU melalui API Kawal Corona Baca disini untuk pasang di Wordpress

Leave a Reply

Please Login to comment