Tradisi “Angkan-Angkanan” Hingga “Kekerabatan” Disebut Dalam Halal Bi Halal KPD 1443 H

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn

PALEMBANG, GESAHKITA COM–Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) menggelar Silahturahmi Halal BI Halal yakni perayaan Idul Fitri 1443 H dengan mengambil Tajuk, “ Eratkan Kekerabatan Untuk Kemaslahatan Kesulitanan Palembang Darussalam, “ bertempat di Istana Adat Kesulitanan Palembang Darussalam Jalan KHM Mansur Kota Palembang, Senin (16/05/2022)

Sejumlah tokoh di Palembang hadir dalam kegiatan penuh keakraban tersebut, mulai Akademisi, Politisi, seniman, sejarawan, Budayawan, sastrawan, dan berbagai komunitas.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn mengatakan dengan adanya kekerabatan Kesultanan Darussalam ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali kearifan yang pernah hidup di masa Kesultanan sebelum nya.

Sebab kata SMB IV zaman Kesultanan dahulu anggota kekerabatan KPD tidak hanya melulu dari Zuriat saja ( yang bergelar) akan tetapi semua yang memiliki kapasitas di masyarakat diangkat sebagai kekerabatan KPD.

Vebri Al Lintani Budayawan Sumsel
Vebri Al Lintani, Budayawan Sumsel

“ Seperti para pasirah di zaman itu mereka itu tetap kekerabatan Palembang Darussalam yang diangkat Sultan sebagai orang penting di suatu daerah di Sumsel ini, “ kata SMB dalam wawancara di sela acara halal BI halal tersebut.

Oleh sebab itu KPD juga tetap menghidupkan tatanan dan tradisi itu, karena melihat Sumsel ini sangat majemuk, dari suku manapun ada termasuk, Komering, Basemah,  Musi, Ogan dan masih banyak lagi.

“ Kita tidak bisa besar jika kita tidak merangkul semua dan kita tidak membedakan disini kita ada Arab, India, China, Jawa dan lain sebagai nya. Mereka yang kita anggap memiliki kemampuan tetap kita rangkul menjadi bagian dari kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam, “ ucap SMB IV menjawab pertanyaan wartawan jika apa yang melatari kekerabatan dan kedepannya seperti apa

Sebab menurut SMB IV Allah menjadikan kita berbeda satu sama lainnya namun yang membuat nya lebih hanya ketaqwaan kita.

Sementara itu, Budayawan Sumsel Vebri Al Linta atau dalam kekerabatan KPD akrab dengan sebutan pangeran Suryo menjelaskan kekerabatan itu sendiri sudah lama hidup di Sumatera Selatan dan Sumbagsel lebih luas lagi.

Vebri menjelaskan Kekerabatan ini sangat identik dengan “Angkan angkanan” yang mana peristiwa atau prosesi terjadi angkan angkanan ini banyak yang melatar belakangi.

Dia dalam kesempatan tersebut memberi contoh istilah tersebut dengan bahasa “Adopsi” secara legalitas untuk menjadi salah satu anggota keluarga.

Menurut Budayawan Sumsel itu, tradisi atau budaya “angkan angkanan” ini begitu Arif dan bijaksana sebab dengan mudah nya saling mengangkat seseorang untuk menjadi saudara.

“ Iya jika ada kemiripan nama, dan jika tidak muka sama,  atau ketika sosok Dimata seseorang sosok dia temui cocok untuk dijadikan saudara maka mereka bersepakat untuk menjadi saudara, “ jelas Vebri tentang bagaimana “angkan angkanan” hidup di Kesultanan Palembang Darussalam ini.

Vebri juga mengungkapkan “Tepung Tawar” yang merupakan juga pada bagian akhirnya, bahwa pihak berkonflik melakukan angkan angakanan.

“Usai mereka bebalah(bentrok) dan kemudian sepakat untuk berdamai tidak masuk ke ranah hukum penyelesaian akhir nya selalu melakukan Angkan angkanan meskipun betapa dahsyat konflik dan perkelahian tersebut, ” terang nya.

Menyinggung apa yang menjadi Jargon atau moto pada Kesultanan Palembang Darussalam berbunyi, “Adat di Pangku Syariat Dijunjung”, Vebri menjelaskan bahwa Ratu Sinuhun Pengarang Hukum Adat Simbur Cahaya sangat mengikuti Adat istiadat yang berkembang di Sumsel ini dan tidak harus dihapuskan.

” Meski kita ketahui Kesultanan ini sangat Islami tetap saja Di “Simbur Cahaya” (Undang-undang hukum adat, red) tidak menyebutkan nama “Allah” , tapi jelas jelas Sang Ratu Sinuhun mengedepankan Syariat yang tetap menjadi ciri khas Kesultanan yang Agamais, ” kata Vebri lagi.

Maka dengan kata lain, dalam kesempatan tersebut Budayawan Vebri  memberikan pencerahan kepada kita semua bahwa Kesukuan tetap hidup tetapi tidak bersinggungan satu sama lain.

” kita tetap hidup damai dan zero konflik karena leluhur kita sudah membentuk nya sedari dulu,” sebut nya.(Tim Media KPD)

 

 

 

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

Tinggalkan Balasan