Menanti Perhatian Lebih Jauh Terkait Sustainable Kelola Sembilang Dangku

suasana berlangsungnya lokakarya

Palembang, gesahkita.com–Lokakarya Petikan Pembelajaran Tata Kelola dan Peluang Pendanaan Lanjutan Kemitraan Pengelolaan Lanskap Sembilang Dangku Sumatera Selatan dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 27 – 28 Februari 2020 dihotel Aryaduta Palembang.

Kegiatan ini dihadiri oleh mitra-mitra pembangunan Sumsel, diantaranya Yayasan Penabulu, Yayasan Puter, Hutan Kita Institut, Institut Dagang Hijau, Diameter, SNV, serta dari Bapeda Provinsi Sumsel dan bapeda musi Banyuasin dan banyusin, KPH Meranti, KPH Lalan Mendis serta BKSDA Sumsel dan Balai TN Sembilang.

banner 17 agustus, Dirgahayu Republik Indonesia, Indonesia Merdeka

Sebagai salah satu provinsi yang ada di Indonesia, Sumatera Selatan berkomitmen untuk terus mengembangkan pembangunan hijau di Bumi Sriwijaya.

Prof Dr Damayanti Buchori selaku Direktur Proyek KELOLA Sendang dalam Sambutannya memaparkan
sustainable management atau managemen berkelanjutan dan peluang pendanaan untuk lanskap Sembilang Dangku yang telah dilaksanakan diharapkannya kedepannya bisa berjalan dengan baik.

Dia juga menyebut bahwah Kolaborasi bersama yang dilakukan lebih kurang tiga tahun berjalan ini adalah ibarat berlayar sambil membangun kapal.

Baca Juga :  Polres Oku Selatan Ungkap 13 Unit BB Curanmor dan Sepucuk Senpira
lokakarya berlangsung di Hotel aryaduta Palembang 27-28 Februari 2020

“Banyak yang dipelajari dalam tata kelola proyek ini”, kata dia.

Profesor pun menyinggung bahwa pengelolaannya harus diletakkan dan dipimpin oleh pemerintah terkait yang masuk kedalam lanskap Sembilang Dangku dalam hal ini kabupaten Muba dan Banyuasin.

Dijelaskannya, Master plan Sembilang Dangku yang implementasinya dimulai tahun 2018 memiliki tiga area model.

Model pertama Area Model 1Hutan Dangku – Meranti di Kabupaten Musi Banyuasin, Area model 2 (dua) yaitu Kawasan Hidrologis Gambut Sungai Merang – Sungai Ngirawan) Kabupaten Musi Banyuasin dan Area model 3 (tiga) yaitu Pengembangan Eco-eduwisata di Kabupaten Banyuasin.

Budi Wardhana (Deputi Perencanaan dan Kerja Sama) Badan Restorasi Gambut dalam lokakarya ini mengatakan bahwa dalam pengelolaan wilayah pengelolaannya tidak dapat berdiri sendiri, dalam melakukan pengelolaannya masing masing pihak harus saling mendukung dan bersinergi dalam mengelola lanskap.

Dirinya pun berpendapat bahwa semua harus berkolaborasi mulai dari pemerintah, perusahaan, KPH dan masyarakat.

Baca Juga :  Besar di Lingkungan Nahdiyiin, Kadinsos Maju Ramaikan Bursa Ketua PWNU Sumsel

“Karena masing masing punya kepentingan yang berbeda”, paparnya.

“Dan itu mesti diakui, lanjutnya, agar pengelolaan lanskap ini mendapatkan hasil yang maksimal” imbuh dia.

Senada dengan Regina Ariyanti, koordinator Projek Supervisory Unit dalam paparannya menjelaskan bahwa pengelolaan suatu lanskap haruslah dikelola secara Sustainable atau berkelanjutan sehingga dalam pelaksanaannya bisa dinamis,

Ia juga menyinggung jika Pendekatan lanskap Sembilabg Dangku pengelolaan dilakukan melalui pendekatan visi misi pemerintahan daerah dalam hal ini pemerintahan provinsi Sumatera Selatan, kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Banyuasin.

Menurut dia Agar pengelolaan landskap Sembilang Dangku bisa lestari dan masyarakat sekitar lanskap bisa berdaya, yang kesemuanya dituangkan kedalam master plan agar pengelolaan lanskap bisa terlaksana dan dikelola dengan baik antara pemerintah perusahaan dan masyarakat tanpa mengeyampingkan kearifan lokal dalam pengelolaan lanskap.(a.goik)

banner idul adha dprd okus
banner idul adha, akbp zulkarnain
banner idul adha, akbp danny
banner idul adha, ronaldo, davinci