Mengintip Budaya Malu dan Penegakan Hukum Sosial di Teluk Kijing

  • Bagikan
Toilet terapung (credited Kompasiana)

Palembang, gesahkita.comSungai Musi yang membela Kota Palembang adalah bagian hilir saja. Entah bagaimana kita selalu abaikan hulu yang tua rentah kurang tersentuh pembangunan. Sering kali kita yang tinggal di Palembang diingatkan apa bila musim hujan sebagian pinggir kota Palembang ini penuh air. Itu karena luasan sungai Musi yang ada di kota ini tak mampu menampung kiriman air dari 9 anak sungai Musi dari hulu hulu sana. Selain memang banyak nya hilang anak anak sungai di Palembang ini, plus pola hidup serakah serta aturan aturan yang ada tapi diabaikan.

Sebut saja Sembilan anak anak Musi itu  Sungai Rawas, Sungai Batang Hari Leko, Sungai Enim, Sungai lematang, Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Rupit dan Sungai Lakitan. Itu lah sebab nya jika pernah mendengar irama musik asli Sumatera Selatan dengan sebutan Irama Batang Hari Sembilan (Batang Hari bahasa asli Sumsel Artinya Aliran Sungai atau Sungai).

Di tepi-tepi Sungai Musi terdapat log log (gelondongan) kayu berukuran rata-rata 2 meter Diameter masing-masing kayu tidak sama. Yang penting gelondongan itu dapat membentuk rakit kecil. Yang bisa mengambang di atas air. Maka kadang gelondongan itu ditumpuk-tumpuk dengan maksud untuk membuat rakit itu tetap mengapung. Di bagian ujung hilir dibuat ruang tertutup yang ada pintunya sehingga menyerupai bilik. Bilik ini digunakan untuk termenung dan BAB (Buang Air Besar atau sering disebut ‘bong’). Secara keseluruhan rakit yang ada batangnya ini disebut ‘batang‘. Bahasa Indonesianya adalah toilet terapung.

Baca Juga :  Perkara Nilai

Batang tersebut selalu disandarkan di tepi Sungai Musi. Dia setia mengikuti musim. Bila air Musi naik, maka ikut naik pula batang-batang ini. Begitu pula sebaliknya. Di ujung hilir dan hulunya selalu diikat tambang, sehingga dia tidak hanyut atau nabrak batang batang milik tetangga sebelah kiri dan kanannya. Pada batang-batang inilah masyarakat setempat banyak mengandalkan aktivitas mencuci, mandi, dan menyandarkan perahu. Bahkan hingga urusan Buang Air Besar (BAB) pun mereka lakukan di bilik ini. Karenanya, batang seakan menjadi rumah kedua bagi masyarakat kampung di tepi tepi sungai Musi.

Yang unik nya, satu batang dapat dipakai oleh empat hingga lima keluarga. Dengan demikian, penggunaannya masih tetap bergiliran sehingga terbentuk sendiri budaya antre, saling pengertian dan bersabar.

Sebut saja salah satu dusun dusun itu misal nya Teluk Kijing, kaum perempuan dan laki laki di Desa yang punya cerita ‘tanah boleh dimakan’ dan diapit oleh dua kramat besar kepuyangan yaitu ‘Puyang Saw’ dan ‘Puyang Makan Paku’ ini tetap masih menggunakan batang yang sama untuk beraktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK). Ketika mandi para perempuan biasanya hanya memakai selembar kain (sewet, telsan) yang diikat hingga dada. Tidak memakai baju. Ketika mandi, kaum perempuan tetap waspada bergerak.

Baca Juga :  Nilai Edukasi Sastra Tutur ‘Dempo Awang’ Lahirkan ‘Tanampo Sakti’

Gerakannya tidak boleh berlebih-lebihan. Para ibu-ibu kerap membimbing anak-anak perempuannya. “Payo Pik telsan kau jangan tinggi igek..!” (Jangan terlalu tinggi angkat kain nya nak…!)

Kenapa tradisi mandi ini masih berlangsung hingga kini? Padahal urusan mandi dan bilik termenung itu kan sifatnya privasi, rahasia? Ya memang dari dulu seperti itu. Menurut cerita, warga kampung tersebut berasal dari kakek dan nenek yang sama (bahasa lokal, kakek disebut gede). Karena itulah mereka tidak singkuh-singkuhan (rasa malu).

Siapa yang berani nakal atau ‘panjang mata’ akan dapat hukuman adat keluarga. Dan di sana memiliki kepercayaan bahwa hukum adat masyarakat dan hukum alam bisa mengutuk. Misalnya yang terjadi, apabila ditemukan seorang laki laki atau masih lajang berani menatap para perempuan terlalu lama maka di sekitar matanya akan muncul benjolan kecil (bintitan). Hukuman lainnya, setelah melalui pengadilan keluarga atau adat, Si Pelaku akan dikucilkan secara sosial dan dicap stempel sebagai tukang intip.

Baca Juga :  Fungsi Perpustakaan Tetap Mencerdaskan, Inovasi Dibutuhkan  Menarik Minat Baca

Pengintip ini biasanya juga disebut “kalui”. Kalui sesungguhnya adalah nama ikan sungai yang selalu hadir berseliweran di bawah “bong” tadi dan suka menyambar sesuatu yang jatuh dari atas dengan rakusnya. Maka, tidak menjadi rahasia lagi dan bahkan menjadi buah bibir, bahwa nama seseorang pelaku Panjang Mata itu biasanya akan ditambahkan kata ‘kalui’ pada akhir namanya. Misalnya Zainal Kalui, Asnawi Kalui, dan sebagai nya.

Seandainya saja proses law enforcement atau penegakan hukum di negeri ini kurang melahirkan efek jera terhadap kejahatan korupsi atu penyalahgunaan uang negara, mungkin hukuman adat  atau hukum social ini bisa dicoba. Bisa jadi lebih ampuh dari ancaman hukuman mati dan bisa mengurungkan niat orang untuk melanggar hukum.

Mengapa kita tidak mencoba menyematkan nama kejahatan di KTP pelaku. Dengan begitu, mungkin akan muncul budaya malu. Ya soal nama belakang harus sesuai dengan kasus, misalnya Afflek Tukang Korupsi, Arnold Tukang Madat, Ronald Tukang Begal, Borries Tukang Suap dan (maaf jika contoh namanya sama dengan nama Anda). Semogah tulisan ini menjadi inspirasi penegakan budaya malu di negeri ini.(red)

 

 

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan