SENDOK KEPICIKAN

Mustaqiem Eska

banner 17 agustus, Dirgahayu Republik Indonesia, Indonesia Merdeka

TIMIKA, GESAHKITA.com–Tidak seperti biasanya, hari itu Raja ingin tahu seberapa jauh tingkat kejujuran rakyatnya. Rasa penasaran itu menjadi gendam setelah setiap waktu ia berkunjung ke daerah-daerah, semua rakyat menyambutnya dengan begitu suka cita.

Setiap lewat di antara kerumunan mereka, Raja pun luruh dengan uluran tangan para rakyat yang ingin menyalami dan mencium tangannya. Nampak ada kebanggaan sendiri bagi setiap orang yang bisa memegang tangan rajanya.

Bahkan terkadang terlihat ada rakyat yang begitu haru memeluknya. Apalagi ibu-ibu, begitu halusnya perasaan mereka yang nyaris kerap meneteskan airmata mereka karena sangat bangga dengan rajanya.

Ya, menjadi keberkahan tersendiri bisa melihat Rajanya secara dekat. Tapi itu kadar yang biasa. Ada rasa keberkahan besar yang lain yang justru banyak diidam-idamkan setiap ada kunjungan Raja ke daerahnya.

Para menteri, punggawa hingga rakyat jelata berebut bekas minuman suguhan Raja. Maka beruntunglah mereka yang sempat ‘nyrusup’ bekas minuman raja.  Kenyataan inilah yang justru membuat Raja itu ingin tahu tentang pola pikir rakyatnya yang begitu nggemesin.

“Tanggal yang.ditentukan, nanti kalian semua harus membawa satu sendok madu. Raja sudah menyiapkan satu gentong besar untuk tempat kalian memasukkan madu ke dalamnya, tentu kalian semua siap!” teriak pegawai Kerajaan.

“Siap…,” sepakat semua rakyat.

Esok harinya, pegawai kerajaan sudah menyiapkan gentong besar di depan istana kerajaan. Jadwal rakyat mengumpulkan satu sendok madu dibuka dari pukul 09.00 sampai pukul 17.00 sore. Nampak rakyat ramai mengantri dengan masing-masing saling membawa sendok, yang terus dijaga isinya agar tidak tumpah.

Dari atas kerajaan, Raja senyum-senyum dan sangat bangga atas kesetiaan rakyatnya kepadanya. Apa yang diinginkan sang Raja atas rakyat  begitu patuhnya.

“Saya sangat berhutang budi dengan rakyatku. Mereka begitu mencintaiku dan patuh atas setiap titahku,” kebahagiaan batin Raja nampak dari sorot matanya yang bening dan parasnya nan cerah.

Meskipun kumisnya sedikit agak tebal, tapi tidak mengurangi kegirangannya. Rasa tidak sabar Raja ingin melihat madu sumbangan rakyat dalam gentongnya.

“Setelah ini, nanti madu itu akan dibungkus untuk setiap ½ kg yang akan dibagikan kepada rakyat-rakyat pesisir yang nyaris tak tersentuh bantuan obat-obatan,” cita-cita Raja dalam hati.

Satu-persatu rakyat selesai menunaikan tugas perintah Raja. Bergegas setelahnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Penjaga gentong melihat gentong sudah terisi penuh. Segera Bedug tanda selesainya acara pengumpulan madu usai ditabuh sebanyak tiga kali, deem  deeeem ….deeemmmmm.

Baca Juga :  Dalih Dibalik Tergusur Masyarakat Miskin Jakarta

Raja pun dengan bangganya menuju pintu depan kerajaan dimana tempat gentong madu itu diletakkan, sehingga memudahkan rakyat-rakyatnya bisa bergiliran memasukkan apa yang ada dalam sendokmya.

Dan entah kenapa, tiba-tiba muka sang Raja menjadi merah padam. Padahal sebelumnya wajahnya begitu cerah seperti rembulan.

“Punggawa….!” teriaknya tiba-tiba setelah ia memeriksa apa yang ada di dalam gentong besarnya.

“Baik, Raja….,”  Jawab punggawa begitu gemetar.

“Coba kamu rasakan madu di dalam gentong itu, sejak kapan ada madu seperti air…”

“Seperti rasa air Raja!!!” jawabnya.

“Dasar! Itu bukan seperti, tapi itu memang semuanya air….”

Bergegas pun pungawa lari meninggalkan raja, hingga membuat hati raja menjadi berdentam-dentam. Jantungnya dag-dig-dug  marathon, nyaris copot.

Pertanyaan besar Raja kenapa semua rakyatnya bisa bersikap demikian, sehingga apa yang diharapkan Raja, ‘satu gentong madu’ berubah menjadi ‘satu gentong air’.

Ternyata, pada malam hari sebelum pagi saat mereka harus menyumbangkan satu sendok madu untuk rajanya, semuanya nyaris memiliki gagasan yang sama.

“Kalau, semua rakyat yang sebanyak itu menyumbangkan satu sendok madu, dan dimasukkan ke dalam satu gentong besar yang sama, tentu kalau saya mengisi sendok saya dengan air, tentu tak akan ketahuan dan tak akan berpengaruh terhadap madu yang sebanyak itu…” entahlah, begitu pikir setiap rakyat serentak tanpa ada komando.

Begitulah, hingga akhirnya yang terjadi adalah, karena semua berpikir sama, petakalah jadinya, karena ternyata gentong sang raja berisi air semuanya.

***

Rasa tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi itulah memang kenyataan. Apakah rakyat kita mewarisi pola pikir yang demikian ?

Inilah yang harus diwaspadai oleh setiap pemimpin di negeri ini. Rakyat  sudah terlanjur menjadi pribadi yang suka berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Berkali-kali sejarah politik bangsa ini membuktikannya. Setiap musim pemilihan calon pemimpin negeri, entah pada level Presiden, DPR, Gubernur, Bupati hingga Lurah dan RT, rakyat begitu akrab dengan setiap calon.

Bagi rakyat tidak rugi meneriakkan nama salah seorang tokoh yang tengah ingin melambungkan namanya agar lebih dikenal rakyat banyak untuk sukses dicontreng pada pertarungan pemilihan kursi kepemimpinan, asalkan mereka diberi kaos, beras, uang seratusan ribu bahkan terkadang ada yang dapat jatah cukup besar, satu juta dua juta, bahkan lebih sebagai tanda jadi.

Baca Juga :  Strategi Perpustakaan Mempromosikan Buku Langka Lewat Media

Bagi rakyat, paling mudah bertepuk tangan, toh itu tidak rugi. Terkadang ia harus menghitung-hitung cara agar bisa memanfaatkan musim orang berebut kursi. Karena dalam kondisi seperti ini, mereka, calon pemimpin itu berharap untuk terkabul menjadi calon Jadi. Sehingga terkadang membutakan mata batinnya dengan melakukan segala cara agar rakyat bersedia memilihnya.

Tentu tafsir pemikiran setiap calon pemimpin adalah dengan memberikan ‘kompensasi’, atau sebentuk tanda ikatan. Kebiasaan seperti ini bagi iklim negeri kita sudah menjadi lumrah secara umum. Seperti kata Ronggowarsito bahwa jaman ini jaman edan, siapa yang tidak edan tidak keduman. Tidak rakyat, tidak pemimpin, karakter ingin menguntungkan diri sendiri ini laksana virus terus beranak pinak menyebar di sungsum rakyat negeri ini.

Bagi sebagian calon pemimpin, kalau perlu agama pun dijadikan korban untuk diplintir-plintir berbentuk landasan dalil sebagai sarat pembelaan agar dirinya bisa diterima di hati rakyat. Majelis Ulama pun pernah begitu gampangnya memasukkan unsur politik menjadi doktrin agama, bahwa golongan putih dalam pemilu dihukum haram.

Meskipun dalil pembenaran dalam al-quran tak pernah ditemukan. Begitu juga dengan isu sara, isu ekonomi sampai isu budaya, kebenaran-kebanaran yang ada di dalamnya diaduk tak teratur dengan ketidak benaran dan kebohongan-kebohongan.

Tragis, batas antara kebenaran dan kemunafikan menjadi tersisa laksana digit ketebalan 0.0000000000000000000000001. Begitulah barangkali gambaran menyebutkan betapa tipisnya. Membela rakyat, tapi sejatinya adalah membela diri sendiri.

Kita sudah terlajur diajari mewarisi pola pikir ingin menang sendiri. Tidak pemimpin tidak rakyat.  Semua sama. Kisah ‘sendok kepicikan’ di atas adalah kisah pembelajaran agar pemimpin berhati-hati dengan rakyatnya, begitu juga rakyat agar berhati-hati jangan salah memilih calon pemimpinnya.

Kemungkinan teori tak semulus prakteknya bisa menjadi nyata. Harapan pasti bisa berbalik menjadi 180 derajat.
Ada baiknya, rakyat mulai dibiasakan bersikap tidak melakukan sesuatu yang besar tapi berpretensi untuk berpikir picik, tapi biarlah mereka tetap untuk melakukan hal yang kecil tapi sejatinya itu besar bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang banyak.

Dan itu bisa dimulai dengan memperkaya ajaran kepada generasi-generasi kecil negeri ini, untuk terus belajar pandai menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, jujur terhadap diri sendiri sebelum menilai tingkat kejujuran akan orang lain, sejak dini, ibda’ binnafsihi.(*)

Penyunting , irfan

Publisher , Goik

banner idul adha dprd okus
banner idul adha, akbp zulkarnain
banner idul adha, akbp danny
banner idul adha, ronaldo, davinci