Tuntutan dan Tantangan Inovasi Jitu Kehumasan Di tengah Pandemi Covid 19

  • Whatsapp
ilustrasi

HAMBATAN DAN STRATEGI HUMAS DALAM MEMPUBLISH KEGIATAN KELEMBAGAAN DI TENGAH MASA PANDEMI COVID 19

SURABAYA, GESAHKITA COM–Di penghujung tahun 2019, dunia dikejutkan dengan kemunculan virus corona atau yang sekarang dikenal dengan nama resmi covid-19 (corona virus diseases 2019). Virus ini pertama kali terdeteksi di Wuhan, salah satu kota industri yang ada di China. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri juga telah menetapkan bahwa covid-19 telah menjadi pandemi dunia.

Menurut data WHO (Jumat, 24 April 2020) jumlah orang yang terinfeksi positif covid-19 di seluruh dunia mencapai 2.716.917 orang dengan 190.985 orang meninggal dunia dan 744.580 orang dinyatakan sembuh. Di Indonesia sendiri pasien positif yang terinfeksi covid-19 mencapai 8.211 orang, dimana 1.002 orang sudah dinyatakan sembuh dan 689 orang di antaranya meninggal dunia.

Melihat kondisi dan situasi meluasnya penyebaran virus covid-19 yang tidak lagi menyebar antar negara tetapi sudah menjadi transmisi lokal, banyak negara menerapkan kebijakan ekstrim untuk menghambat penyebaran virus ini mulai social distancing atau physical distancing hingga lockdown.

Pemerintah Indonesia juga telah menerapkan berbagai kebijakan mulai social distancing  dengan mengkampanyekan gerakan digital #dirumahaja hingga kebijakan tegas berupa pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona virus Diseases 2019. Terakhir Presiden Jokowi telah melarang seluruh warga Indonesia untuk mudik.

Dengan adanya penerapan kebijakan pembatasan sosial di berbagai daerah di Indonesia maka hal ini akan mempengaruhi rutinitas kehidupan masyarakat seperti keharusan untuk belajar di rumah, bekerja di rumah (work frome home), dan beribadah di rumah. Konsekuensi  dari pembatasan sosial ini akan berdampak pada kinerja lembaga pemerintahan dan swasta baik di pusat maupun di daerah termasuk dalam hal pelayanan publik.

Sejumlah lembaga melakukan penyesuaian kebijakan untuk survive dalam menjaga kinerjanya terutama memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi pemangku kepentingan (stakeholder) untuk beradaptasi di era covid-19.

Pandemi virus Corona (Covid-19) telah meluhuhlantakan Indonesia di semua sektor tanpa terkecuali. Akibatnya, semua harus berbenah untuk menyesuaikan dengan pandemi ini. Wabah corona (Covid-19) yang belum diketahui kapan akan berakhir telah menciptakan pola kehidupan yang baru. Kondisi ini mendorong peran Humas untuk ikut beradaptasi dan menyesuaikan strategi dengan kondisi pandemi.

Humas mengambil peran yang penting untuk mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan dimasa-masa pandemi ini untuk masuk pada era baru yaitu era digital

Ada 3 (tiga) tantangan terbesar yang dihadapi praktisi humas selama menjalankan program Kehumasan dimasa pandemi Covid-19 seperti tantangan/kendala komunikasi dan informasi, tantangan/kendala anggaran yang harus dipangkas karena efisiensi anggaran perusahaan, dan tantangan merubah kegiatan yang biasanya offline menjadi online.

Ketiga tantangan ini harus diatasi dengan strategi humas yang kreatif dan inovatif oleh praktisi humas. humas diharapkan bisa memanfaatkan jalur-jalur media massa maupun media sosial, serta harus kreatif melakukan perubahan strategi komunikasi konvensional (offline/tatap muka langsung) menjadi komunikasi baru, komunikasi online/virtual melalui internet seperti Instagram, youtube, facebook, podcast, twitter, group chat, zoom cloud, google meet, dll.

Selain itu, di masa pandemi dan New Normal ini, praktisi humas harus pandai beradaptasi, selalu memperbaharui (update) informasi, kreatif, aktif dan proaktif disertai dengan tindakan korektif, selalu meningkatkan pemahaman akan teknologi digital, memiliki keahlian meneliti dan menganalisis suatu permasalahan. Dan sadar akan kondisi Instansi beserta lingkungan publiknya, bergerak cepat, selalu menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaan aktivitasnya sehari-hari

Di samping itu, praktisi humas juga dituntut untuk memahami perilaku Publik dan stakeholders, berpikiran terbuka, ketika seorang praktisi humas tidak dapat membuat trend, setidaknya praktisi humas paham bagaimana merespons trend, mempunyai kreativitas dan inovasi dalam menghadapi pandemi Corona, tentunya untuk pola komunikasi. Di mana sebelumnya melakukan komunikasi tatap muka secara langsung, saat ini melakukan penyebaran informasi dan kegiatan interaktif komunikasinya dengan menggunakan sistem online/virtual dan pemanfaatan media sosial.

Contohnya melalui sms blast, group chat, webinar melalui zoom meeting dan pemanfaatan media sosial yang sudah difollow oleh masyarakat

Tantangan komunikasi dan efisiensi biaya/anggaran Humas yang dipangkas hingga 60{d16028d1ae91105ee2af888528e4abba9e896c46ed4da329dd7684c3747e71fa} untuk melakukan kegiatannya, dilakukan dengan inovasi berupa memproduksi sendiri (mandiri) secara internal video, grafis, e-banner, e-poster dan materi-materi publikasi informasi yang dibutuhkan oleh stakeholders, tanpa harus bertemu secara fisik.

Selain itu, kendala yang dihadapi dalam menerapkan pelayanan publik berbasis digital adalah masih adanya masyarakat yang tidak melek akan internet. Menurut data survei APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) dan Polling Indonesia pada 2019, sebanyak 171,17 juta jiwa atau 64,8 persen dari 264,16 juta penduduk Indonesia yang telah dikatakan melek internet. Artinya, masih ada 35,2 persen atau sekitar 92,99 juta jiwa masyarakat Indonesia yang masih tidak melek internet. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan melek teknologi digital di era covid-19 ini maka diperlukan sosialisasi serta edukasi dari pemerintah dan para stakeholder kepada masyarakat.(*)

Oleh : DEDI SUNTORO S.Sos, MM

Jabatan Fungsional Pranata Humas Ahli Muda DPU BINA MARGA JATIM

Publisher/Editor : pur

 

pempek palembang, jual pempek palembang

Tinggalkan Balasan