selamat idul fitri selamat menunaikan ibadah puasa selamat menunaikan ibadah puasa selamat menunaikan ibadah puasa hari jadi kota pasuruanisra miraj hut oku selatan, hari jadi oku selatan

Obsevasi Lahan Gambut: Menanam Pinang Bonus Kopi Liberika

PALEMBANG, GESAHKITA COM—- Petani asal Kabupaten OKI-Sumsel melakukan observasi perkebunan di lahan gambut di sejumlah kabupaten dalam wilayah  Provinsi Jambi, Senin-Kamis (20-23/6). Para petani melihat langsung budidaya pinang Betara, kopi liberika, dan nanas queen.

Mardi, pemilik Penangkar Benih Perkebunan (PBP) Sri Rezeki Kecamatan Bentara Kabupaten Tungkal, Provinsi Jambi mengupas semua hal tentang pinang Bentara dan kopi liberika tungkal.

“Pinang ini kami tanam mulai dari tahun 1996 awalnya untuk batas desa yang ada di kabupaten Tungkal.
Pertama kami mencoba menanam pinang dan membuat bibitnya langsung. Waktu itu banyak orang tak percaya saya dapat membibitkan pinang. Pinang disemai apa langsung bisa hidup,” ungkapnya.

Awalnya, pak Mardi coba menanam di 3.000 polybag pinang dan 3.000 polybag kopi. Kebetulan ada yang beli, kemudian kerja sama dengan Kabag Ekonomi Kabupaten. “Saat itu dengan misi batas desa. Awalnya seperti itu. Bagian Ekonomi Kabupaten membeli bibit pinang dan kami bagikan untuk batas desa,” terangnya.

Mardi mengungkap, harga pinang tertinggi terakhir Rp26 ribu per kilo. “Saat ini harga pinang murah. Pinang kering Rp7 ribu dan yang basah Rp11 ribu,” bebernya merincikan untuk biji pinang kering Rp18 ribu per kg dan biji pinang basah Rp12 ribu per kg.

Renaldo Edo, ketua kelompok tani di Simpang Tiga Sakti Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten OKI. Dengan Obsevasi ini, jelas memotivasi para petani apalagi proses menanam pinang ini tidak memeelukan perlakuan khusus . “Saya sendiri membuka kebun sawit dan karet. Harga bibitnya tinggi dan untuk perawatannya juga memerlukan biaya yang tinggi. Ternyata setelah hitung-hitungan biaya perawatan dibandingkan menanam sawit kayaknya lebih menguntungkan (pinang) ini,” ujarnya.

Ilmu yang didapatkan dari hasil observasi ini, kata Renaldo, akan disampaikan kepada kelompok tani lain di desanya.

“Kebetulan kami ada wilayah. Yang penting kami menularkan ilmu kepada masyarakat. Dengan adanya perbandingan ini kami lebih semangat. Kami belajar proses pembibitan hingga pemanenan dan pemasarannya sangat muda,” katanya.

Sementara itu, budidaya kopi liberika yang ditaman di lahan gambut kini dapat dikembangkan menjadi ekowisata. Hal ini diungkap Harihadi pemilik ekowisata Sukorejo di Kelurahan Mekar Jaya Kecamatan Tanjung Jabung Barat.

“Di ekowisata Sukorejo kami menampilkan tentang kopi Liberika. Di dalamnya ada kebun, pembimbitan, pascapanen, industri pengolahan bubuk, sampai tempat ngopinya, semuanya kami kemas menjadi paket wisata,” ungkapnya.

Dalam observasi ini wakil Direktur PT OKI Pulp and Paper Mills, Gadang H Hartawan mengatakan, dirinya berharap keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar OKI Pulp and Paper Mills di masa mendatang.

“Kalau kami prinsipnya ingin punya kenangan. Kenangan bahwa keberadaan kami bisa lebih bermanfaat. Manfaat bagi kami agar masyarakat yang lahannya tidak bermanfaat dan menjadi lahan tidur dengan adanya observasi ini, lahan gambut bisa lebih dimanfaatkan terutama bagi masyarakat sekitar pabrik” ucap Gadang Hartawan.

Menurut Gadang, ditahun 1990 daerah penghasil pinang Betara , kopi liberika, dan nanas queen di Provinsi Jambi itu sama seperti di sekitar lokasi pabrik yang terletak di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. “Prinsipnya, sama dengan tempat, lahan banyak terbengkalai dan tidak bermanfaat. Upaya ini agar lebih cepat melakukan perubahan,” ujarnya.

Dia berharap kunjungan seperti ini bisa menyampaikan fakta di lapangan. “Lahannya sama. Kenapa tidak bisa melakukannya untuk kebaikan ke depan. Sumber bibit jelas. Bagaimana kami membuat percontohan dulu dari beberapa kelompok tani di wilayah PT OKI Pulp and Paper Mills,” paparnya.

Ada dua alasan melakukan upaya tersebut. Pertama, lanjut Gadang, siap memberikan dukungan untuk kebersamaan. Apalagi ada contoh dan berhasil, pasti menular. Masyarakat selalu melihat contoh.

“Kedua, jangan selalu berpikir sawit, sawit, sawit. Dengan adanya pinang bisa ada peluang tumpang sari (dengan kopi), nanas, Menanam tanaman lain tentu bisa dilakukan diarea gambut karena para petani sudah melihat contoh nyata, kalau digarap dan dikerjakan dengan serius hasilnya akan maksimal tentu saja meningkatkan perekonomian bagi petani sekitar pabrik”.(agk)

Leave a Reply