Sekat Kematian

9
Suasana Pemakaman Koban Covid 19 (Sumber Gedahkita Oku Selatan)
Suasana Pemakaman Koban Covid 19 (Sumber Gedahkita Oku Selatan)

Hikmah Covid-19

By Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA com–

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 57)

———–

Pernahkah kita mencoba memasuki sebuah ruang sejarah dalam hidup paling suram? Saya mencoba mencari turunan kata dari ‘suram’ agar lebih jauh terasa ekstrimnya. Mungkin anda akan menyarankan itu ‘gelap’, ‘pekat’, ‘ambyar’, atau secara saya sebenarnya bisa mengusulkan ‘loro lopo (Jawa)’ -yang kurang lebih berarti sakit yang teramat sangat-, tapi itu tak mungkin. Karena saya yakin pembaca tentu banyak juga yang bukan orang Jawa.

Okelah diksi ‘suram’ di atas anggap saja sudah teramat mewakili sebuah perasaan di mana seluruh pintu-pintu untuk bisa hidup tertutup. Segala jalan buntu, mentok dan mentok.

Keadaan suram memang merubah alur prilaku gaya hidup menjadi serba tidak normal. Sudah sejak kemunculan wabah covid-19, pelan-pelan hampir seluruh penduduk bumi seperti menuju ke ruang kesuraman, kembali ke titik terendah dari sebuah piramida terbalik.

Keseimbangan dalam ranah apapun oleng. Ratusan sendi kehidupan amburadul diterjang tanpa ampun. Tidak hanya urusan ekonomi, perdagangan, pemerintahan, hingga aspek sosial kemasyarakatan dan bahkan agama pun harus terseret oleh sergapannya.

Tidak perlu disebutkan tentang berapa data banyak tingkat kematian manusia akibat virus ini, secara dunia sudah jutaan. Betapa begitu mudah mengurangi jumlah penduduk bumi hanya dalam hitungan bulan. Inilah sejarah kemanusiaan yang memaksa mengingatkan kepada setiap manusia, bahwa kematian itu nyata dan pasti terjadi.

Belum ada kejelasan pasti tentang kapan pandemi ini berlalu. Bisa lebih cepat atau sangat lama. Rasanya segala ikhtiar dengan cara lockdown agar memutus rantai berkembang-biaknya virus yang mematikan sudah dipraktekkan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, meskipun istilah yang dipakai negeri ini adalah PSBB, Anggap saja itu -setara-retorika eufimisme.

Bukankan bangsa ini karakternya sangat hati-hati dalam mencari diksi.

Tapi intinya sama, membatasi penyebaran virus. Dan tentu, pandemi kali ini adalah wabah dunia yang memaksa siapapun agar terus berhati-hati dan berjaga-jaga diri dengan memperhatikan kesehatan badan bagi setiap pribadi.

Anjuran pemerintah untuk selalu mencuci tangan, kaki, bermasker (menutup wajah), tidak berkontak langsung dengan banyak orang sudah berlangsung merambah hingga ke daerah dan desa-desa.

Sebuah pemandangan tentang pentingnya menjaga kebersihan yang indah saat ini. Hampir di setiap tempat baik pertokoan, kantor hingga rumah tersedia bak air berikut sabun desinfektan untuk masyarakat sering-sering mencuci tangan, kaki, dan muka secara teratur.

Tentu saja jangan pernah tanya, tentang mengapa sebelum ada covid-19 apakah orang-orang juga akan bersikap yang sama terhadap penjagaan tubuhnya. Anggap saja inilah salah satu hikmah besar dari wabah covid-19 ini dari satu sudut pandang optimis.

Dan pada cara pandang terbalik, bagaimana kalau ternyata, pandemi covid-19 benar-benar tidak ditemukan vaksinnya. Bagaimana jika musibah covid-19 ini akan berlangsung bertahun-tahun lamanya di seluruh dunia.

Bisa dibayangkan, inilah ruang suram peradaban dunia yang bakal kelam. Segala gerak akan tercekal oleh yang namanya penyakit dan kematian. Seperti mangsa, di manapun berada ancaman pandemi covid-19 terus mengintai siapapun menuju kematiannya.

Nah…. sekarang anggap saja kemungkinan bahwa pandemi covid-19 tak bisa ditemukan vaksinnya. Semua dokter dan pakar biologi tak sanggup mencegatnya. Virus yang teramat halus dan mematikan kian subur dan beranak-pinak.

Setiap yang bersentuhan menerima nasib yang mengenaskan. Terus saja kematian menular mengancam. Benar-benar sebuah ruang mirip zombie. Setiap tertular, tentu ia akan menularkan.

Inilah catatan tragedi kemanusiaan abad ini…

Berada di titik terpuruk di bawah piramida terbalik memang begitu menyiksa. Beban yang ditanggung tetap berat, sementara ruang untuk bergerak terkunci. Hampir aktifitas mulai dilakukan dari dalam rumah. Istilah yang dipakai Work from Home (WFH). Tapi rakyat Indonesia yang kebetulan memang menganggur, banyak yang tidak memakai istilah WFH. Mereka lebih familiar dengan ‘glimbang-glimbung.’ Dan memang begitulah cara kebanyakan bangsa Indonesia dalam menikmati situasi loro-lopo. Tetap santai dan begitu asyik…. dan rileks.

Sekarang testimonikan kepada rakyat Indonesia yang di pelosok-pelosok kampung, yang di setiap kaki gunung, rakyat Indonesia yang tak pernah melihat Jakarta, rakyat Indonesia yang tak pernah mengenal mall, rakyat Indonesia yang tak mengenal sepatu, rakyat Indonesia yang sehari makan sehari tidak, rakyat Indonesia yang hidup sebatas lambung berteman ladang dan pekarangan terbatas, rakyat Indonesia yang tak memiliki kota, rakyat Indonesia yang selalu bersyukur, dan bilang “untung dan untung.”

Mengapa mereka? Karena pada mereka dalam otak dan hatinya tak pernah terinstal kata ‘sakit’, kata ‘lapar’, kata ‘susah’, kata ‘sedih’, kata ‘kecewa’, kata luka’, kata ‘dendam’, kata ‘takut’, dan semua ragam padanan setiap kata yang beraura negatif. Bahasa jelasnya, mereka adalah orang-orang yang siap mati. Sungguh tidak ada ketakutan dalam bentuk apapun bagi mereka.

Bahkan, jika sekarang mereka diberitahu kalau sesungguhnya posisi jalan hidupnya sudah berada di titik paling terendah dan super terhimpit pun pasti itu hal yang sangat biasa. Paling mereka menjawabnya dengan sangat sederhana.

“Nek wis wancine, yo wayahe (Kalau sudah waktunya ya saatnya).”

Begitu dahsyatnya tingkat kepasrahan mereka atas takdir hidup. Dan mereka inilah sesungguhnya yang menggantungkan seluruh hidupnya seakan seperti kepasrahannya sang mayit. Mau diapakan saja terserah.

Begitulah mereka dalam berpasrah kepada Alloh, terserah kehendak Tuhan. Lillah…..

Barangkali inilah sikap terbaik saat kehidupan tengah di titik terendah pada posisi piramida kehidupan yang terbalik.Tidak harus menunggu kapan covid-19 berakhir.

Terus berikhtiar menjaga kesehatan sesuai arahan protokoler sangat penting. Tapi jika terlalu khawatir segeralah un-instal.

Yakinlah, Tuhan sangat mencintai makhlukNya dengan caraNya. (*)

(Timika, 17052010)