Membelah Diri

  • Bagikan

 

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA com–Pe er (PR) yang lumayan rumit bagi jalan hidup ini adalah pelajaran tentang membelah diri. Sebagai badan yang satu, secara hakiki terdiri dari rangkaian panca indera dan segenap keluarganya tentu saja memiliki tugas dan fungsi sendiri-sendiri, akan tetapi memiliki sifat pertanggung jawaban yang sama.

Di sinilah dibutuhkan pengawasan dan kontrol yang kuat untuk mengawal badan.

Seperti masyarakat pada umumnya, sebaiknya memang di antara masing-masing anggota badan mesti tetap saling memelihara cinta, menjaga kasih sayang dan menabur dialog yang romantis, bersedia saling watawaa shou bil haq, watawaa shou bi asshobr. Meski tak jarang, entah karena alasan ‘pakewuh’, alasan gengsi, bahkan alasan individu dan masing-masing, urusan saling menasehati itu menjadi hal yang malah dihindari.

Padahal secara psikologi, ketika seseorang memberi nasehat, toh bukan berarti sebenarnya orang tersebut lantas anti dinasehati juga. Atau bukan lantas orang yang memberi nasehat itu adalah unggul, dan yang dinasehati di bawah. Bukan. Tentu bukan itu maksudnya.

Baca Juga :  Ketika Zuhur hampir lenyap..

Konsep memberi nasehat dan diberi nasehat, sesungguhnya adalah wujud kasih sayang kebersamaan. Milik yang menasehati dan -juga- yang dinasehati. Potret kelompok atau keluarga yang saling jaga karena didasarkan cinta.

Misalkan dalam satu perilaku seumpama hendak tidur, dimana seluruh anggota badan sedang lelah-lelahnya, tentu saja selera badan tak terbendung untuk istirahat. Barangkali kalau mengikuti kehendak badan, pasti langsung merebahkan badan dan tertidur.

Tapi sebagai jiwa yang menyandarkan urusan hidup pada Rabb, yang ikut menjaga badan, ia akan sempat menasehatkan kepada badannya sendiri, agar tetap bersandar pada Rabb. Bisa jadi jiwa akan mengajak badan untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum mapan di pembaringan. Lantas berdoa dan merebahkan posisi tidur sebagaimana yang rosululloh ajarkan.

Atau juga mungkin dalam perilaku lain layaknya mata. Hampir setiap hari mata selalu dikaruniai oleh Rabb dengan kesanggupan melihat segala hal kenikmatan dunia. Melihat istri dan anak-anak, melihat keluarga, saudara, teman, guru, pemandangan yang indah, hingga rupa-rupa keindahan dunia yang ditangkap oleh mata. Tapi mata tak pernah melihat keindahan huruf-huruf hijaiyah Alloh yang tertulis di dalam al-quran, membaca alquran tragis jarang, bahkan miris tak pernah lagi.

Baca Juga :  Tolak RUU Pertanahan, Dipaksakan Kejar Tayang Beraroma Korporasi dan Asing

Sungguh sangat terlimpah kasih sayang lantas jiwa beserta hati mengetuk kesadaran agar, “Bacalah al-qur’an! ” sebagai tanda empati kepada anggota badan yang mengingatkan akan jalan hidup yang lurus. Kembali menuju jalan wahyu Ilahi.

Tentang dalam kesehatan juga misalnya, layaknya menjaga pola makan. Nafsu perut dan lidah seakan selalu tak berhenti agar keinginannya terpenuhi. Tapi perut dan lidah juga lupa kalau sesungguhnya ada saudaranya berupa darah yang -justru- menjadi tertutup alirannya. Sehingga darah tak lagi bisa bersilaturakhmi, mengawal dan menjaga ke seluruh anggota badan. Hingga jantung sebagai pusat kehidupan akan tidak berfungsi dengan normal. Lantas pikiran memang tersadarkan, tetapi rasa kemalasan dan habitat cara hidup yang tak teratur sudah menjadi kebiasaan.

Di sinilah acapkali jiwa menangis dan berkali-kali menasehatkan kepada badan agar perut dan lidah sadar akan adanya keluarga anggota tubuhnya yang terdzolimi karenanya. Dan jiwa yang suci lantas mengembalikan fungsi lidah dan perut dalam diri agar berperilaku sekadarnya saja. Jika memungkinkan, demi mempertahankan fungsi kekholifahan badan, berpuasa.

Baca Juga :  Ta'awudz Dan Perisai Perilaku Iblis

Memang, musuh terbesar dalam diri sebenarnya adalah terletak pada kemunafikan dari masing-masing anggota badan diri yang tidak menempatkan fungsi dan tanggungjawab sesuai peran.

Sekiranya masing-masing anggota badan benar-benar bisa membelah diri dan sadar menjaga tugas dan tanggung-jawabnya, sepertinya rasa kebersamaan, rasa saling membutuhkan, rasa saling jaga akan tumbuh. Karena sesungguhnya setiap diri adalah gabungan dari panca indera dan segenap struktur badan yang melengkapinya.

Semua dari masyarakat badan diri, adalah kholifah. Dan tugas utamanya adalah beribadah. Hanya itu. Ya, hanya itu. Maka bersatulah wahai seluruh masyarakat badan yang ada di diri, dalam menjadi Islam. Berpasrah diri kepada Rabb, Alloh Subkhanahu Ta’ala. Saling jaga dan jangan berpecah belah. Wa māa khalaqtul-jinna wal-insa illāa liya’budụn, (Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku). QS. Azzariyat : 56.(*)

Penyunting : henafri

Publisher : tisna

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan