TA’AWUDZ

Ilustrasi (sumber Eramuslim)

Mustaqiem Eska

TIMKA, GESAHKITA com–Sebuah kitab suci dan yang sangat disucikan layaknya Al-Quranul Karim adalah merupakan rujukan atau pedoman hidup yang memberi petunjuk jalan keselamatan bagi pembacanya. Membaca Al-quran berarti kita telah membaca lalIuan kebenaran-kebenaran yang akan menuntun kita kepada cahaya kehidupan yang sebenarnya. Al-quran sangat jelas membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebuah petunjuk terang yang membedakan (QS. al-furqon :1) jalan baik dan buruk.

Begitu sucinya al-quran, maka sangat disunnahkan kita berwudhu (mensucikan diri) terlebih dahulu sebelum menyentuhnya, ‘La yamassuhu illa mutohharuun’ (tidak menyentuhnya (al-quran) kecuali mereka yang suci, ‘ QS. Al-Waqiah).

Berwudhu yang kalau dalam petunjuk al-quran tata caranya disebutkan dengan membasuh muka, tangan dan kaki ini adalah semacam kesadaran bersuci secara dhahir. Jika ditafsirkan arti dari semua rukun dan sunnahnya wudhu setidaknya kita dapat menangkap pesan ketundukan dhahir kepada sang Maha Suci Alloh Subhanahu Wataala, bahwa wajah, tangan dan kaki kita yang nyaris terlena melakukan kesalahan-kesalahan dibasuh dengan air yang suci dan mensucikan.

Dan secara batiniah, cara mensucikan diri kita, agar lebih sah dalam menerima sebuah kitab suci yang bernama al-quran adalah dengan mengucapkan ta’awudz dilanjut basmalah. Lafadz : ‘Audzu billahi minasysyaitonirrojiim’ artinya saya berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.

Lafadz ‘Audzu’ adalah pernyataan mendasar yang dilakukan oleh seorang hamba secara perorangan (individu) kepada Alloh dalam berserah diri dan bermohon perlindungan. Tentu saja ini adalah konsep pembelajaran dan konsep permulaan sikap termulia yang harus dilakukan oleh setiap orang.

Alloh sangat mengajarkan kepada kita, bahwa sebelum kita melakukan kebaikan-kebaikan kepada orang lain, jauh sebelum itu setidaknya dia harus sudah melakukan kebaikan-kebaikan sebelumnya untuk diri sendiri. Maka peringatan Alloh atas “Ata’murunannasa bilbirri watansauna anfusakum’ – Kenapa kamu menyuruh orang berbuat baik sementara kamu melupakan diri kamu sendiri-.

Jika kita melihat struktur sebuah bangunan, sebelum rumah atau gedung bertingkat itu dibangun sedemikian megahnya, berikut pernik-pernik dan cabang-cabang desainnya, yang pertama dilakukan adalah membangun sebuah fondasi yang sangat kuat dan kokoh. Tanpa pondasi yang kuat dan kokoh maka sebuah bangunan atau rumah akan tidak kuat dan rentan sekali roboh.

Istilah pondasi di sini adalah sesuatu yang menancap di dalam tanah, mengakar dan mencengkeram. Sebuah sentuhan batiniah yang penuh simbul, bahwa semegah apapun kemewahan yang akan kita agung-agungkan di dunia, yang akan kita pamer-pamerkan demi sebuah kebesaran setelmenship-sebentuk kebangaan atas kemapanan seseorang yang lebih dicitrakan kepada adanya rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau harta kekayaan yang berlimpah- tentu semua itu berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Ibda’ binnafsi , memulai dari diri sendiri ini hakikatnya adalah keluhuran. Seseorang yang bersedia menjaga dirinya, mengasah ketajaman mata batin dirinya, bersedia rundhuk dan tawadhuk untuk dirinya, sanggup menjauhkan diri dari sikap riya’-riya’ tipis maupun tebal, berani menjaga kebeningan hati untuk dirinya, sesungguhnya dia telah membangun pondasi sebuah kehidupan yang kuat.

Tidak hanya itu, bahasa permohonan perlindungan kepada Tuhan otomatis adalah wujud ketundukan kita sebagai seorang hamba atas kebesaran dan keagungan Tuhan. Begitu kita berlindung kepada Tuhan berarti kita adalah hambaNya yang bersedia mengikuti setiap aturan dan rambu-rambuNya, sehingga hidup kita menjadi selamat.

Alloh memang mengajarkan, bahwa sikap kerendahatian itu sangat urgent (penting) yang harus dimiliki oleh setiap orang. Lafadz ‘Audzu billahi’ – saya berlindung kepada Alloh – menggunanakan huruf jar (ba’) yang harus dibaca rafa’ –kasrah- (billahi) – bukan billaha atau billahu- itu menunjukkan sebuah kerendahan sikap seorang hamba kepada Tuhan. Seorang muslim hanya layak bermohon perlindungan khusus kepada Allah. Tidak kepada yang lain selain Alloh. Hanya Alloh yang pantas disembah karena sesungguhnya menyembah kepada taghut adalah sebentuk kekafiran yang sangat nyata.

“Katakanlah, sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari (masa) dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (yang bersifat) Demikian itulah Tuhan semesta alam (QS.41:9)”

Merenungkan tentang alam semesta, akan membuat hati dan pikiran kita menjadi runduk dan tunduk – dan mengantarkan kita kea rah berikutnya menjadi hamba yang tawadhuk dan khusyuk-. Berpikir tentang alam semesta yang tersusun dengan rapi; dimana benda-benda langit yang massa, jarak dan geraknya teratur, telah sangat menuntun kesadaran hati dan kecerdasan otak kita untuk mengakui bahwa semua itu pasti ada yang mengatur dan menyusunnya.

Organisma yang terdiri dari molekul-molekul yang kemudian tumbuh dan berkembang dengan teratur, pasti ada yang menyusun dan mengaturnya. Molekul-molekul terdiri dari atom-atom yang tersusun rapi baik letak maupun jaraknya, lebih meyakinkan lagi kepada kita bahwa semua tentu ada yang menyusun dan mengaturnya pula. Begitu juga dengan atom itu, terbentuk didahului oleh adanya partikel-partikel dasar semacam; electron, proton, neutron, positron neutrino, anti-netrino dan macam-macam meson. Sedang partikel-partikel dasar yang tidak mampu menentukan nasibnya sendiri, sudah pasti tidak mampu membuat dirinya sendiri dari tidak ada menjadi ada.

Oleh karenanya, maka wajib bagi akal adanya yang tak berawal (dan tak berakhir) yang mendahului adanya partikel-partikel dasar itu. Dialah Alloh. Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pengatur, “Allahusshomad” tempat segalanya bergantung. Yang bila Dia menghendaki sesuatu cukup dengan berkata “Kun Fayakun” –Jadi maka jadilah.

Setelah kesadaran kita mutlak atas Alloh Sang Maha Pencipta sehingga membuat diri kita sujud, bersedia meletakkan badan dan kepala kita runduk ke tanah demi memuji kebesaran dan keagungan Alloh. Berarti kita adalah hamba-Nya.

Salah satu bukti penghambaan adalah kesediaan kita selaku muslim ‘sujud’ pada-Nya. Hal inilah yang akan membedakan antara seseorang itu apakah hamba Alloh atu hamba iblis. Dari sekian makhluk Alloh, iblis adalah pencetak sejarah pengingkaran salah satu makhluk Alloh yang tidak bersedia tunduk dan patuh kepada-Nya. Apakah pengingkaran iblis untuk sujud ini karena iblis tidak tahu bahwa Alloh adalah Pencipta alam semesta? Tentu saja tidak.

Iblis sangat paham dan mengerti bahwa hanya Alloh lah yang memang berhak disembah dan diagungkan. Tetapi kemudian iblis menjadi makhluk yang laknatullah? Jawaban dari pertanyaan ini adalah, karena iblis tidak berilmu pengetahuan tidak seperti Adam.as yang telah dianugerahi oleh Alloh ilmu pengetahuan yang sangat luas.

Terbatasnya kadar ilmu pengetahuan iblis ternyata telah menyumbat pintu penghambaan. Seterusnya melahirkan kesombongan dan dendam iblis kepada Adam. Rasa dengkinya yang menghujam membuat pintu cahayanya padam. Perasaan bahwa iblis lebih mulia karena terbuat dari api dibandingkan Adam yang tercipta dari tanah liat hitam, telah mengaburkan arti sebuah derajat.

Kedangkalan ilmu iblis yang baru sanggup menangkap nilai keluhuran derajat dari materi semata ternyata tidak sanggup menembus cahaya Tuhan. Bahkan semakin ingkar, perilaku iblis semakin hitam dan pekat-memungkinkan sekali- selanjutnya melakukan penentangan-penentangan terhadap Tuhan. Dan akhirnya, iblis sah menjadi makhluk yang paling terlaknat yang akan terus sesat dan menyesatkan anak keturunan Adam selama masih di dunia.

Sebagai kasih sayang Alloh, lantas iblis diizinkan untuk menggoda anak cucu Adam sampai hari kiamat.

Kenapa Alloh justru mengizinkan iblis untuk menyesatkan anak cucu Adam selama di dunia agar tergelincir kepada kesesatan sampai datangnya hari kiamat? Apakah Alloh tidak sayang kepada Adam dan anak cucunya? Ataukah ini wujud hadiah Alloh kepada iblis yang sebelumnya pernah tunduk dan patuh sebelum Alloh akan mengangkat derajat kemanusiaan Adam di hadapan iblis? Alloh memang Maha Mengetahui akan semuanya baik yang belum terjadi maupun yang akan terjadi.

Alloh menciptakan makhluknya antara yang bernama manusia dan iblis tentu tidak serta merta tanpa tujuan begitu saja. Dibalik semua pengingkaran iblis, ternyata menyimpan hakikat ujian bagi Adam dan keturunannya yang nanti akan membentuk ‘kwalitas’.

Ya, kehadiran iblis bagi Adam dan anak cucu keturunannya justru adalah bentuk kasih sayang Alloh, yang menginginkan bagaimana makhluknya yang bernama manusia, nanti ketika kembali dan dipanggil dihadapan-Nya, benar-benar bisa membuktikan menjadi makhlukNya yang berkualitas.

Oleh karenanya, Alloh lantas mempersenjatai hamba kesayangan-Nya yang bernama manusia dengan Kitab Suci. Menyusul rambu-rambu kehidupan sebagai petunjuk jalan bagi manusia agar gamblang dalam membedakan jalan baik yang harus ditempuh dan jalan keburukan yang memang layak dihindari.

Dalam Kitab Suci-Nya, baik Zabur , Injil, Taurat, dan Al-Quran Alloh sebagai Sang Maha Penjaga terus mengantarkan hambaNya untuk tetap berserah diri dan menyembah hanya padaNya.

Semua pesan dalam kitab suci pada semasa jaman kenabian, mutlak sama perintahnya, “Jangan sekutukan-Nya” dan “Sembahlah Tuhan Yang Satu”. Semua risalah kenabian mengusung kesadaran ber-Tauhid. MenyekutukanNya berarti adalah kekafiran. Dan itu adalah dosa yang Alloh tak bersedia untuk mengampuni-Nya. Kecuali hamba-Nya melakukan taubatan nasuha.

Dendam iblis atas Adam.as dan anak keturunannya inilah selanjutnya Alloh mengajarkan kepada hambaNya yang telah memperintahkan agar selalu berlindung kepada-Nya dari godaaan syetan yang terkutuk.

Dengan mengucapkan, “Audzubillahi min asy-syaitonirrojiim”. Meminta perlindungan kepada Alloh dari godaan syetan (min asy-syaiton), yang terkutuk (ar-rojim). Dalam keadaan dan situasi yang bagaimanapun, berarti kita telah mendapat jaminan keselamatan dari Alloh Subkhanahu Wata’ala. Wallahu a’lam.(*)


Info Covid-19 Propinsi Sumatera Selatan


TOTAL POSITIF

736

ORANG

Positif

TOTAL SEMBUH

102

ORANG

Positif

TOTAL MENINGGAL

25

ORANG

Positif

Sumber Data: Kementerian Kesehatan & JHU melalui API Kawal Corona Baca disini untuk pasang di Wordpress

Leave a Reply

Please Login to comment