Memimpin Tak Seperti Bikin Sambal Cengeh

BerandaSastraOpiniMemimpin Tak Seperti Bikin Sambal Cengeh

Published:

Apa Merasuki diri pemimpin?

ilustrasi bikin sambal cengeh

 

Palembang, localhost/server/gkx–Memimpin kata mendiang presiden orang suku kijing tidak seperti membuat sambal cengeh yang cukup dengan cabe dipirik sama garam kasar terasi dibakar diperapian kayu bakar pohon mersepang. Memimpin di zaman demokrasi ini tak ubah nya dengan menahkodai kapal dengan membawa misi dan visi sebagai tujuan akhir sebuah expidisi yang tentu saja pastinya menemukan kendala, hambatan, tantangan, rintangan baik itu cuaca dan iklim, rute kedalam dan ketinggian ombak, angin dan terik maupun juga perompak laut semua yang jadi faktor external.

 

Begitu juga faktor internal sang pemimpin itu sendiri, mulai dari keadaan fisik kapal lambung mesin dan semua kompanen pelengkap pendukung kapal. Selanjutnya juga penumpang kapal sendiri apakah itu kru, juru mudi, masinis, dan orang orang seputar sang nahkoda setidak nya sang penasehat nahkoda yang miliki kemampuan melihat lebih jauh apa apa saja yang bakal terjadi jika bertindak seperti ini dan itu, memiliki kemampuan memandang segala sesutau dari beberapa sudut dan aspek yang berbeda pula. Ini bukan berati juga sang nahkoda tidak memiliki hal hal itu, cuman sebagai pengambil keputusan terkadang pribadi seseorang itu masuk ke wilayah gamang berpikir dan bertindak dan itu manusiawi.

 

Makanya pada saat awal memegang kunci kendali kapal  sangat penting menentukan siapa siapa yang bakal menduduki jabatan sebagai masinis, juru masak, rope man, dan sebagainya. Namun ada kendala trending dengan sebutan politik atau taktik bagi bagi kursi atau politik bagi bagi kekuasaan yang diharapkan sebagai penyumbang energi bagi kekuatan dan kepercayaan sang nahkoda, ini justru berbalik orang orang itu hanya bisa menjadi beban muatan kapal yang sedang berlayar menuju tujuan akhir yang sudah diteken sang nahkoda sebagai target dan harga mati.

 

Seni Memimpin

Dalam banyak teori managemen secara sederhana nya ungkapan “management is an art”, kita yang awam akan bagaimana mengendalikan, mengontrol dan mengawasi kinerja tim pada wilayah dan bidang tertentu pemimpin yang piawai tidak mau terlalu sibuk menimbang nimbang perencanaan, implemntasi lalu output, karena sangking sibuk nya. Maka pemimpin bukan tidak mungkin masuk ke wilyah  meja judi “ gambling’ berspekulasi dengan menunjuk seseorang yang tidak tepat pada posisi tertentu dalam tim nya. Maka yang terbaca adalah seni pemimpin atau pola kepemimpinan seperti ini paling banyak kita temui dengan pemahaman “trial error”. Seperi permainan bongkar pasang, sibuk juga ternyata.

 

Multy Roles

Jangan disalah artikan pemimpin sebagai karakter yang bisa berpura pura dalam hal ini. Pemimpin yang menggunakan segala rasa dan pikiran serta logika, pemimpin yang tangguh bertangan besi, tetapi juga lembut fleksibel menuntut kejujuran tim. Tajam menganalisa persoalan tak gampang percaya dengan bualan tim yang suka pura pura baik dimuka, sebenarnya menutupi kekurangan nya. Hal hal sederhana dan mendasar ini lumrah dimiliki tiap manusia. Karena ada nurani bertengger disisi bagian ini, dan tak perlu menghabisi waktu bertahun tahun kuliah, mengunyah buku buku akademis, dan kursus kursus hanya buang buang waktu tak karuan.

 

Hal yang sederhana seorang ayah sesekali bisa memerankan diri sebagai seorang ibu disaat berdua saja saat ibu ke pasar. Sang ayah bisa juga menyuapi sang putra/ putri kesanyangan nya, bukan kah itu karakter atau peran berubah. Itu lah nurani seorang ayah terbiasa dengan kejujuran terhadap sang buah hati. Lantas kaitannya dengan memimpin rakyat? Sama saja rakyat butuh kejujuran, maka rakyat harus dirangkul jangan dibohongi. Lantas siapa yang membisikan pemimpin untuk tidak jujur pada rakyat nya? Itu lah pertanyaan besar nya. Sudah menjadi budaya baru.

 

Diksi diksi bohong berarti tidak berkata dengan sebenarnya. Jujur diartikan apa adanya. Lalu menipu adalah mengelabui untuk tujuan tertentu, bisa itu menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan, sifat nya manipulatif. Jika kita perhatikan disekeliling kita adakah sifat sifat manipulatif itu? Apakah kita juga memakai nya sebagai pakaian kita sehari hari? Ya anggap saja ini sebagai auto kritik bagi kita semua dan perjalanan masih panjang mumpung masih ada waktu berbenah. Sebagai rakyat yang punya harapan besar pada pemimpin, pada bahu bahu kokoh sang pemimpin. Memimpin tidak seperti membuat sambal cengeh, sampai disin. Salam, Macan Lindungan, Palembang, 28/09/19

 

 

Berita Terbaru

selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha

Jendela Sastra