Haruskah Jungkir-balik?

  • Bagikan

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA com–Entah ini akan menjadi pengalaman terperih yang ke berapa. Kita sedang mempraktekkan kemampuan yang sesungguhnya bagaimana segala kekuatan terkonsentrasikan di kepala.

Saat ini kepala harus sudah menjadi kaki.

Biar lebih sempurna, segera praktekkan dengan sebenarnya bagaimana kepala putar di posisi terbawah, dan topanglah seluruh anggota badan. Jika belum terbiasa, boleh sesekali Anda bantu sangga menggunakan kedua telapak tangan. Berjalanlah… ya mulai berjalanlah. Semampu Anda.

Dan ingat, sekarang kepala Anda benar-benar sudah menjadi kaki untuk berjalan. Kepala Anda adalah tangan untuk mengatur siasat. Kepala Anda adalah pikiran yang merancang gagasan. Kepala Anda adalah sumber instrumen segenap kebutuhan Anda sendiri. Dan kepala Anda adalah eksekutor level wahid dari semua kebijakan yang telah Anda sepakati sendiri.

Dan keadaan memang benar-benar memenjarakan. Bukan hanya ruang gerak yang ter-lockdown. Cara menerjemahkan dari setiap hasil ‘blueprint’ pun demikian jungkir balik dan terkesan absurd.

Orang-orang pabrik yang terbiasa dengan produksi lumayan tersudut, sebab nilai jual jauh menurun. Kebutuhan terhadap transportasi jauh terbatas dikarenakan keramaian yang justru menjadi monster mematikan. Makhluk berdasi tak lagi berjabat tangan antar kontrak kesepakatan. Riuh pasar bagai jelmaan calon pesakitan.

Bukan hanya tentang jarak yang demikian rekat baik antara penjual dan pembeli, tapi influenza malah merambah kepada harga. Semua nilai kebutuhan bahan pokok tragis batuk dan mahal, sebuah jalan buntu ekonomi. Pedagang kaki lima harus seperti anak sekolahan ikut meliburkan diri. Para korban PHK mulai kerja keras memutar seluruh isi kepala. Demikianlah lukisan pandemi covid-19 tahun ini.

Tapi apakah ini tragedi kemanusiaan yang memotret kesedihan berdarah-darah, sehingga demikian sadisnya mengharuskan peran dan tugas kepala totalitas harus turun gunung, tandang gelanggang bertarung.

Maka mulailah memutar otak 180 derajat kembali terlebih dahulu ke beberapa tahun silam ketika covid-19 belum menetas.

Ketahuilah, bahwa ketika jaman masih disebut sebagai pra-sejarah. Anggap saja 5000 tahun yang lalu, di sebuah desa, di China. Ya di China. Berdasarkan studi arkeologi dan antropologi ditemukan sebuah wabah mematikan yang tersebar sangat cepat saat itu. Karena demikian meluas ancamannya, hingga korban mencapai akselerasi tak terkendali dan tak terbendung. Itulah situs Hamin Mangha, yang menjadi salah satu situs pra-sejarah tertua di China korban pandemi.

Baca Juga :  Terima Amanah Dari Polda Sumsel : IWO Muba Bangga Dengan Kapolda Doakan Rahmat Yang Berlimpah   

Di Athena sekitar 430 Sebelum Masehi, tak lama setelah perang Athena dan Sparta di Yunani, wabah menjangkit masyarakat Athena selama 5 tahun lamanya. Beberapa studi memperkirakan jumlah kematian atas wabah Athena mencapai 100.000 orang. Sejarawan Yunani, Thucydides, 460-400 SM mengatakan gejala wabah berawal dengan sakit kepala yang parah, mata yang merah, dan sakit tenggorokan, hingga batuk berdarah dan kesulitan bernafas.

The Black Death 1346 – 1353 Masehi adalah wabah yang tersebar dari Asia hingga Eropa. Beberapa ahli menyebut wabah ini telah membunuh setengah dari populasi manusia di daratan Eropa. Wabah ini disebabkan oleh bakteri Yersinia, sebuah kutu yang bersumber dari tikus. Mayat korban pun ditemukan dalam pemakaman massal. Wabah ini telah mengubah sejarah Eropa, dengan kematian yang banyak tenaga manusia menjadi lebih sedikit.

Akhirnya sistem perbudakan di Eropa pun berakhir. Hal ini terjadi seiring penelitian yang menyatakan, pekerja yang sehat dan selamat adalah pekerja yang punya akses pada makanan sehat dan berkualitas.

Ketika demam Kuning menyerang Philadelphia 1793, AS, para pejabat masih yakin sistem kekebalan tubuh para pekerja cukup kuat. Hasilnya, para pejabat masih merekrut orang Afrika untuk bekerja membantu merawat pasien. Penyakit ini tersebar dari nyamuk, yang mana populasinya meningkat saat musim pasar di Philadelphia. Wabah ini berlangsung terus apalagi musim dingin tak kunjung datang. Ketika musim dingin datang, populasi nyamuk berkurang dan wabah pun berhenti. Secara total, wabah ini menewaskan 5000 orang.

Wabah Flu 1889 – 1890 pada era industri modern. Transportasi menghubungkan penyebaran virus lebih mudah. Hanya dalam hitungan bulan, wabah ini menyebar secara global dan membunuh sekitar 1 juta orang. Kondisi ini membutuhkan sekitar 5 pekan dimana epidemi mencapai titik klimaksnya.

Pandemi Flu Asia 1957 – 1958 adalah salah satu kasus influenza kancah global. Bersumber dari Cina, kasus ini tercatat mencapai 1 juta. Virus ini menyebabkan pandemic yang bercampur dengan virus flu burung.

The Centers for Disease Control and Prevention mencatat, penyebaran penyakit ini sangat cepat di Singapura pada Februari 1957, Hong Kong pada April 1957, dan Amerika Serikat pada musim panas tahun 1957. Total kematian mencapai 1,1 juta seluruh dunia dengan 116,000 kematian ada di AS

Baca Juga :  Kejari Tulungagung Tengah Selidiki Dugaan Korupsi ‘Pengurangan Volume’ PUPR 2018

Ada juga H1N1, Flu Burung (2008 – 2010). Flu ini disebabkan oleh H1N1 dari Meksiko pada 2009 dan menyebar ke seluruh dunia. Dalam setahun, virus ini menginfeksi sebanyak 1,4 miliar orang dari seluruh dunia, dan menewaskan antara 151.700 dan 575.400 orang menurut CDC. Flu ini menyerang anak dan orang dewasa, ada 80 persen kematian pada orang berusia di bawah 65. Dalam kasus ini, usia lansia cenderung lebih tahan pada H1N1. Kini, vaksin H1N1 sudah tergabung dalam vaksin flu biasa.

Epidemi Ebola di Afrika Barat. Ebola muncul pada pertengahan 2014 dan 2016, dengan 28.600 kasus, dan 11.326 kasus meninggal. Kasus pertama terjadi di Guinea pada Desember 2013, lalu virus tersebar dengan cepat ke Liberia dan Sierra Leone. Kasus terkecil ada di Nigeria, Mali, Senegal, AS, dan Eropa. Hingga ini belum ada obat untuk Ebola, meski demikian ada vaksin yang sudah berproduksi menangkal Ebola.

Zika Virus tahun 2015 – 2020. Dampak dari virus Zika di Amerika Selatan dan Amerika Tengah awalnya tak diketahui dalam beberapa tahun. Pada saat bersamaan, pada ilmuwan berlomba dengan waktu untuk mengontrol penyebaran virus ini. Virus Zika umumnya menyebar dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti, dan juga dapat tersebar melalui hubungan seksual manusia.

Dan kini virus corona covid-19 (2020). Virus Corona adalah sebuah keluarga virus yang ditemukan pada manusia dan hewan. Sebagian virusnya dapat menginveksi manusia serta menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit umum seperti flu, hingga penyakit-penyakit yang lebih fatal, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Seringkali virus ini menyebar antara manusia ke manusia melalui tetesan cairan dari mulut dan hidung saat orang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin, mirip dengan cara penularan penyakit flu. Tetes cairan dari mulut dan hidung pasien tersebut bisa jatuh dan tertinggal pada mulut dan hidung orang lain yang berada di dekatnya, bahkan dihisap dan terserap ke dalam paru-paru orang tersebut melalui hidungnya, hingga menyebabkan kematian.

Baca Juga :  Pemkab Oku Hadiri Virtual Meeting Lomba Inovasi Daerah Kemendagri

Sementara itu, berdasarkan data dari worldometers.info, update corona dunia per Kamis (28/5/2020) pukul 08.08 GMT, 105.237 orang terjangkit virus corona dalam sehari. Totalnya pun menjadi 5.803.658. Dan tak menutup kemungkinan, data ini akan bertambah.

Nah, covid-19 seakan terus ikut bertamasya membersamai setiap keramaian. Penularannya yang masif seakan mengintai setiap nafas untuk berhenti. Tak peduli tentang strata kelas sosial, usia, gender, agama dan negara. Siapapun seakan dihadang olehnya kapan pun dan di manapun.

Lantas kita benar-benar menfungsikan seluruh isi kepala untuk stay at home. Mungkin itu untuk kaum glimbang-glimbung, kaum rebahan dan kaum korban PHK. Mereka yang masih aktif dalam pekerjaan pun tetap sama, menguras segala kekuatan kepala untuk diberdayakan, meski istilahnya sudah menjadi work from home (WfH). Namun tetap, istilah apapun yang dipakai dalam rangka persembunyian, bahwa covid-19 tetap terus mengancam tanpa ampun.

Sejarah telah mengajarkan, bahwa untuk menaklukkan lawan, terlebih dahulu haruslah mampu mengidentifikasi siapa sesungguhnya lawan.

Virus Covid-19 kabarnya nyaris sulit dipetakan. Bahkan beberapa pakar virus telah menganalisa tentang Covid-19 yang ternyata memiliki karakter yang berbeda-beda hampir di beberapa negara. Tentu saja, dalam kondisi seperti ini akan menjadi bertambah rumit membacanya.

Sementara hari terus berjalan. Bulan dan tahun akan terus berputar. Konsep dan istilah apapun yang disebut, baik itu lockdown, PSBB, PSDD atau new-normal sekalipun tetaplah sebuah kode yang masih -baru- hanya bisa membatasi dan memutus mata rantai penyeberan virus corona covid-19. Sementara korban tak jengah terus mengintai sudut kematian.

Yang pasti, demi ikhtiar menjaga keselamatan, kini banyak sudah rakyat yang rela ‘stay at home’ hanya mengandalkan kepatuhan atas setiap perintah dari pemerintah. Dan mereka pun sudah mulai ramai jungkir balik menjadikan kepala sebagai kaki, kepala sebagai tangan, kepala sebagai bahu, kepala sebagai segala komando agar perut dan segala kebutuhan keseharian tidak menjerit-jerit.

Kepada siapa sesungguhnya jeritan ‘stay at home’ itu harus dipersembahkan ?

Dan rakyat sangat mentaati dan mencintai setiap perintah pemimpin. Akan tetapi setelah ‘new-normal’, istilah apalagi nanti yang akan menjadi silsilah keturunannya berikutnya. Padahal covid-19 terus mengancam?

Haruskah kembali jungkir balik? (*)

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan