Cinta Mu Tak Bisa Diukur Segala Bau Dunia

  • Bagikan

ORANGTUA

Mustaqiem Eska

TIMIKA, GESAHKITA.com–Bersyukurlah yang masih bisa membersamai orang tua secara dunia. Banyak dari kita yang hanya bisa merasakan “harum cinta” seorang ibu dan bapak, tanpa pernah benar-benar memeluk keduanya.

Ia tidak pernah tahu, kalau sesungguhnya dulu, ibu masih tertatih di gundukan sampah, mengorek kaleng, kardus dan botol bekas, hingga telapak kakinyanya tertusuk oleh potongan kaleng yang tajam menembus sandal jepitnya.

Telapak kaki sebelah kanan itu robek, berdarah, membekas lukanya, dan kau tak pernah tahu ceritanya. Ia meringis menahan sakit, sembari sesekali mengelus janin mungil di rakhimnya agar tetap tenang dan tidak harus khawatir.

“Tidak apa nak, ibu hanya terluka sedikit.”

Begitu dulu, bapak harus berperang melawan waktu, nyaris tidak bisa tidur, pikirannya selalu menahan kesulitan, tak sanggup melihat ibu dan janinmu yang masih di kandungan menderita karenanya. Bekerja apa saja asal menghasilkan uang. Pernah suatu hari ia juga hampir tak bernyawa.

Berapa orang -tiba-tiba- mengeroyok dan merampas semua miliknya. Senjata tajam itu sudah mengancamnya. Sang bapak menghadapinya dengan tenang, melepaskan semua tas, baju dan celana luarnya. Tidak ada dompet, karena ia tak pernah menyimpan uang untuk dirinya.

Baca Juga :  Membelah Diri

“Ahhh, tidak ada apa-apanya,” para penjambret itu tampak kecewa.

Bapak sudah pergi berpuluh-puluh langkah hanya bertelanjang dada dan celana dalam seadanya meninggalkan mereka.

Entah kenapa, para jambret itu kembali mengejarnya, dan menyerahkan kembali tas dan baju celananya.

“Maafkan saya,” kata mereka.

Bapak itu tersenyum tipis dan berterima kasih.

Hingga tahun berlalu, bapak itu -benar-benar-  tak pernah bercerita kepadamu. Bahwa terkadang sebuah pertolongan itu datang justru di saat diri dalam keadaan begitu sulit. Dan kini, ia tak ada di samping anak-anaknya.

                        ***

Benar-benar sungguh bersyukur, kita yang masih bisa membersamai orang tua secara dunia. Memeluk dan menjaganya adalah nikmat surga dunia. Sadarkah kita, bahwa tidak harus memberikan kekayaan harta dan benda. Cukup kebersamaan anaknya sudah membuatnya sangat tenang. Karena cinta tak harus diukur dengan segala “bau” dunia.

Sebenarnya, bisa mendoakan orangtua adalah rejeki kebersamaan teristimewa, dengan wasilah apa saja. Tidak harus yang besar, sebab hidup memang sudah dijalani sewajarnya. Mengajarkan anak-anak kita mengaji yang hadiah pahalanya, per huruf bacaannya di alfatikhahkan untuk bapak dan ibu.

Baca Juga :  Some Useful Indonesian Conversation Phrases

Jika sempat diberikan rejeki oleh Alloh bisa berbagi, dijadikan juga wasilah hadiah alfatekhah untuk bapak dan ibu. Membersihkan rumah, memotong rumput, menyekolahkan anak, bekerja dan bentuk amal apa saja, diniatkan wasilah hadiah amal baiknya untuk bapak dan ibu tercinta.

Cinta Mu Tak Bisa Diukur Segala Bau Dunia

Jika perlu dan -jika mungkin-, segala kebaikan-kebaikan baik yang kecil atau besar, kalau pun itu bernama pahala, maka semua pahala itu dipersembahkan untuk orangtua.

Seorang guru, yi Madun namanya, pernah mengajarkan kepada saya, bahkan jikapun orangtua harus mengambil semua harta milik anaknya, maka itu pun boleh hukumnya, tentu saja dengan syarat, katanya.

Dan beberapa hadits Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memang mengajarkan demikian :

عن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال ” ولد الرجل من كسبه من أطيب كسبه فكلوا من أموالهم “

Dari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anak seseorang itu termasuk jerih payah orang tersebut bahkan termasuk jerih payahnya yang paling bernilai, maka makanlah sebagian harta anak.” (HR. Abu Daud, no.3529 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

Baca Juga :  Menyibak Proses Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Unsri Indralaya

إن من أطيب ما أكل الرجل من كسبه وولده من كسبه

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seenak-enak makanan yang dimakan oleh seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri dan anak seseorang adalah termasuk jerih payahnya.” (HR. Abu Daud, no. 3528 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

عن جابر بن عبد الله أن رجلا قال يا رسول الله إن لي مالا وولدا. وإن أبي يريد أن يجتاح مالي. فقال: ( أنت ومالك لأبيك )

Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 2291, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Hadis-hadits di atas menunjukkan bahwa seorang anak dalam hal ini (sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak)  meski demikian Nabi tetap mengatakan “Semua hartamu adalah milik ayahmu.”

Allohummaghfirli dzunubi wa li walidayya warkhamhuma kamaa robbayani shoghiroo*** Wallohu ‘alam.(*)

banner ranau gran fondo

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan