Ngintip Hak Cipta Kerap Kali Direngut di Perpustakaan

Neneng Sri Rahayu

PALEMBANG, GESAHKITA com“Things can be copyrighted, thoughts cannot be copyrighted, meditations cannot be copyrighted. They are not things of the marketplace. Understand the difference between an objective commodity and an inner experience.”
― Osho Goodread User–

Bicara soal Hak cipta sangat berkaitan erat dengan informasi terutama di bidang ilmu pengetahuan, ruang lingkup hak cipta meliputi pada hasil-hasil karya seni, sastra dan ilmu pengetahuan.

Informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali perpustakaan yang menjadi salah satu lembaga yang mengolah informasi sebagai dampak dari perkembangan teknologi informasi.Dapat dikatakan bahwa perpustakaan merupakan pusat informasi yang menyimpan dan mengelola bahan pustaka seperti buku atau karya terbitan lainnya untuk memenuhi kebutuhan penggunanya dikenal dengan sebutan pemustakaan.

Situasi Ruang Baca Perpustakan UIN Raden Fatah Palembang

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, pengertian hak cipta adalah dalam Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa Hak Cipta Adalah hak eklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Adanya peraturan perundang-undangan hak cipta, dimaksudkan untuk lebih  memberikan perlindungan bagi pencipta, pemegang hak cipta dan pemilik hak terkait terutama dalam menjawab perkembangan informasi.

Dalam kenyataan yang ada, masih sering terjadi penggandaan karya cipta khususnya buku secara ilegal dilakukan oleh masyarakat luas, terutama mahasiswa dengan alasan untuk kepentingan pendidikan. Fenomena ini dapat dengan mudah dijumpai dari tumbuhnya usaha-usaha fotokopi di sekitar perguruan tinggi.

Begitu pula dengan perpustakaan, sebagian perpustakaan terkadang menyediakan buku koleksi dalam bentuk fotokopi karena sulit menemukan buku aslinya atau buku tersebut terbilang langka. Maka karya seseorang harus direngut atas alasan itu dan menghargai suatu karya seseorang menjadi tak begitu penting.

Dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, pasal 9 ayat (3) menyatakan bahwa “setiap orang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang menlakukan penggandaan dan atau penggunaan secara komersil ciptaan”. Dengan demikian tidak ada pihak lain yang boleh melakukan kegiatan pengumuman atau memperbanyak karya cipta tanpa izin pencipta apalagi kegiatan itu bersifat komersil.

Perpustakaan merupakan tempat menyimpan berbagai jenis koleksi, oleh karena itu perpustakaan perlu berhati-hati agar layanan yang diberikan kepada pemustaka tidak menjadi salah satu bentuk praktek pelanggaran hak cipta.

Idealnya sebuah perpustakaan memiliki koleksi utama sebuah perpustakaan yaitu, buku, terbitan berkala atau publikasi informasi dalam berbagai bentuk format. Walaupun disisi lain perpustakaan juga dituntut untuk mempunyai koleksi yang lengkap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. Ini berarti betapa peran perpustakaan bisa dijadikan sentral pembiasaan melindungi hak cipta (copyright) sebuah karya, bukan sebaliknya mengutamakan kebutuhan para pengunjungnya dengan membabi buta serampangan copy sana sini. Bukan kah disadari untuk pintar orang membaca dengan sumber bacaan yang benar juga, lalu dengan membaca jua lah akan menciptakan karya bacaan yang baru lagi. Begitulah rantai ilmu itu diharapkan sesungguhnya.

Nah, jika perpustakaan dapat menghindari praktik pelanggaran hak cipta dengan menerapkan peraturan penggunanya maka perpustakaan dapat menjadikan sebagai teladan dalam penegakan sosialisasi tentang hak cipta.(*)

Penulis.      : Neneng Sri Rahayu

Pekerjaan  : Mahasiswa, Universitas  Islam Negeri Raden Fatah Palembang,  Fakultas Adab & Humaniora, Prodi Ilmu Perpustakaan.