Perpustakaan Terjebak Dalam Ancaman Sepi Pengunjung

PALEMBANG, GESAHKITA com–Perpustakaan merupakan sebuah gedung yang didalamnya berisikan kumpulan buku-buku yang tersususun rapi di rak-rak berfungsi untuk menyajikan berbagai informasi yang dibutuhkan pembaca nya.

banner 17 agustus, Dirgahayu Republik Indonesia, Indonesia Merdeka

Lebih jauh lagi, Perpustakaan dianggap sebagai tempat sekumpulan bahan pustaka, baik yang tercetak maupun rekaman yang lainnya, pada suatu tempat tertentu yang telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pemustaka mencari informasi yang diperlukannya dan yang tujuannya utamanya adalah untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninnya dan bukan untuk diperdagangkan.

Menurut Trimo,( 2005:220)
Masyarakat masih banya yang beranggapan bahwa di dalam perpustakaan hanyalah sekumpulan buku-buku yang tersusun rapi yang dikelompokkan dalam kategori yang sejenisnya dan masyarakat masih berfikir bahwa pergi keperpustakaan hanyalah menghabiskan waktu saja dan bahkan ada sebagian beranggapan serta menemukan pelayanan perpustakaan yang buruk sehingga masyarakat yang lebih memilih mencari informasi yang mereka butuhkan lewat internet atau digital dari pada pergi keperpustakaan yang memakan waktu dan tenaga.

Baca Juga :  Dibalik Cerdasnya Si Kancil, Ada Licik Bersemayam

Diketahui sebenarnya, perpustakaan tidak hanya gedung yang berisikan buku-buku saja tetapi berisikan banyak sumber-sumber informasi yang kita butuhkan.

Namun masyarakat banyak yang beranggapan kalau setiap orang yang pergi keperpustakaan hanyalah orang-orang yang kutu buku saja, meski secara faktanya diakui banyak juga masyarakat berkunjung keperpustakaan untuk mencari informasi, membaca novel dan mencari referensi yang di butuhkan oleh pengguna.

Faktor Menurunnya Pengunjung Perpustakaan

Penyebab menurunnya pengunjung ke perpustakaan dikalangan masyarakat antara lain disebabkan oleh faktor seperti pelayanannya kurang memuaskan dan desain interior yang sngat membosankan.

Pelayanan yang kurang baik sangat berpemgaruh terhadap minat kunjung perpustakaan dan koleksi-koleksi yang kurang memadai, ketika hendak mencari suatu referensi yang dibutuhkan dan kita lebih memilih mencari informasi melalui handphone atau digital dikarenakan koleksi yang kurang lengkap.

Dengan demikian kunjungan keperpustakaan menurun sehingga banyak masyarakat berpandangan buruk jika berkunjung keperpustakaan.

Baca Juga :  May Day Refleksi Dunia Usaha Ditengah Pandemic, Kita Dimana?

Pustakawan Harus Reaktif

Pustakawan juga dipandang buruk oleh masyarakat dikarenakan berpikir bahwa pustakawan adalah orang-orang yang suka marah dan selalu memiliki raut wajah yang tidak enak di pandang atau jutek.

Maka dari itu pustakawan harus reaktif dengan kemampuan mencari solusi untuk menarik minat baca masyarakat agar meringankan langkanya pergi ke perpustakaan. Dengan adanya solusi yang baik untuk menarik minat kunjung masyarakat maka pandangan masyarakat terhadap perpustakaan semakin baik.

Solusi yang akan dilkukan pustakawan ialah harus menambah koleksi-koleksi yang dibutuhkan pengguna dan pelayanan perpustakaan harus ditingkatkan lagi dengan cara senyum dan ramah terhadap pengguna perpustakaan dan perpustakaan juga mengadakan perpustakaan keliling agar masyarakat yang tinggalnya jauh dari perpustakaan juga bisa membaca dan mencari informasi yang dibutuhkan.

Dengan begitu pandanga masyarakat akan menjadi makin positif terhadap perpustakaan.

Penulis: Amelia Yuni,
Prodi Ilmu Perpustakaan, Adab dan Humaniora, UIN Raden Fatah Palembang

banner idul adha dprd okus
banner idul adha, akbp zulkarnain
banner idul adha, akbp danny
banner idul adha, ronaldo, davinci