Ketika Zuhur hampir lenyap..

  • Bagikan
kumpul di musholah
baitul makmur

 

‘KELUAR…!!! KELUAR…!!! KELUAR…!!!”, begitu suara teriakan dari jalan antar blok di depan rumah blok f22, perumahan GSC. Gedubrak…. !!!, aku langsung tersentak dan membuka pintu. Karena perumahan GCS rumah bertype sederhana lahan yang tidak terlalu luas, jarak bangunan antar tetangga cuman berbatas tembok sehelai rambut saja. Sangking sangat dekat, bisa juga aku katakan jarak antara kamu dengan urat leher mu saja.

“Ada apa ini…!”, sontak saja aku berteriak ke arah kerumunan anak anak dan ibu ibu tidak ada bapak bapak. “Mister harus bertanggung jawab..!” “kami tidak terimah…!!! Mister harus kami laporkan ke KOMNAS anak..!, teriak salah seorang ibu yang rambut pendek badan besar, terlihat sekali gigi depan menyeringai, sehingga aku berdiri aku menatap dia. Sementara suara yang lain nya bersahut sahutan, “kena kau mister…!!! kena kau mister…!!!

gcs kelompok tani

Tiba tiba, wuwut …! wuwut..! wuut…! Aku langsung sambar hp china tergeletak disamping laptop. Haloo..! “Oi mister ada Rey gak disitu..?”, telpon suara si Maulana yang telpon. Aku jawab, “gak ada..!. “Oke la mister cuman tanya Rey aja.., trims ya, entar aku telpon lagi…”, dia tutup telpon. “Siippp..”, aku jawab dia singkat sekali. Kembali aku tatap laptop dan baca ulang sampai disitu konflik yang aku buat dan beberapa karakter juga plot sudah agak jelas. Ide dan tema juga sedang bersemayam ni di di otak aku. “Sandi..benarkan ini orang nya..?!” “Dia kan yang usir kamu sama semua anak anak perumahan ini…?!”, teriak ibu yang kecil agak kurus sinset umur diatas empat puluh tahunan. Wajah ibu yang satu ini juga cukup beringas di mata ku.

Baca Juga :  Perkara Nilai

Sekali sekali aku lihat ada penampakan dua tanduk diatas kepala nya. Sambil kutatap teriakan nya itu, rambut awut awutan, dari dalam mulut nya seolah olah mengeluarkan lidah merah memanjang seperti lidah ular naga. “Ah..”, kuteguk sekali lagi dan itu tegukan kopi terakhir yang memang kopi sisa tadi pagi. Dan aku harus tugas Negara dulu…!”, melangkah aku keluar sambil meraih kunci motor.

Siang itu agak terik, laptop diatas meja masih menegadahkan keypad nya keatas, menunggu genjotan jari jari tangan ku. “Zuhur hari ini bentar lagi lenyap kupikir, tapi cuman sebentar aja kok, gak bakalan lama..”. “Ya dia orang nya..!” “Dia sudah tua gak kayak bapak bapak yang lain..!”. “Kami kan cuman main main..!” “Masak gak boleh..!” “Bapak jangan gitu lah…!” “Sandi anak saya…”, teriak perempuan yang satu lagi.

warga gcs bersihkan sungai

Perempuan ini tubuh nya agak gempal, tangan nya mengenggam sebatang sapu plastic. Dia juga tidak kalah seram nya. Tongkat sapu nya itu sekali mengeluarkan cahaya seperti tongkat mak lampir yang diujung nya itu tampak seperti tongkorak manusia kerdil. Rambut nya panjang terurai dibiarkan nya terurai sekali sekali menutup sebagian wajah nya. Badan nya seperti bergoyang goyang seperti lady rocker. Suara suara kian gemuruh, banyak sekali yang berdatangan menyaksikan kejadian ini.

Baca Juga :  Potongan Senja

“Wah ini main hakim sendiri dan kenapa mereka bisa kompak dan ramai banget…”, malu bercampur marah dan gak tahu apa yang bisa aku lakukan. “Aku kan cuman emosi sejenak saja waktu itu.” “Musholah itu tempat ibadah, kita orang orang tua mau mencari ke khusukan dalam ibadah..” “Anak anak seperumahan itu sewaktu sholat tiba mereka memang memenuhi syap syap, tapi ribut nya mintak ampun, mereka sering kali main main sambil sholat”. “Aku mau beri pelajaran saja, tidak maksud untuk mengusir mereka..” “Usia mereka memang seperti itu hanya pembiasaan hal hal yang baik, jika magrib ya ke musholah, belum mengerti apa itu khusuk dalam ibadah..” “Orang tua mereka tidak mengetahui perilaku anak anak mereka..” “Tapi sepengetahuan aku masjid kampung sebelah tentram dan teratur anak anak disana pada penurut tidak bikin ribut..!”. Lantas dimana ini titik solusi nya?

Baca Juga :  Hidup Indah Jangan Kau Kotori

Tiba tiba, tong tong tong..!, perempuan yang tubuh gempal itu menghantamkan sapu nya kepagar. “Ayo mister kita ke rumah pak RT untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu..!”, teriak dia. “Ah..tadi mau ke KOMNAS Anak..! sekarang berubah lagi mau ke Pak RT.., pak RT kan gak ada di tempat. Seperti nya Zuhur hampir lenyap, aku harus lapor dulu.

Bukit baru, 2/03/17

 

 

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan