SEKAYU, GESAHKITA COM–Mengubah perilaku masyarakat untuk menjadi baik dan benar sesuai dengan tatanan norma Agama diakui tidak semudah seperti membalikan telapak tangan dibutuhkan keuletan dan trik trik jitu sehingga lambat laun apa yang disampaikan akan diakui benar ada nya dan mereka mau menuruti.
Hal tersebut disampaikan Margaretha Sok H Hasuni (50) mantan Kepala Desa 2 (dua) periode, Desa Teluk Kijing II Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, yang mana dinilai berani menantang adat atau kebiasaan telah berlangsung turun temurun sehingga apa yang menjadi usulan nya pada tahun 2011 silam semenjak beberapa hari saja baru dilantik menjadi Kepala Desa Desa Teluk Kijing II dan pada setiap pidatonya Sok sapaan pria ini kerab mengkampanyekan bahwa status “Gemiyan” calon pengantin perempuan yang menginap di rumah calon pengantin pria tidak berlaku atau tidak diperbolehkan lagi”.

“ Siapa yang menjamin jika si “gemiyan” Perempuan dan “gemiyan” Lelaki tidak berbuat atau melakukan hal yang tidak diinginkan saat orang tua mereka pergi ke ladang atau ke sawah, karena jika perempuan dan lelaki itu bersama sama maka pihak ketiga nya adalah Setan, “tegas Sok mengenang apa yang kerab ia sampaikan ke masyarakat baik dengan berkunjung langsung atau di acara resepsi dan di masjid Atau musholah.
Tidak kurang dari 2 (dua) tahun pula Kades Sok memperjuangkan itu, namun tantangan bahkan hujatan dia tidak memperdulikan karena dengan niat menyampaikan apa yang digariskan dan tuntunan agama bahwa ‘sampaikan jika pun hanya 1 (satu) ayat akan kebenaran’, tegas nya dibincangi baru baru ini.
Meski dalam perbincangan tersebut bernuansa santai, namun bagi warga Kabupaten Musi Banyuasin khusus nya warga desa atau kepala Desa bahwa Asosiasi Persatuan Kepala Desa Se Kabupaten Muba bahkan Kabupaten tetangga di Sumsel sangat mengenal dengan Kades Sok ini, yang memang gemar bergaul.

Bukan hanya figure yang dirinya peroleh merupakan dari Almarhum sang ayah (Alm H Husni Hasan) yang memang tokoh Politik Golkar Sumsel dan Musi Banyuasin zaman orde baru, bahwa Kades terkesan suka blak blakan (bicara apa adanya) ini mengaku secara jujur bahwa juga mengalami juga pahit getir kehidupan sebut saja gagal bisnis dan berusaha sempat juga mengalami apa itu yang namanya hidup keras di jalanan dan dia juga mengalami hal itu.
“Ya jadi begitu ketika saya berniat menjadi pemimpin maka saya tidak mau sia siakan kesempatan bahwa saya sadar masyarakat membutuhkan kepemimpinan yang bisa membawa perubahan perubahan dan inovasi, “kenang Shok ketika ditanya mengapa berniat menajdi Kades kala itu.
Ide Jembatan Cinta Tercipta dan Viral di Medsos
Bukan hanya itu, bahwa Margaretha Sok H Hasuni ini ternyata juga tipikal Kepala Desa yang memang bukan seperti kades kades biasa duduk manis tidak melakukan pengamatan pengamatan apa yang tengah terjadi di masyarakat desa, masalah perilaku remaja pun tidak luput dari pengamatan yang mana menurut dia “meski hal tersebut bernilai budaya jika bermuara atau berakibat tidak baik buat apa mempertahankan bahkan akan melahirkan hal hal mudhorat dan zina’.

Satu lagi adat yang juga berlangsung cukup lama yakni “ Adat Besindo” atau “Meet-up” bertemu nya 2 (dua) orang remaja putra dan putri dalam hubungan berpacaran dengan berjanji dipinggir hutan desa atau ditempat sepi terkadang di atas pemakaman umum untuk sekedar ngobrol.
Sang Kades sangat menentang hal itu. Namun bukan hanya menentang ‘seenak nya dewe’ tanpa memberi solusi.
Maka ide kreatif muncul dari kepala nya sendiri dengan membangun sebuah jembatan yang dia namai “jembatan Cinta”
Kades Sok menuturkan dengan adanya jembatan Cinta tersebut anak remaja dapat leluasa berjanji ngobrol nya di tempat terbuka dan tidak menjadi fitnah.
“Kita bernisiatif dengan menggunakan Anggaran Dana Desa Jembatan Sepanjang lebih kurang 100 meter tersebut kita hiasi dengan lantai keramik bercor beton diatas areal persawahan sehingga bersih tidak ada ancaman hewan liar dan nyamuk dan lain sebagai nya yang mana intinya ini menjadi Solusi selain jembatan tersebut tanpa saya sadari sebelumnya ternyata dilirik semua pihak menjadi tempat atau objek wisata, “kenang Margaretha Sok masih dalam perbincangan santai itu.

Sok mengaku hanya berniat menjalankan amanah jika memimpin melindungi masyarakat dari berbuat dosa sebab dengan tidak melarang masyarakat untuk berbuat dosa sama seperti membiarkan mereka berbuat dosa.
“Kan sama saja itu artinya bermuara dosa, maka saya harus tegas dari pada saya diakhirat kelak dipertanyakan Allah SWT, “ungkapnya.
Namun begitu ketika ide nya tersbut diterimah hingga viral seluruh nusantara bagi Sok hal itu saya anggap bonus saja.
“Sejujurnya saya tidak butuh pujian atau sanjungan dan jika itu baik saya mengucapkan Alhamdulillah, “kata Sok seperti mau berlinang.
Ditanya ke dia adakah sebenarnya yang belum sempat terwujud atau yang belum sempat diceritakan terkait capaian yang sebenarnya masyarakat merindukan kepemimpinan serupa dan dia (Sok) mengaku sempat diakui nya bahwa Objek Lokasi Wisata Air yang penuh cerita fenomenal yang mana Cerita Sastra tutur Dempo Awang yang melahirkan Tenampo Sakti yakni “Tanah Bisa Dimakan” itu dia (Sok) dengan keras mensuarakan sebagai bagian dari objek wisata Kabupaten Muba yang patut dihargai.
“Kan ini luar biasa artinya fenomenal (tidak Ditemui di daerah lain) jika ada cerita rakyat seperti ini, dan selain itu unsur sacral akan cerita ini tidak banyak dan para leluhur kita pendiri desa ini sangat mewanti wanti jangan berbuat dosa atau melupakan dari mana asal usul berhasilnya seseorang jika tidak bernasif sama dengan sang dempo awang meski ini ilustrasi cerita dengan orang tua, “jelas Sok.
Cerita Dempo Awang Menurut Pemimpin Redaksi Gesahkita.com Arjel Sy Jr dalam tulisan nya menjadi cerita wajib bagi masyarakat keturunan Desa Teluk Kijing sebagai sarana mennghormati oarng tua yang telah bersusah payah menghidupi agar kelak anaknya jangan menjadi cerita dalam Dempo Awang.
Kembali pada penuturan sok bahwa yang menjadi target nya atau belom terselesaikan adalah ingin membangun atau mengupayakan sektor wisata secara umum di kabupaten Muba termasuk juga Wilayah objek wisata tanah boleh dimakan di desa nya itu.
“Jika suatu saat saya berkesempatan memimpin dengan warna yang berbeda saya akan melanjutkan cita cita saya untuk membuat “Tangga Tangga Cinta” yang bakal dibangun dilereng lereng sungai untuk bersantai memanjang sungai berhadapan dengan Lokasi Tenampo Sakti (Tanah Boleh Dimakan) sehingga pengunjung Tenampo Sakti dapat duduk bersantai di Tangga tangga Cinta tersebut, “kata Kades 2 periode desa teluk kijing II.
Ditanya lagi ke Kades Sok apakah dia kan mengikuti langka sang adik yang lebih dulu melaju ke Pangung Politik (Rudi Hartono) Politisi Partai Nasdem Muba. Sok tidak mau menjawab dengan terbuka dan memang tipikalnya bukan lah orang mudah terpancing namun tidak menyinggung menolak awak media sedang berbincang ringan dengan dirinya.
“Nanti aja itu, kita ini hanya berencana kan Allah yang mengetahui yang baik buat kita, “tutup nya.(**)
Editor : Arjeli Sy Jr









