Gerakan Mahasiswa Palembang 1998 Vs 2019, Bagaimana Melihatnya?

  • Bagikan
gerakan mahasiswa 1998 vs 2019 bagaimana melihatnya gesahkita com

PALEMBANG, GESAHKITA COM–Soal sebutan UMP atau Universitas Muhammadyah Palembang dari zaman 98 kala itu era memasuki reformasi kampus di wilayah Plaju Palembang ini termasuk kampus vocal yang dalam artian banyak gerakan nya apalagi yang kala itu di Palembang tempat kuliah nya masih sedikit

Dari penelusuran gesahkita.com sempat bincang dengan salah satu praktisi yang sempat ngabdikan diri nya di UMP ini ya secara kebetulan diri nya juga ikut juga soal gerakan semasa masih mahasiswa walaupun cuman sekedar ikut ikutan candana nya.

Dia juga menuturkan di Kampus UMP itu banyak organisasi mahasiswa, misal nya soal pecinta alam, masing masing  fakultas miliki pecinta Alam yang berbeda beda nama nya, kenang dia.

Memotivasi mahasiswa untuk cerdas berorganisasi bukan hanya cerdas secara akademis saja ada lah hal penting bagi nya untuk disampaikan. Bagi dia sandangan nama mahasiswa itu akademisi dan kritisi.

Kala itu dia sempat tercebur dalam gerakan mahasiswa, dia tidak sebut kan namanya.

Berkumpul nya  para mahasiswa dengan pola kampanye gerakan yang dinamai Pijar waktu itu. Aktivis pijar ini keluar masuk dari satu kampus ke kampus lain nya dengan tujuan satu yaitu reformasi dia menirukan aktivis Pijar itu.

gerakan mahasiswa 1998 vs 2019 bagaimana melihatnya gesahkita

Cara cara one get one, dia menjelaskan jika dapat satu orang mahasiswa untuk bergerak bersama dalam gerakan reformasi, baginya sudah lumayan dia beberkan.Dia lupa nama teman teman dari Pijar itu, ada nama nya Lusi,Rini sama Sofuan dan Ferdi entah dimana rimba nya.

Ada lagi Adik satu tingkat kampusnya Kenny dan Hendra buat nama gerakan ‘Frabam’ (Front Aliansi Masyarakat Menggugat) dan untuk gerakan Mapala satu tingkat diatas nya ketua Mapala si gondrong Beni, jago orator dengan jejaring aktivis lingkungan kala itu. Dia sebut bernama lengkap Beni Herneidi.

Baca Juga :  Kisah Pelukis Jalanan Kandas Asmara, Sketsa Wajah Pada Jalurnya

Satu lagi sosok senior Novian Paiman, dia promtori anti races, ada gerakan yang sempat terbaca hari itu. Ketika hari belum menjelang tengah hari masa bergerak  dari arah lapangan studio  kamboja menuju perguruan methodist. Sempat menerimah hujanan batu, secepat kilat almamater mahasiswa yang jadi benteng lumayan ampuh pukul mundur kerumunan itu.

Rasukan anti china bak virus waktu itu, mengutip sohib nya Welly Ardiansyah miliki falsafah kuat sewaktu dalam gerakan. Dia tuturkan juga idealisme sama sama sohibnya harus nikmati jam malam terpaksa jalan kaki Kiloan meter, kendaran umum lumpuh sepeda motor barang mewah bagi kelas mahasiswa yang untung untung masih bisa kuliah.

RRI kita duduki 5 tokoh agama di Sumsel sepakat sumsel anti rasis. Setelah sore nya gereja katholik seputaran atmo SMA Xaveirius 4 kita jadikan markas konkow dimotori Novian Paiman buat aksi Polda dan RRI.

Dahulu, lembaga yang kuat dengan kajian dan diskusi sekaligus markas gerakan mahasiswa membangun diskusi bersama dengan agenda kuat reformasi ada di LBH Palembang. Sederet nama nama itu masih jadi saksi, Ali khadapi dari Tridinanti, Dhabby K Gumara, Nurkolis, Yophy Bharata, Sulyaden, Lis Walhi, Eti Gustina, Jamaludin Aproni, bersama penulis seniman Anwar Putra Bayu sempat terimah intimidasi pasukan Brimob Polda Sumsel 21 tahun silam (maaf nama nya gak semua ketulis)

Pecah nya amarah mahasiswa kala itu jadi klimaks, teman satu gerakan Mahasiswa IBA yang dimotori Askolani, (alm) Meyer harus meregang nyawa berhadapan dengan preman berbaju Pemuda Panca Marga (PPM) saat aksi di depan Markas Kodam Ii Sriwijaya.

Baca Juga :  Mahasiswa UBD Berhasil Membuat Inovasi Kuliner Berbasis Cita Rasa Khas Palembang

Masih terkenang pada praktisi ini, kata dia Mereka (mahasiswa) mengajak dengan potongan kalimat argumentatif  salah satu nya, ” jika kita selesai kuliah apa ada jaminan kita kerja jika keadaan seperti ini terus?”.

Dahulu kumandang KKN itu sangat sentral bebernya.
Kroni pemerintah berkuasa, Korupsi Kolusi Nepotisme diksi ini kuat yang sering jadi bahasa sehari hari dalam gerakan waktu itu.

Jika dihitung dahulu 1998 sekarang 2019, rentang waktu cukup lama, lebih kurang 21 – 22 tahun berlalu. Dimana beda nya? Gerakan serupa tapi tak sama agenda nya.

Reformasi, tumpas KKN, turunkan Soeharto dan kroninya. Jika gerakan mahasiswa saat ini titik awalnya RUU katanya? Ada juga spekulasi lain? Waulahualam.

Yang pasti para aktivis 98 melihat gerakan mahasiswa 2019 ini, yang saat ini ada dalam posisi campur aduk.

Mungkin dalam posisi bernostalgia dengan senyum simpuh malu malu kah?  Atau senyum darah berkobar dengan gigi gigi gemertak lalu lunglai..hmm  Atau acuh dengan berucap sudah lah bukan urusan kalian ini sudah beda zaman nya?

Tahun 98 sudah berlalu, namun  wartawan asing hingga saat ini pun masih pasih dengan underestimate Presiden kedua kita The Autoriterian – Militerism 35 years Presidents’ Soeharto.

Kala itu luapan kritis dan marah nya mahasiswa dalam gerakan reformasi ( Student Movement for reformation) gaya kepemimpinan, kroni, pemaksaan dengan militer,  nah kini 2019 kritis nya mahasiswa  dalam Aliansi BEM seluruh Indonesia ya karena RUU yang dituduh ” ngaco-arut” (ngawur).

Baca Juga :  Walhi Sumsel Identifikasi Influenser Dukung Omnibus Law

Jika dahulu 98 yang didemo itu ya presiden nya, sekarang yang didemo DPR nya betul gak? Tolong dikoreksi jika saya salah, (mengutip gaya gaya pemimpin rapat rapat elit politik).

Akhirnya gak ada yang perlu dikhawatirkan akan gerakan mahasiswa ini karena mereka murni terpelajar dengan segala proses nya baik itu di kampus di kelas dan di jalan. Apalagi mahasiswa UMP berjejer di pagar kampus nya bertulis 24 SKS kuliah di jalan.

Mereka (mahasiswa) yang salah satunya kampus asal kota Pelajar Jogja yang presiden BEM nya wong kito sang tersohor disapa Fathul. Lulusan SMA 17 kelas acelarasi ini pun sendiri mengakui   pada ILC TVOne, mereka (mahasiswa) ditunggangi kepentingan rakyat.

Kedua, rentang waktu 21 hingga 22 tahun usia para sarjana diwisuda rata rata usia itu. Artinya sesuai harapan semua agar bangsa ini makin memasuki  gelar keserjanaan sejak awal reformasi hingga apa saja disebut era sekarang ini, ayo lah saling mendewasakan diri bersikap, negeri ini makin cerdas kok. Pola pola pembodohan itu makin kebaca, makin banyak orang pintar di negeri ini.

Ketiga, kita tetap mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa baik itu peristiwa berfikir, berkhayal maupun peristiwa peristiwa kongrit yang terjadi. Tetaplah kita menganut bahwa Guru yang terbaik itu adalah Pengalaman itu sendiri, atau mengutip Albert Eisten ” Insanity is doing thing over and over again but result and expecting nothing”. So jika kita mau disebut Move On yang sesungguhnya ayo bangkit dan dari ambil pelajaran dari semua ini. (asj)

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan