Testimoni Pelarian Jepang

  • Bagikan

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA.com–Saya sangat percaya dengan negeri ini, inilah negeri yang selalu terlatih menikmati ‘loro lopo’ dengan cara tersenyum. Bukan saja tentang isu pandemi covid-19, jauh sebelum terlahir Indonesia saja, mereka begitu akrab dengan rasa cukup yang selalu menguntungkan.

Negeri ini terlalu lama menggunakan rumus terbalik. Jangankan hanya tentang pekerjaan, perihal tempat tinggal saja mereka begitu luas mengandalkan langit sebagai atap dan bumi tempat berpijak.

Bahkan hingga kini, jika anda mencoba menemui sisa-sisa penduduk negeri yang tangguh itu, susurilah desa-desa, kaki gunung, di setiap pelosok negeri, mereka adalah Para leluhur yang masih tangguh hidup dibatas usia 100 tahun.

Dan mereka bukan orang pikun yang bertahan di panti jompo. Mereka sanggup bercerita tentang lintas generasi yang menurutnya telah berbanding terbalik.

Sebenarnya salah satu warisan alasan ketangguhan negeri ini semasa tempoe doeloe alias kerajaan adalah justru dari cara hidup mereka yang sangat sederhana.

Memang mereka adalah pelaku sejarah rumus terbalik.

Harta kekayaan alam yang berlimpah, akan tetapi puncak rasa terhadap dunia mereka memilih standar yang secukupnya -menghaluskan istilah “rendah”-.

Mengapa bisa, apakah karena faktor keterbatasan pengetahuan sehingga tidak harus modern? Tentu saja bukan tentang tradisional atau modern, persoalannya adalah lebih kepada cara menciptakan ‘rasa’ dalam menikmati hidup yang sedang dijalani.

Sebenarnya terjemahan dalam bahasa spiritual disebut sebagai ‘gampang syukure.’

Perhatikan saja tingkat kekayaan rasa mereka terhadap dunia. Ketika masih jaman Majapahit, rumah para kawulo  hanya memiliki sebuah ruangan yang kecil. Mengapa kecil, karena masyarakat Majapahit hanya menggunakan rumah sebagai ruangan untuk tidur, sementara kegiatan lainnya dilakukan di luar ruangan.

Baca Juga :  Membelah Diri

Hal ini sangat terbalik dengan cara berpikir anak keturunannya yang hidup di era digital. Sepertinya pengalaman hidup nenek moyang memang patut untuk digali dan dipelajari sebagai rujukan sisi pembelajaran positif bangsa ini.

Dan contoh penduduk desa Bejijog, Trowulan Mojokerto Jawa Timur, mereka mengakui bahwa tradisi mbah-mbahnya semasa Majapahit telah terbukti sangat mengajarkan cara hidup yang ‘cukup ing pandum.’ Sekarang mereka mengabadikan relief kesederhanaan masyarakat Majapahit dalam urusan tempat tinggal.

Dari segi makanan, kini saya berada di Papua, saya membuktikan betapa negeri ini sangat kaya dengan sagu. Hampir di setiap sudut pasar di kota Timika, sangat mudah mendapatkan bahan pokok yang satu ini.

Pastinya orang Papua sangat menyukai Papeda, tetapi para urban bisa saja mereka mengolahnya menjadi mpek-mpek atau siomay. Fakta sejarah memang tak lepas dari cadangan pohon sagu alami yang bisa menjadi sumber karbohidrat alternatif, pengganti beras.

Negeri ini memiliki 1,4 juta hektar (ha) lahan sagu yang tersebar di hutan tropis Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga Papua. Namun, Papua dan Papua Barat menyimpan cadangan 1,2 juta ha.

Maka jangan pernah mendustakan negeri ini…

Seorang peneliti sagu negeri ini, Prof. Nadirman Haska, pernah menyebutkan bahwa sesungguhnya sagu telah ada dan menjadi makanan pokok penduduk nusantara jauh sebelum beras masuk ke negeri ini saat dibawa oleh orang India, beberapa abad silam.

Baca Juga :  Kasihan Bangsa Satire Khalil Gibran Dalam Semantik

Darimana buktinya?

Hal ini dibuktikan oleh relief atau pahatan di Candi Borobudur tentang palma kehidupan yakni ada nyiur (kelapa), lontar, aren dan sagu. Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Budha di Indonesia

Secara Antropologi, masyarakat Jawa menyebut beras dengan istilah sego dan masyarakat Sunda menyebut beras dengan sebutan sangu. Sego atau sangu dalam bahasa sesungguhnya ialah sagu.

Melalui sejarah, dalam cerita Nadirman, Jepang pernah peduli dengan penelitian tentang kasiat sagu. Kondisi bukan tanpa sebab, tentara Jepang saat kalah berperang di Indonesia, ada yang melarikan diri ke hutan di daerah Halmahera, Maluku.

Di sana, Tentara Jepang mampu bertahan hidup di tengah hutan hampir 35 tahun hanya mengandalkan makanan dari sagu. Nah, coba bayangkan, inilah testimoni nyata itu….

Selain itu, Jepang paham bila sagu bakal menjadi produk pangan alternatif di tengah terbatasnya dan menurunnya stok pangan dunia seperti beras di akhir abad 21.

“Akhir abad 21, sagu menjadi salah satu alternatif sumber pangan negeri ini. Negeri ini bisa menjadi pemasok sagu terbesar di dunia,” kata Nadirman.

Pandemi Covid-19 kian hari terus menyeret nasib negeri pada kacamata krisis. Hampir semua jenis usaha tersekat. Putaran ekonomi melemah. Harga-harga mulai melambung. Kebutuhan hidup akan pangan mulai tertutup. Lumbung akses mendapatkan bahan pokok layaknya beras kian tersedot.

Baca Juga :  Perkara Nilai

Rakyat terbukti begitu sangat berharap pada setiap adanya bantuan. Otomatis, kebutuhan tentang hal-hal yang berbau kemewahan mulai memanen PSBB atau lockdown.

Hampir merata di seluruh dunia. Dan berkaca dari dalam negeri, mungkinkah testimoni pelarian Jepang tentang kekayaan rempah-rempah akan negeri mesti kembali diolah dan digali? Agar dalam keadaan #-Di rumah saja – seperti ini, masing-masing anak negeri tetap kembali merasakan “rasa syukur” sebagai anak negeri, yang seperti pernah dilakukan oleh pelarian Jepang yang bertahan -cukup- di hutan negeri ini selama 35 tahun.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan untuk mengolah hasil kekayaan negeri. Tetapi nenek moyang negeri ini, baik semasa Majapahit ternyata sudah lebih dahulu membuktikan ketahanan pangan mereka melalui cara hidup yang sederhana dan pastinya bersatu dengan alam negeri sendiri nan gemah ripah loh jinawe. Dan rakyat benar-benar mandiri kala itu.

Ahhhh… mungkinkah negeri ini kehilangan rasa syukur? Tentu belum.

Rasanya saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengelola nikmat syukur yang ada. “La`in syakartum la`aziidannakum wa la`in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim : 7). Wallohu ‘alam.

(Timika,18 romadhon 1441 H)

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan