Abad 19, Batu Bara Sahwalunto Andalan Kolonial Kini Kota Wisata Tambang Berbudaya

  • Bagikan
Reporter Gesahkita.com Edward saat tergabung dalam rombongan PTBA Muaraenim sambangi Sahwalunto Ombilin

Muaraenim, gesahkita.com–Sawahlunto Sriwijaya,  adalah salah satu kota di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang ini, dikelilingi oleh 3 kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Sijunjung.

Kota yang saat ini dipimpin oleh Deri Asta SH sebagai Wali Kota Sawahlunto  yang pusat kotanya sebagian daerah pasca tambang batu bara sejak zaman kolonial Belanda secara langsung dikunjungi rombongan Jurnalis dari PWI dan IWO asal Kabupaten Muara Enim yang didampingi pihak Humas PT Bukit Asam Tbk yakni Asmen Humas PT BA Muhammad Saman.

Setibanya di Kota Sawahlunto ini, rombongan jurnalis langsung disambut dan di jamu oleh Manager PT BA Ombilin Nan Budiman BE, dalam kesempatan tersebut ia menjelaskan secara singkat sejarah awal penambangan di daerah sawahlunto yang merupakan penghasil batu bara dengan kalori terbaik di dunia.

Baca Juga :  Indonesian Customs and Laws You Might Want To Understand

“Selamat datang saya ucapkan dan terima kasih pada para jurnalis asal Kabupaten Muara Enim yang sempat mampir dan berkunjung ke Kota Wisata Sawahlunto,” kata Man Budiman, Jumat (20/12).

Ia menceritakan, awal penambang dimulai 1892 pertama produksi batu bara pertama yang sebelumnya batu bara ditemukan Ir WH De Greve Di Tepi. Penemuan batu bara Ombilin di Sawahlunto. Telah menjadi perhatian dan menjadi pembicaraan banyak pihak, terutama di Belanda sejak pertengahan hingga penghujung abad 19.

Rentang tahun 1868-1887 pihak swasta begitu antusias dan bersemangat untuk menanamkan modal dalam usaha penambangan batu bara dan pembangunan jalur transportasi kereta api di Sumatera Barat.

Berikutnya periode 1887-1891 negara menunjukkan peran dominannya. hingga akhirnya sampai pada keputusan bahwa penambangan batu bara Ombilin dan pembangunan jalur kereta api dilakukan oleh negara.

Dibawah pimpinan ljzerman, penambangan dilakukan

lebih awal di Sungai Durian tahun 1891. Seiring itu, rancangan Undang-Undang Penambangan Batu Bara Ombilin disahkan menjadi Undang-Undang pada 28 Desember 1891.

Baca Juga :  Destinasi Pulau Bangka Pantas Kamu Kunjungi

1891-1942. Dan sempat diambil alih oleh Jepang pada saat itu. Pada1945 di zaman meredeka Indonesiq diambil alih Indonesia yang dikelola oleh Direktorat Pertambangan 1950-1958. Dan pada 1961-1968 dibawah pengelolaan badan perusahaan umum (BPU) Batu bara.

Pada 1968 terbentuk PN Tambang Batubara yang membawahi Unit Produksi Ombilin (UPO). Unit produksi bukit asam (UPBA) dan unit produksi. Dan pada zaman ini tidak luput dari permasalahan seperti tambang liar atau tambang rakyat.

Pada 1981 crash menjadikan ombillin PT BA. Setelah melewati produksi yang cukup lumayan, pada 2017 pasca tambang. IUO 2.935 hektar dan baru 1800 hektar aset bukit asam.

“Ombillin pantas menjadi mendapatkan penghargaan, karena dampaknya bukan hanya di sawahlunto saja tetapi di launt juga,” tuturnya.

Selain itu, pasca tambang saat ini, sesuai dengan visi misi Kota Sawahlunto pada 2020 Kota Sawahlunto menjadi Kota Wisata tambang yang berbudaya.

Baca Juga :  Tips dan  Cara Membuat Cuko Enak Khas Pempek Palembang Ala Pempek Bunda Ratu

“Dibalik semua itu, tambang ombillin ini pada zaman keemasannya sekitar 1995-1996 dengan memproduksi 1,5 juta ton dengan kalori 7.300 kandungan kalori. Dimana kalori tersebut kalori batu bara terbaik didunia,” tukasnya.(edward)

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan