Menu
Gesah Kita Dalam Bingkai Cerita

Hj Masayu Anna Kumari, Maestro Tari Palembang Serahkan Photo Sejarah Hingga Kain Usia 100 Tahun

  • Bagikan
kain songket usia ratusan tahun

PALEMBANG, GESSAHKITA COM–Bertepatan dengan hari ulang tahun kota Palembang ke -1.338 tahun, yang merupakan momentum bersejarah bagi salah satu kota tua di Nusantara ini, ternyata kesadaran merasa memiliki Palembang dengan segala keanekaragaman kultur seni budaya sejarah serta  masih banyak lagi uraian dibalik itu semua bukan la hisapan jempol belaka.

Lagi lagi kita menyaksikan masyarakat atau saksi sejarah baik masih menetap di Provinsi Sumatera Selatan maupun berada di luar dengan sukarela menyampaikan hal hal penting yang tentunya sangat  bernilai tiada bandingnya sebagai bukti bukti kebudayaan di daerah ini yang hingga saat ini menjadi warna tersendiri menjadi peradaban masa lalu, hari ini hingga masa akan datang.

Kemudian sudah barang tentu akan menjadi pembelajaran dan pertimbangan pertimbangan seperti apa dibalik itu semua bagi kita  untuk menempatkan hal hal tersebut setidaknya mengandung orientasi kemajuan bagi generasi hari ini dan tentu nya untuk generasi akan datang.

Seperti hal nya dengan salah satu sosok Pelestari Budaya Palembang, disebut sebagai Maestro tari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel),  Hj Masayu Anna Kumari mendatangi Dinas Kebudayaan kota Palembang, dengan membawa benda benda kesayangan milik keluarga, Kamis (17/6) di ruang rapat Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Sebanyak Tiga benda kesayangan yang dihibahkan tersebut  adalah  Selendang Songket  Motif Bunga Pacik yang sudah berusia 80  tahun hadiah dari ibundanya Anna Kumari  yaitu  Almah Masnatcik.

Disela sela acara penyerahan benda benda bernilai itu ia menjelaskan bahwa Motif  Bungo Pacik, katanya, zaman dahulu diperuntukan  khusus nya  dipakai oleh wanita Palembang keturunan Arab.

kain songket usia ratusan tahun

Kemudian juga termasuk dihibahkan hari ini yaitu Selendang  Pelangi atau  Jumputan umurnya lebih dari 100 tahun yang sering dikenakan pada gelaran event – event kesenian sejak Th 60 an oleh Hj Anna Kumari dan tim keseniannya salah satunya  di Jakarta  dalam tim kesenian Sumatera Selatan  tahun 1967.

Serta yang terakhir adalah  gambar Hj Anna Kumari, Penari Gending Sriwijaya  memberikan persembahan keputusan Hari Jadi Kota Palembang tanggal 17 Juni 1972 kepada RHA A.Rifai Tjek Yan yang menjabat Walikota  Palembang pada tahun 1970 -1978 yang bersumber dari Buku Penemuan Hari Jadi Kota Palembang yang diterbitkan Humas Pemerintah Daerah Kotamadya Palembang.

Acara Penyerahan dilakukan langsung oleh Hj Anna Kumari didampingi anaknya Mirza Indah Dewi ,Spd  diterima oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah didampingi kabid dan staf Dinas Kebudayaan kota Palembang.

Hj Anna Kumari menerangkan, dirinya memang sengaja menghibahkan benda kesayangannya tersebut.

“ Mungkin yang kami hibahkan ini tidak  seberapa  dan tidak seanggun keadaan sekarang, tidak sebagus apa yang ada sekarang, tapi ini adalah peninggalan dari keluarga saya dari nenek saya , waktu itu umur saya masih 7 tahun , “ungkapnya masih disela sela acara penyerahan di Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Ia pun menuturkan singkat sejarah dirinya bersama sama benda bersejarah tersebut dengan menyebutkan benda (pakaian kain dan selendang songket) pernah menjadi saksi Tarian Asal Palembang (tari selendang mayang) tampil di Istana Negara dan Taman Mini Indonesia pada tahun tahun 1960 an.

“Saya kemudian sudah pernah membawa benda ini Istana (Negara) untuk menari, bawa ke Taman Mini Indonesia Indah dan berbagai kesenian dan luar negara untuk menarikan tari selendang mayang yang  saya ciptakan , pakai selendang ini,” bebernya.

Hj Anna Kumari juga mengatakan untuk tidak melihat benda benda tersebut hebat secara kualitas, namun dibalik itu semua ada nilai nilai terkandung dibalik itu semua bahwa orang orang dahulu memiliki ketelatenan serta kesabaran, untuk memiliki sesuatu keindahan orang terdahulu bekerja keras berbulan bulan sehingga menghasilkan kualitas.

“jadi  janganlah  melihat hal ini merupakan dianggap sesuatu yang hebat, karena ini jauh dari sekarang, ini adalah  karya nenek-nenek kita,  membuat kain ini dengan tangan,  mengikat kain ini dengan tangan, menyelupnya dengan tangan,” kata Hj Anna Kumari

Dia juga menyebutkan zaman sudah berubah dengan kemajuan sudah ada pabrik yang bisa membuat kain jumputan dan disebutnya juga kalau dulu namanya kain pelangi.

“Bagi generasi saat ini, ia berpesan, serta generasi akan datang,  kenanglah-kenanglah kain pelangi ini bahwa  zaman dahulu keturunan diatas kita membuatnya dengan tangan tangan mereka, meski sekarang semua dengan pabrik,”ucapnya.

kain songket usia ratusan tahun

Generasi sekarang menurutnya harus bangga dengan hasil karya keturunan –keturunan di masa lalu.

Mengenai kain songket  motif Bungo Pacik  yang umurnya 80  tahun menurut Anna Kumari merupakan hadiah dari ibunya dan dulu di pakai oleh wanita Palembang keturunan Arab.

“ Pacik dalam bahasa Palembang orang keturunan Arab, nah yang bukan Bungo Pacik waktu itu tidak memakai ini ada memakai Bungo Inten, Bungo Inten untuk orang setengah tua , ada yang Lepus , yang Lepus untuk penganten, ada Bungo Cino, Bungo Cino di pakai oleh wanita Palembang keturunan Cino, tapi sekarang sudah ada songket yang bikin pabrik, kita harus bangga dulu dibuat dengan tangan bukan dengan mesin dibuat  sebulan , dua bulan  bahkan berbulan-bulan membuatnya  dengan tangan,” katanya.

Dan  mengenai poto Walikota Palembang RHA A.Rifai Tjek Yan menurut  Anna Kumari dia sempat menarikan  Tari Gending Sriwijaya  dan menyerahkan piagam  hari jadi kota Palembang  yang diterima Walikota Palembang tanggal 17  Juni 1972.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang  ibu Hj Zanariah  S.Ip M.Si mengucapkan terima kasih  yang cukuo dalam atas hibah dari Hj Anna Kumari, dia berharap semoga benda-benda ini bisa lestari  serta bisa dinikmati Para pencinta sejarah dan Budaya Palembang yg berkunjung  ke Museum SMB 2 serta  memotivasi masyarakat.

“Dan semoga menjadi amal bagi keluarga Hj Anna Kumari,” katanya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan