[tds_menu_login inline="yes" guest_tdicon="td-icon-profile" logout_tdicon="td-icon-log-out" tdc_css="eyJwaG9uZSI6eyJtYXJnaW4tcmlnaHQiOiIyMCIsIm1hcmdpbi1ib3R0b20iOiIwIiwibWFyZ2luLWxlZnQiOiI2IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwaG9uZV9tYXhfd2lkdGgiOjc2N30=" toggle_hide="eyJwaG9uZSI6InllcyJ9" ia_space="eyJwaG9uZSI6IjAifQ==" icon_size="eyJhbGwiOjI0LCJwaG9uZSI6IjIwIn0=" avatar_size="eyJwaG9uZSI6IjIwIn0=" show_menu="yes" menu_offset_top="eyJwaG9uZSI6IjE4In0=" menu_offset_horiz="eyJhbGwiOjgsInBob25lIjoiLTMifQ==" menu_width="eyJwaG9uZSI6IjE4MCJ9" menu_horiz_align="eyJhbGwiOiJjb250ZW50LWhvcml6LWxlZnQiLCJwaG9uZSI6ImNvbnRlbnQtaG9yaXotcmlnaHQifQ==" menu_uh_padd="eyJwaG9uZSI6IjEwcHggMTVweCA4cHgifQ==" menu_gh_padd="eyJwaG9uZSI6IjEwcHggMTVweCA4cHgifQ==" menu_ul_padd="eyJwaG9uZSI6IjhweCAxNXB4In0=" menu_ul_space="eyJwaG9uZSI6IjYifQ==" menu_ulo_padd="eyJwaG9uZSI6IjhweCAxNXB4IDEwcHgifQ==" menu_gc_padd="eyJwaG9uZSI6IjhweCAxNXB4IDEwcHgifQ==" menu_bg="var(--news-hub-black)" menu_shadow_shadow_size="eyJwaG9uZSI6IjAifQ==" menu_arrow_color="rgba(0,0,0,0)" menu_uh_color="var(--news-hub-light-grey)" menu_uh_border_color="var(--news-hub-dark-grey)" menu_ul_link_color="var(--news-hub-white)" menu_ul_link_color_h="var(--news-hub-accent-hover)" menu_ul_sep_color="var(--news-hub-dark-grey)" menu_uf_txt_color="var(--news-hub-white)" menu_uf_txt_color_h="var(--news-hub-accent-hover)" menu_uf_border_color="var(--news-hub-dark-grey)" f_uh_font_size="eyJwaG9uZSI6IjEyIn0=" f_uh_font_line_height="eyJwaG9uZSI6IjEuMyJ9" f_uh_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9" f_links_font_size="eyJwaG9uZSI6IjEyIn0=" f_links_font_line_height="eyJwaG9uZSI6IjEuMyJ9" f_links_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9" f_uf_font_size="eyJwaG9uZSI6IjEyIn0=" f_uf_font_line_height="eyJwaG9uZSI6IjEuMyJ9" f_uf_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9" f_gh_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9" f_gh_font_size="eyJwaG9uZSI6IjEyIn0=" f_gh_font_line_height="eyJwaG9uZSI6IjEuMyJ9" f_btn1_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9" f_btn1_font_weight="eyJwaG9uZSI6IjcwMCJ9" f_btn1_font_transform="eyJwaG9uZSI6InVwcGVyY2FzZSJ9" f_btn2_font_weight="eyJwaG9uZSI6IjcwMCJ9" f_btn2_font_transform="eyJwaG9uZSI6InVwcGVyY2FzZSJ9" f_btn2_font_family="eyJwaG9uZSI6IjUyMyJ9"]

Ini Caranya Pulang Kampung Lewat Medsos

BerandaSastraIni Caranya Pulang Kampung Lewat Medsos

Published:

Palembang, localhost/server/gkx-Sudah lama  kegiatan tulis menulis aku tinggalkan. Itung itung lebih kurang 3 bulan. Musabab terlalu mematok nilai tinggi, ide ngeblenk, juga terlalu sibuk urusan perut.

Berangkat dari sebuah grup medsos berisikan saudara saudara sedulur (broyot) berisikan teman masa kecil sanak tetangga yang tersebar dimana mana. Tampak sekali ruh dan semangat grup medsos ini yakni Semangat untuk merekatkan ulang tali temali komunikasi.

Merajut jaring jaring yang terputus karena tuntutan dan persoalan hidup. Aku merasakan hal itu bukan hanya exist nyir nyir yang mengundang underestimating (memandang rendah) di mata orang yang tidak suka. Lebih dari itu ada gairah melampiaskan kerinduan masing masing dengan biaya murah, cukup instal aplikasi minta ditambahkan pada grup grup medsos itu.

Jika aku kenang masa masa itu, semenjak tahun 1989 era orde baru, kampungku tidak ada sekolah SMA nya. Yang menjadi salah satu alasan urbanisasi kami dari kampung ibu kota provinsi. Tetapi anggota lain di grup itu ada yang sudah meninggalkan kampung semenjak tahun 1965, 1982, 1985 dan sebagai nya dengan alasan yang berbeda.

Jangkah waktu yang sudah cukup terlalu lama. Tentu sudah tidak bisa saling mengenal atau memang belum kenal sama sekali cuman jika ditanya rumah nya dekat dengan rumah siapa? kampung berapa? dan seterus nya.

pulang kampung lewat medsos

Sejarah peradabaan manusia di bumi manapun juga mencatat bahwa factor tertentu lah kenapa suatu kelompok masyarakat untuk tinggal menetap dan berpinak pinak di suatu daerah tertentu.

Begitu juga hal nya di era digital ini. Dengan beraneka ragam aplikasi yang ada sebagai pilihan masyarakat cyber atau penimat internet (netizen) untuk berkomunikasi pastinya dengan alasan tertentu pula lah mereka membentuk peradaban di dunia digital dan membentuk grup grup macam macam nama nya.

Lalu kenapa mereka ada di grup ini yang berisikan ‘Broyot’ dan mau dimasukan di grup Medsos tersebut? Secara sederhana karena mereka cinta kampung halaman. Mereka merindukan peradaban dan kebiasaan kampung nan arif yang apa adanya. Pergi  ke sawah dan kebun, naik perahu, main air di sungai, menangkap ikan, seluncuran di tebing pinggir sungai dan lain sebagai nya.

Ada banyak hal yang asyik jika mengingat masa anak anak di kampungku. Ada kebiasaan dan sudah menjadi musiman ketika air naik, kami menyebutnya ‘Ayek dalam’. Semua jalan jalan kampungku tertutup air. Tranportasi yang bisa digunakkan hanya perahu.

Mata pencaharian yang bisa support kebutuhan hidup hanya ‘talang’ dan menangkap ikan. Dari hasil tangkapan itu bisa dijadikan ‘balur’(ikan Asin) ‘salai’ (ikan Asap) dan ‘pede’(red-jenis ikan awetan khusus). Semua nanti di jual di ‘kalangan’ (Pasar Mingguan), uang nya digunakan tuk kebutuhan lain sehari hari. Macam macam sebutan cara menangkap ikan dan alat yang aku gunkan di kampung ku, ‘najur, nyaring, nyale, merawai, ngeces, nyerampang dan lain lain.

pulang kampung medsos

Masyarakat kampung terbiasa dengan dengan hal semacam ini. Apa lagi pada waktu itu masih era Orde Baru. Masyarakat tidak ada yang berani merengek rengek dengan pemerintah meminta bangunkan jalan. Minta bangunkan facilitas ini dan itu.

Kami masyarakat kampung sudah terbiasa kok. Kami bersahabat dengan alam dan alam merupakan bagian dari kami.

Banjir bukan bencana bagi kami kala itu. Kata bencana pun baru baru ini saja marak digunakan, entah kenapa. Mungkin saja masyarakat saat ini suka dengan hal hal yang berlebihan. Lihat saja perilaku pengguna jejaring sosial saat ini ( mohon maaf jika tersinggung).mungkin yang baca tulisan in bukan termasuk golongan yang dinaksud ya hihi.

Menurut pengamatan bahasa satire / satir (sindiran) sering kali dijadikan status. Apakah itu tidak dianggap berlebihan? Itukan memancing rasa dongkol seseorang, benarkan? Ada lagi semua giat yang berbau menonjolkan diri diapload apakah itu gak ngundang rasa ngiri? Bukan kah sederhana itu mulia maaf ya ini pesan titipan Aa gym, aku tidak punya kapasitas itu, tetapi surat Al Asry insyAllah hapal sedikit plus terjemahannya soal nya guru SD ku dulu pakai rotan jika tidak hapal ayat ayat pendek termasuk Al Asry.

Dengar dengar di grup medsos tersebut ada anggota yang mengajukan diri tuk andil dalam Pilkada. Tentu saja pasti dia tangguh dimata ku, karena dia merasakan sendiri dan ditempah tuk perduli dan bangkit menunjukan pada dunia bahwa orang kampung tidak kampungan dan fakta nya calon ini ketua DRPD sekarang ini.(Red bukan Adv)  Itu intermezzo saja ya sob.

Suasana kehidupan dikampungku selalu berselimut dan berpagut dengan pekat malam yang tidak ada listrik nya pada waktu itu. Lampu StrongKing paling yang terbaik bergelayut di ruang keluarga, itu pun dipakai sampai sholat Isya saja. Lampu Templok lah yang lah sangat setia hingga pagi nongol esok hari nya.

Televisi hanya beberapa gelintir saja di Kampung ku waktu itu. Dengan tenaga baterai mobil selalu di cas oleh Kakcik Kidin ke tempat Wak Yaman nama pemilik tempat ngecas baterai itu. Tiap 2 hari sekali dia menjinjing baterai nya dengan sepeda onta nya. Seingatku ada 2 tempat nonton TV di kampungKu, rumah Wak Yati, saudara tertua dari Kakcik Kidin (nama nya Anang Yati) keluarga pembuat perahu dan Pembarap Dani, pemimpin kampung(Pembarap sebutan Kades).

Merasakan tamasyah pada masa lalu di kampungku tidak harus mudik jika memang tidak memungkin kan, cukup dengan click loading di Medsos sampai juga ke kampung kita. Bukankah Tamasya juga kebutuhan Tertier. Obama saja mau pulang kampung.

Di grup Medsos ini sering kali muncul pertanyaan saling berkenalan. Anak sape Nang kau? Sape name Bak dan Mak kau? Sanak kau sape sape?Terjemahan nya lebih kurang kamu anak siapa? Nama ibu dan ayah kamu siapa? Mungkin saya kenal saudara dekat kamu siapa? Sentuhan rasa dan bahasa nya terkadang kurang pas dengan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Ungkapan panggilan anak sulung hingga bungsu punya cerita sendiri di artikle selanjut nya tentang kampungkku ini. Kita lanjut ya.

Ada kebanggaan tersendiri, bahwa orang orang kampung ku itu orang orang hebat. Yang baca tulisan ini yang bukan orang kampungku tidak diizinkan tuk nilai ini norak overacting lah, karena ungkapan ini hanya semata mata tuk membakar semangat kami kami dari kampung yang sama. Kebiasaan kebiasaan yang sama pula pada masa itu.

Perlu ku tulis juga disini, bukan berarti kami orang kampung orang sudut atau endeso. Yang tidak kalah penting lagi, bukan juga kami orang orang anti-NKRI dan non-absurb terhadap dunia lain. Tetap pepatah moyang kita orang Indonesia dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Terbukti orang kampung ku banyak juga menikah dengan orang Jawa, Batak, Bugis, Papua, Kalimantan bahkan dengan Arab, China dan lain lain.

Kenapa aku katakan seperti itu, ada tulisan yang pernah aku buat di media nasional bertema kampung seperti ini, aku di rendahkkan dengan kata orang kampung. Walaupun dia sampaikan dengan bentuk artikel juga dangan sarkasme.

Tapi tak apa lah, karena kegiatan tulis menulis adalah kegiatan intelektualitas. Ini berarti aku orang kampung secara intelektual aku dipacu untuk lebih baik lagi. Dengan menulis bualan ini aku sangat yakin bahwa pendidikan yang arif yang membentuk jiwa jiwa yang tanggu itu ada di kampung kampung. Termasuk di kampungKu. (ASJ)

 

– March 03, 2018

 

 

 

 

 

hut kopri ke 51 hari kopri hari pahlawan hari pahlawan bantuan hukum grand fondo, danau ranau grand fondo, danau ranau sumpah pemuda, dinas pu sumpah pemuda, bappeda sumpah pemuda, bpkad hut kabupaten pasuruan hari jadi ke 1093 kabupaten pasuruan hari kesaktian pancasila peringatan kesaktian pancasila

Jendela Sastra