Gemurai Menggelegar

  • Bagikan

 

 

Palembang, gesahkita.com–

“Gemurai Menggelegar”
Karya : Rinaldi Syahril Djafar

Izinkan haku memperkenalkan diri,
Namaku Baginda Perpatih Syah Ban Nan Sabatang,
Bukan…Bukan turunan Raja Iskandar Zulkarnain dari negeri Macedonia,
Yang pandai menyelami lautan Cina, pendaki gunung Merapi.

“Akulah saksi utusan pengantar jalan ke tanah seberang”

Tetapi, mengapa jemari seujung kuku,
Warisan-warisan mazhab itu selalu mendatar,
Ia seperti telur sesangkak, retak sebutir pecah sebelanga,
Malu diri pada berjuta-juta asa, Kerbaupun disembelih, darah diaduk, tanduk tlah ditanam.

Pada negeri lima menara.

Daun-daun pintu rumah kami seperti meradang pada ambang kerancuan,
Bukankah romansa lebih tua daripada berkira-kira romantika semata…?
Itu salah. Ini juga tak benar.
Namun, dari sudut warna ruang tengah, hamba menyaksikan bahwa politis, geografis, maupun etnis telah berurat entah di mana.
Kesemuanya milik umum, yang digariskan oleh ikrar tiada berkesudahan.

Coba perlihatkan sebentar saja, wahai Kekasih,
Yang mana kamar tidur mu…!
Orang-orang menyebut dahaga hanya sebatas galur di pelupuk mantra-mantra para penghulu.

Baca Juga :  Tentang Haus Eksis Versus Demam Popularitas Di Medsos

Barangkali sulit kupercaya sumbang Melintang pada malai yang semalam,
Mengintip kisah utan yang terbalut syarak cincin pangkal tandukmu,
Ada yang terluka bahkan mati karena membalik tanah garam.

Sampai-sampai,
Kau kirimkan zat yang ganjil membilang sebelum mereka tidur.
Dan, sungguh gila, sudah lama kita tahu,
Tapi, aku mau mengakui sesuatu yang,
Tak berjawab sudah.

“Sebaris pun berpantang aku menghilang, setapak jua ku goreskan Lam Alif-Mu…”

Hari-hari guruh Gemurai kian menggelegar,
Sebuah tanda anak Adam sebentar lagi akan menyemai nazar,
Tanyakan padanya soal Gelang kaki anak Srilangka,
Atau lelaki yang berjubah Cola Mandala.

Esok atau lusa saat aku bersembunyi di dalam benderang,
Ingin Ku kisahkan kembali,
Tentang nyala api, air terjun, wanginya minyak, angin Timur.
Ya. Juga tanah leluhur.

Di sini,
Kami ini para penjejak,
Langit dan bumi sedang melafaz bayangan syaban,
Hingga malam ke sembilan puluh sembilan,
Syafaat nukilan tutur sapamu adalah surgawi,
Kasih sang Ilahi.

Baca Juga :  Impian Yang Ke-1000

Kamis, 9 April 2020 (Malam Syaban)
GCS, Bukit baru, Kota Palembang

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan