Impian Yang Ke-1000

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA.com–Saya yakin, siapapun pasti menyimpan the big of dreams. Meski bentuk, sifat, wujud dan kadar impiannya tentu pasti berbeda dari setiap orang.

Jujur saya juga punya, meskipun belum waktunya untuk aku tulis. Masih terlalu dini. Dan sepertinya saya pun harus terus berjuang dan bersabar untuk mewujudkannya. Sampai kapan? Tidak tahu.

Seorang Bossman Mardigu Wowiek Sontoloyo sedemikan kuat ingin menjadi seorang Bill Gate. Anda pasti sangat kenal siapa Bill Gate. Nama lengkapnya William Henry “Bill” Gates. Dia adalah seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen.

Jadi jelas kan mengapa seorang Mardigu Sontoloyo begitu gandrung dengan Bill Gate hingga tahan mengkantongi sobekan foto Bill Gate yang ia simpan selalu di dalam selipan dompetnya.

Hingga suatu ketika jaman pemerintahan SBY, saat benar Bill Gate datang ke Indonesia, singkat kata, takdir indahnya benar-benar bisa mempertemukan dirinya dengan sosok yang diidolakan, Bill Gate. Pada sebuah sesi tanya jawab di sebuah pertemuan khusus itu, Mardigu tulis sebuah pertanyaan singkat untuk Bill Gate. “You will be never like Andrew Carnegie.”

Betapa terkejutnya Bill Gate dengan pertanyaan itu. Dan tahukah Anda. Ini dari cerita Mardigu. Ternyata, seorang Bill Gate untuk menjadi orang hebat, dia juga menyimpan sebuah nama yang -juga- selalu disimpan dalam dompetnya. Nama itu adalah Andrew Carnegie. Nah…

Jadi lantas siapa sosok yang bertahun-tahun menjadi idola Bill Gate yang bernama Andrew Carnegie itu. Dialah seorang industrialis Skotlandia-Amerika, pengusaha dan dermawan besar. Dia adalah salah satu pemimpin yang paling terkenal dari industri akhir abad 19 dan awal 20. Ia berimigrasi ke Amerika Serikat sebagai anak dengan orang tuanya.

Begitulah, kini seorang bossman Mardigu telah menemukan mata rantai itu. Kisah nyata telah mengantarkan Mardigu bukan hanya lantas menjadi ahli hipnoterapis. Bahkan memiliki segudang keahlian lain yaitu sebagai penulis, motivator, pengamat intelegent, pengamat terorisme dan yang sangat keren melekat pada diri beliau adalah seorang pebisnis sejati.

Dialah Mardigu Sontoloyo Jack Ma nya Indonesia, Mardigu Wowiek sudah menjadi pengusaha level triliuner, yang jika mematikan keran pipa gas perusahaannya, maka setengah Singapura akan gelap gulita.

Sekarang Anda bayangkan sendiri, begitulah contoh efek sebuah mimpi.

Orang-orang yang menyimpan cita-cita besar, rata-rata juga menyimpan ‘goal’-nya dalam cara apapun. Saya tidak perlu lagi menyebut nama layaknya musisi Ahmad Dani yang mengabadikan poster tokoh-tokoh filsuf besar dunia di studio musiknya, hingga mengispirasi karya sairnya yang demikian sufistik. Atau bagaimana Emha Ainun Nadjib yang selalu menyimpan nama besar seorang Umbu Landu Paranggi sebagai sosok guru yang demikian ia kagumi.

Begitu juga mungkin Anda, yang menyimpan poster-poster tokoh yang Anda kagumi, dan mungkin itu tersimpan di dinding kamar atau apalah.

Percayalah, itu adalah bagian dari percikan cita-cita Anda.

Dan secara pecinta rosululloh Muhammad -juga misalnya-, mungkin kerinduan Anda wujudkan dengan senantiasa membaca sholawat atasnya dan mengikuti segala sunnahnya.

Saya pernah punya pengalaman membaca sebuah buku ‘Slilit Kyai’nya Cak Nun. Tentu karena menarik bagi saya, jangan ditanya sudah berapa kali saya mengkhatamkannya. Sejak itu, saya pernah ingin bercita-cita bagaimana bisa bertemu dengannya, dan saya -pun- ingin bisa menulis layaknya CakNun.

Begitulah impian, satu hari Alloh memang mengantarkan menjadi nyata. Pada waktu kota Palembang diselimuti musim kabut tebal, saat itu saya bersama beberapa rekan mahasiswa (Nurmantiaz) menjadi panitia Seminar Jurnalistik Nasional. Kami datangkan pembicara dari nasional Emha Ainun Nadjib, Eggi Sudjana dan KH. Ali Yafie. Dan untuk pembicara dari lokal ada Prof.Suyuti Pulungan, Prof.Jalaludin dan Prof. Abdullah Idi.

Saya ikut menyambut kedatangan KH. Ali Yafie, CakNun dan Bang Eggie dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Begitu pun saat mengantar ketika selesai acara lantas kembali ke Jakarta. Untuk pak KH. Ali Yafie sudah selamat. Giliran Bang Eggie dan Cak Nun harus cancel karena kabut yang begitu tebal. Alhasil kami antar beliau berdua menuju Jl. Kolonel Atmo mencari travel yang langsung menuju Jakarta. Luar biasanya mereka dengan sangat rendah hati bersedia. Tentu kejadian ini tidak banyak yang tahu.

Bertahun berlalu, hingga akhirnya saya mencoba terus menulis. Menulis apa saja. Dan sebuah perjalanan panjang akhirnya benar mengantarkan saya memiliki sebuah karya buku. Buku pertama saya adalah antologi puisi “Menyelami 114 Samudera.” Saya menulis semua naskahnya dalam keadaan berwudhu. Jangan ditanya tentang kualitasnya, pasti culun.

Pastinya ukuran saya sebagai penulis pemula tentulah senang. Apalagi sempat beberapa bulan ikut nangkring di antara rak-rak buku Gramedia Palembang. Sempat pernah tiba-tiba mendapat apresiasi dari orang Medan -yang saya tak kenal- atas isi buku itu. Coba bayangkan..

Hingga impian saya bisa menulis essai layaknya CakNun. Alhamdulillah awalnya gagal. Karena setiap hendak menulis essai larinya terkadang malah menjadi cerpen. Apa boleh buat, tak di duga hingga terbitlah kumpulan cerpen.

Belum puas. Saya terus mencoba menulis essai. Kebetulan sebuah media memberikan saya ruang berkarya. Dan mulailah pelan-pelan saya menelorkan tulisan essai untuk sebuah kolom. Satu persatu terus saya simpan, hingga berlangsung sekian tahun. Dan impian itu mulai terwujud. Saya memiliki karya buku bernafaskan essai layaknya CakNun. Tentu mewarisi 1% nya saja sudah syukur alhamdulillah. Daripada tidak bisa sama sekali.

Hingga pada sebuah mimpi, saya pernah bertemu dengan CakNun dan mencium tangannya. Tapi itu hanya mimpi, ya, -hanya mimpi-. Meskipun qodarulloh di acara Ngaji Suluk Maleman di Rumah Adab Indonesia Pati yang dikomandoi Habib Anis, saat itu didatangi CakNun. Alhamdulillah saya benar-benar bisa mencium tangannya. Dan mimpi itu akhirnya menjadi nyata.

Begitulah kekuatan sebuah impian alias cita-cita. Cita-cita dan impian akan membantu siapapun untuk selalu memiliki semangat hidup dan semangat juang. Impian potret penanda betapa masih banyak hal pe er yang harus perlu digarap.

Berani bermimpi sebenarnya adalah mengajarkan orang untuk selalu fokus dan tidak beranggapan bahwa dirinya tidak berarti.

Ya, menggenggam impian akan membuat siapapun bisa termotivasi untuk selalu berusaha setiap hari. Tidak ada batas usia untuk bermimpi. Cita-cita tidak mengenal batas usia selama tahu apa yang ingin dilakukan.

Pastinya, impian dapat mengubah sudut pandang menjadi lebih positif. Dan impian akan membawa siapapun menuju ke tujuan hidup yang lebih besar lagi. Bahkan orang paling sukses di dunia sekalipun, memulainya dari impian kecil lebih dahulu. Mengambil keputusaan dan mulai melangkah tahap demi tahap menuju impian dan harapan.

Begitulah orang-orang sukses selalu menyimpan impian. Meskipun itu impian yang ke-1000… ***

(Timika, 29/5/2020)