KITA INI PARA PENGEMBARA SEKEDAR MAMPIR ‘NGUMBE’

 

Ilustrasi Sosok perempuan tampak membelakangi by the way semua miliki persepsi dan kesimpulan, monggoh aja gaes

MISTERI MICRO DEVAL

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA com–Kenyataan hidup memang tak semudah membalik telapak tangan. Untuk mencapai keberhasilan di dunia dan akhirat dibutuhkan proses perjuangan yang rumit dan panjang. Bahkan tidak jarang, mendengar keluhan seorang ketika masih di dunia dengan kata-kata sebagai berikut; “Ah, hidup kok seperti digebuki…,” “Cari duit kok susahnya begini…,” atau “Susah ya jadi manusia…”

Sebenarnya, jika kita pandai merenungkan, hidup di dunia ini sesungguhnya memang sangat bersifat sementara. Ibarat seorang pengembara yang “mampir ngombe (minum)” – istilah orang Jawa -. bahwa memang sangat sementara. Maut memang tak pernah bisa dilacak kapan datang dan tempatnya. Alloh sengaja sangat merahasikan untuk hal-hal yang menyangkut urusan dan hak prerogative Tuhan.

Begitu dengan jodoh, rizki, dan kematian, semua Tuhan ghaibkan tentu dengan sangat beralasan. Disamping sebagai ujian bagi manusia , dengannya, adalah cara Tuhan mengukur kadar keimanan hamba-Nya. Bahkan dalam QS. Al-Baqarah : 3, Alloh telah membuat spec (batasan) kehidupan yaitu bahwa syarat menjadi muslim yang benar, sebelum ia menjalankan perintahNya seperti shalat, zakat, puasa, maupun pergi haji, terlebih dahulu seorang muslim harus beriman terlebih dahulu kepada yang ghaib.

Tanpa adanya keimanan terhadap hal yang ghaib, maka keislaman seseorang akan batal. Dan itu sarat mutlak.

Contoh kematian orang-orang tua kita, kakek nenek kita, saudara-saudara kita, tetangga kita, anak-anak kita, tentu saja adalah bagian dari tausyiah (peringatan) berikutnya kepada kita bahwa benar-benar dunia ini adalah bersifat sementara dan tak ada yang abadi.

Bahkan sebagai pengajaran sebelum-sebelumnya – betapa sudah banyak bukti kematian manusia-manusia yang lain hampir setiap harinya selalu susul-menyusul menuju alam kematian.

Gampangnya, semua manusia tentu akan meninggal dan tidak ada yang abadi di dunia. Tidak ada harta dan kemewahan dunia nantinya yang bisa dibawa dan dipersembahkan kepada Tuhan.

Semua akan kembali kepada Tuhan dalam kondisi hanya terbungkus kain kafan. Tak berhelai baju dan dasi. Bahkan telanjang sama seperti saat kelahiran. Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun.

Istilah kematian, adalah salah satu bagian dari ujian hidup di dunia yang menyadarkan bagi mereka yang masih hidup, bahwa sebanyak-banyaknya kemewahan dunia yang kita dapatkan tentu akan ditinggalkan dan bersisa kenangan.

Hanya tiga persoalan saja yang yang nantinya bisa di persembahkan ke hadapan Tuhan; yakni amal-amal kita selagi masih di dunia yang bermanfaat, doa anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya, dan ilmu yang bermanfaat.

Menghadapi kehidupan dunia memang harus sangat berhati-hati. Perlu ada sandaran yang kuat akan agama bagi kita dan anak-anak kita. Tanpa berpijak pada hukum Tuhan, maka sangat ditakutkan anak-anak kita akan menjadi lemah.

Janganlah kamu meninggalkan generasi di belakang kamu, generasi yang lemah – “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9).

Bahasa wanti-wanti Tuhan ini sangat beralasan. Mengingat betapa cobaan dan ujian dalam hidup ini yang memang sangat tidak sedikit. Dan ia memang harus ada. Jadi kenapa cobaan dan ujian dalam hidup bagi manusia itu harus ada ? Di sinilah Tuhan akan mengangkat derajat hambanya yang bernama manusia.

Selanjutnya Tuhan anugerahkan akal yang sangat sempurna untuk membedakan kedudukan manusia dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain sehingga manusia menjadi mulia dan sangat terhormat.

Di samping memang sebagai ujian dan seleksi akan apakah dengan semua itu manusia akan bersyukur atau tidak. Semakin manusia pandai bersyukur akan nikmat-nikmat karunia-Nya maka janji Tuhan justru akan bertambah-tambah terus kenikmatan atasnya, tapi sebaliknya, apabila manusia tak pandai bersyukur justru akan berbalik menjadi kekufuran dan janji Tuhan, laknat yang pedih.

Setiap hari, sebagai manusia yang masih merasakan kehidupan dunia, tentu selalu menyaksikan betapa dunia ini penuh dengan limpahan rizki dan karunia-Nya. Begitu beriringnya berjuta-juta trilyunan rupa kenikmatan dunia tersebut tentu dibarengi sekaligus apa yang dinamakan dengan ujian hidup ini.

Hakikat ujian itu sendiri oleh Tuhan digambarkan sebagai bentuk seleksi alam, dalam rangka mencari sosok hamba-Nya yang berkualitas dan paripurna. Terpilihnya Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wasallam sebagai pribadi paling sempurna dan sangat terhormat adalah karena nabi Muhammad telah lolos ujian dunia 100% selama sekitar 63 tahun. Jika ada ‘abrasi’ kesalahan karena sifat manusia adalah lupa dan salah, itupun paling-paling 0.00000000000001%. Seperti contoh bagaimana nabi yang pernah ditegur Alloh karena tanpa sengaja kurang begitu memperdulikan ummi maksum yang datang kepadanya untuk belajar. Dan itu pun tentu sudah dima’fu (ampunkan) oleh Alloh. Karena nabi langsung istighfar. Bahkan benar-benar tidak akan pernah lupa dan salah. (QS. Al-A’la : 6 -7) :“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa, / Kecuali kalau Alloh menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”
Hingga katakanlah jika ada kealpaan 0.00000001%, Tuhan jadikan 0% kembali.

Back to ma’sum. Illa masya Allah. Beliau adalah makarimal akhlak. Pondasi bagi tegaknya keluhuran akhlak dan istiqomahnya ketakwaan. Tentu Alloh sangat menjaga kesuciannya.

Agar manusia selamat dari ujian yang diberikan Tuhan, sebenarnya atas kasih sayangNya –Tuhan telah membekali manusia itu dengan al-quran –sebuah kitab suci umat islam- yang berbicara sepenuhnya tentang pedoman-pedoman, jalan, langkah, cahaya penerang, rujukan maupun arah hidup bagi manusia ketika masih di dunia agar tidak tersesat di dalamnya.

Ya, dia (al-quran) adalah hudan –petunjuk- bagi orang-orang yang bertakwa. Sehingga Tuhan memberikan line yang jelas untuk manusia bisa masuk ke sorgaNya bahwa :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Albaqoroh : 214).

Dalam cerita pewayangan kita biasa menyebutnya dengan istilah Kawah Candradimuka. Jika ada pertanyaan, sebenarnya berapa banyak ujian yang ada dalam hidup ini ? Tentu sebagai manusia yang dhaif terlalu sulit untuk menghitungnya.

Yang jelas hampir setiap waktu setiap detik tugas dari manusia itu sendiri selama Tuhan masih menitipkan kenikmatan usia dan nafas, maka setiap waktu dan setiap detik itu pula manusia dihadapkan dengan fitrah yang namanya ujian hidup.

Dalam hal ini, kita bisa mengatakan, kalau hidup ini sebenarnya adalah masalah-masalah, dan tugas manusia selanjutnya adalah bagaimana bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut di setiap waktunya dengan sebaik-baiknya.

Ukurannya adalah, semakin manusia banyak berhasil menyelesaikan masalah yang menghadapnya, semakin banyak itu pula tingkat keberhasilan dan kesuksesan manusia. Semakin tinggi jabatan pekerjaan maka semakin tinggi nilai dan tanggung jawabnya.

Otomatis, semakin berhasil seseorang sanggup mengemban setiap masalah dan ujian hidup yang besar, maka posisi tingkat kehormatannya akan lebih berharga. Karenanya, jangan pernah menyamakan penghasilan presiden dengan tukang sapu.

Tingkat tanggung jawabnya yang sangat jauh berbeda itu penyebabnya. Maka orang-orang yang besar dan tinggi derajatnya, kebanyakan mereka telah mampu menghadapi sekian banyak rintangan dan ujian dalam hidupnya, banyak masalah kehidupan dunia yang berhasil dituntaskannya. Tidak ada kamus dalam sejarah, orang yang berhasil terjadi dengan cara sulap. Semua tentu berproses, sama-sama bergelut dengan ujian.

Untuk melihat bagaimana proses Tuhan menyeleksi semua makhluknya hingga terpilih sebgai satu-satunya manusia paling tersukses yang lolos 100% dari ujian-ujianNya. Dialah Muhammad sholallohu alaihi wasallam. Sosok tauladan nomer wahid di seluruh jagat semesta. Semua makhluk-Nya selalu bershalawat atas-Nya. Kecuali iblis laknatullah.

Kita bisa melihat bagaimana misteri penelitian akan Micro Deval (ASTM. D.6928-08) yang dimaksudkan untuk melihat dan mengukur tingkat keausan sebuah agregat yang diakibatkan oleh factor-faktor mekanis.

(Laboratorium Karebbe Hydroelectric Power Projec- malili-Sulawesi Selatan /Tested Micro Deval by Mustqiem Eska (MBT)/Balambano.)

Langkah-langkah pengetesan micro Deval , dimana setelah diambil sample , lantas dicuci dengan air menggunakan saringan #4 (4.75 mm). Kemudian sample dimasukkan ke dalam oven untuk dikeringkan selama 24 jam. Menyusul setelahnya dilakukan pemisahan sample berdasarkan fraksi dan timbang material (dibuat 2 buah specimen).

Lantas material yang telah dipisahkan berdasarkan fraksi tersebut kemudian direndam di dalam wadah berisi 2 (dua) liter air selama ± 1 jam. Kemudian menimbang bola baja yang perbiji seberat 1.3 gram sebanyak 5000 ± 5 gram (atau sekitar 3846 biji bola baja) dan dimasukkan ke dalam wadah baja Micro Deval berbarengan dengan material dan air rendaman.

Berikutnya kita tutup wadah baja micro deval dan melakukan setting waktu sesuai specimen A dan B. untuk A selama 120 menit atau 7200 detik. Dan untuk B selama 93 menit atau 5700 detik. Dilanjut dengan melakukan pencucian yang menggunakan saringan # 16, dan keluarkan biji bola baja yang telah digunakan (bisa menggunakan magnet) kemudian dioven selama 24 jam. Hingga terakhir, material lantas dikeluarkan dari oven, dan setelah didinginkan selama 1 jam lantas ditimbang hingga ditemukan seberapa jauh abrasi yang terjadi.

Dari proses Micro Deval tersebut, dapatlah kita menarik benang merah membaca betapa tersimpan misteri ketahanan Nabi Muhammad dalam menghadapi 3846 kali bentuk ujian (standar ukuran Micro Deval yang didapatkan dari 5000/1.3 = 3846)selama 63 tahun. Angka 3846 kalau dibagi 63 hasilnya adalah 61. Angka 6 kalau ditambahkan 1 hasilnya adalah 7. Dan 7 adalah rumus lapisan langit dan bumi, rumusan surat pembuka dalam al-quran (QS. Al-Fatihah). Sementara angka 61 jika dibagi bulan dalam satu tahun; 12, hasilnya adalah 5,8. Tentunya Angka lima adalah ujian hidup yang menyangkut sholat 5 waktu yang menjadi kewajiban umat islam.

Sholat adalah inti kehidupan umat islam yang paling mendasar. Bahkan Tuhan sangat tegaskan, batas antara muslim dan kafir adalah ‘tarkussholah’
(meninggalkan sholat). Sementara sisanya 0,8 adalah tambahan ibadah kepada-Nya yang berupa sholat-sholat sunnah Nafilah (baik qabliyah maupun bakdiyah).

Berikut gambar di bawah ini yang menjelaskan tentang betapa dalam hidup ini, manusia sangat tidak lepas dari ujian ketika di dunia :

Pertama; Garis yang melintang membentuk kotak bujur sangkar adalah gambaran tentang jatah ukuran kurang lebih standar umur manusia pada umumnya merujuk pada usia Nabi Muhammad yaitu 63 tahun. arah usia manusia, dengan garis-garis putus dan tidak teratur menunjukkan bahwa kematian bisa saja datang dalam waktu yang tak pernah terduga. Tidak mengenal batas usia dan tempat.

Terkadang seorang anak jusru mendahuli orang tuanya menghadap Tuhan, atau sebaliknya. Semua penuh rahasia.

Kenapa Tuhan merahasiakan umur manusia ? Semua adalah dimaksudkan untuk menjadikan agar manusia selalu bersiap-siap dan berhati-hati dalam menitih perjalanan di dunia. Tingkat kehati-hatian ini tentu sangat diharapkan Tuhan, bahwa manusia akan senantiasa selalu banyak berbuat amal shaleh.

Dengan membangun kebaikan-kebaikan dan kemanfaatan di atas bumi sebagai makhluk mulia yang bersifat rahmatan lilalamin. Selanjutnya terus menanamkan prestasi keinsanan yang optimal di segala ruang dan tempat.

Berfastabikhul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Langkah hidupnya menjadi lebih sempurna; karena ia akan hidup, belajar dan bekerja sebaik-baiknya di dunia seakan-akan hidup selamanya, beribadah sebanyak-banyaknya seakan-akan mati besok.

Kedua; Tanda panah searah berjumlah 12 (bulan) menandakan bulan dalam satu tahun terus merambat menuju batas garis kematian. Tidak ada istilah usia yang mundur atau menahan umur. Semua menuju titik kematian. Semakin hari semakin habis. Jadi dengan bertambahnya umur seseorang, sebenarnya itu adalah semakin berkurangnya jatah umur yang ditelah diberikanNya.

Ritual selamat ulang tahun seseorang di setiap tanggal kelahirannya, sesungguhnya itu adalah introspeksi yang sangat dahsyat yang harus diwaspadai dengan muhasabah (perenungan) yang mendalam, dengan pandai menghitung-hitung berapa berat antara amal yang telah dilakukan selama itu dengan apakah seseorang itu langkahnya masih tertinggal jauh dalam berbuat kebaikan?

Atau jangan-jangan dalam umur yang ada berat beban prilaku maksiat masih lebih berat. Karenanya ungkapan yang tepat saat ulang tahun adalah bukan “selamat ulang tahun”, tapi adalah “Semoga sisa umur bisa akan lebih bermanfaat”.

Ketiga; Garis-garis vertikal yang semakin merapat berjumlah ± 3846 adalah gambaran jumlahan banyaknya ujian untuk ukuran 63 tahun umur manusia. Pada garis pertama, tingkat ujian yang datang masih merenggang; itu karena dari masa kelahiran hingga persiapan memasuki masa baligh, tingkat hitungan amal belum dikira. Ini sejalan dengan hitungan beban kewajiban sholat lima waktu yang baru dibebankan kepada manusia muslim setelah masuk masa akhil baligh.

Hitungan akhil baligh bersandar kepada mulai sempurnanya akal dan pikiran seseorang dalam merasakan dan mengenal Tuhan. Oleh karena itu, setelah baligh(± setelah 9 tahun), kalau orang tua melihat anaknya tidak melakukan sholat, rasul menganjurkan – Agar dipukul -. Menyusul semakin bertambahnya umur, ujian akan datang semakin bertambah berat tingkat kwantitas dan kwalitasnya.

Anak-anak dengan orang tua tingkat ujian hidup yang diterima pasti berbeda. Semakin bertambah tua, sejatinya ujian akan semakin bertambah. Bisa saja bentuk ujiannya sama, tapi kadar kwalitasnya tentu berbeda. Begitu mendekat kepada masa memasuki akhir hayat, ujian kehidupan tentu terus bertambah. Bagaimana tidak, tingkat tanggung jawab hidup tetap tidak berkurang bahkan bisa jadi bertambah menebal, sementara standar fisik, akal dan kejiwaan kian menurun. Al-quran mengambarkan tentang rentetan usia, bahwa semakin tua seseorang akan kembali ke alam seperti alamnya anak kecil. Pikun dan mudah lupa.

Keempat; bahwa seiring dengan garis-garis vertical yang menembus ke bawah, di dalamnya sesungguhnya mengandung butiran gabungan dari titik-titik yang merapat membentuk garis. Butiran titik-titik itu sesungguhnya adalah jumlahan dari 5000 gram bola baja, dengan berat masing-masing butirnya ± 1.3 gram.

Dalam prosesnya, butiran-butiran bola baja itulah yang akan lebur dan larut bersama sample (material) berputar dalam wadah dengan kecepatan 7200 detik dan 5700 detik. Masing-masing wadah berputar kencang dengan cara berlawanan arah. Ini sangat sejalan dengan galaksi yang masing-masing planetnya berputar pada porosnya dengan begitu cepatnya. Sehingga untuk merasakan bergeraknya waktu terasa begitu tipis dan sangat lembut.

Sama seperti ketika kita melihat pergeseran bayang cahaya matahari. Ia merambat sangat halus. Hingga tidak terasa. Padahal sebenarnya ia bergerak dengan begitu cepatnya. Inilah bukti Maha Kuasanya Alloh Subkhanahu Wata’ala. Tuhan Pencipta alam semesta dan segala rahasia yang ada di dalamnya.

Kelima; Garis hitam menebal dan di sampingnya ada gambar kotak, sesungguhnya itu adalah batas ujian setiap orang ketika ia sudah sampai pada akhir hayatnya. Ia adalah Garis Kematian. Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun. Pada gambar kotak itu sesungguhnya adalah simbul kuburan. Bahwa setelah selesai menempuh pada batas ujian, ia akan kembali dicuci (dimandikan) untuk persiapan ditimbang amal-amalnya selama di dunia.

Jadi proses ujian pada manusia, jika berkaca pada test methode Micro Deval, bahwa untuk melihat kwalitas diri seseorang harus berani melakukan langkah-langkah yang penuh proses dan tingkatan. Misalnya ketika sample pada test micro deval itu direndam dengan air 2 liter dalam waktu ± 1 jam, ini sama halnya dengan persiapan seorang muslim adalah bersuci terlebih dahulu sebelum menghadap Tuhan.

Kemudian melakukan iktikaf selama 1 jam dengan perenungan-perenungan (muhasabah), menghitung –hitung diri. Seberapa banyak kebaikan yang telah dilakukan selama hidup, atau bertaubat segera atas dosa dan kesalahan selama hidup. Atau, I’tikaf bisa ditafsirkan sebagai masterplan untuk kehidupan mendepan yang lebih baik. Semua persiapan ini dilakukan tentunya dengan menanamkan niat yang benar-benar lurus lillah menghadapi hari esok berikutnya. Meluruskan tujuan hanya kepada Tuhan semata. Bahwa kita memang dariNya dan akan kembali kepadaNya.

Setelah dirasa sudah siap, berikutnya adalah kesediaan menghadapi ujian ± 3846 kali yang siap menghadang di depan sepanjang perjalanan usia. Jika sample pada material test Micro Deval mengalami abrasi (keausan) sesungguhnya itu adalah test atas ketahanan keimanan kita selama di dunia. Untuk melihat hasil yang baik, sample lantas dicuci dengan saringan #16 lantas dikeluarkan bola bajanya dan kemudian di oven selama 24 jam. Itu sesungguhnya adalah, sama seperti ketika Tuhan akan memilih hamba terpilihnya seperti rosululloh Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, Muhammad pun bersedia melakukan proses menghadapi ujian seperti di atas dan menutup hidupnya dengan puasa disetiap ramadhan.

Hingga pada Idul fitri, rosululloh benar-benar terlahir sebagai sosok yang sangat bersih dari dosa, lolos menghadapi ujian hidup dengan tingkat abrasi 0%, yang berarti bahwa Muhammad sholallohu alaihi wasallam adalah makhluk sempurna dan paripurna 100%. Berakhir kehidupannya dengan khusnul khatimah. (*)

 


Info Covid-19 Propinsi Sumatera Selatan


TOTAL POSITIF

736

ORANG

Positif

TOTAL SEMBUH

102

ORANG

Positif

TOTAL MENINGGAL

25

ORANG

Positif

Sumber Data: Kementerian Kesehatan & JHU melalui API Kawal Corona Baca disini untuk pasang di Wordpress

Leave a Reply

Please Login to comment