RHL: Memperbaiki lingkungan dan merajut kesejahteraan

BerandaNasionalRHL: Memperbaiki lingkungan dan merajut kesejahteraan

Published:

RHL: Memperbaiki lingkungan dan merajut kesejahteraan

PALEMBANG, GASAHKItA COM—Hutan memiliki fungsi hidrologis sebagai pengatur tata air bagi kawasan di sekitarnya. Gangguan terhadap hutan, mengakibatkan terganggunya proses-proses hidrologis yang berlangsung di alam.

Sayangnya, dampak gangguan terhadap siklus hidrologis ini baru dirasakan saat terjadi bencana. Banjir, tanah longsor dan kekeringan merupakan dampak nyata yang dirasakan akibat gangguan fungsi hutan, yang terjadi ketika intensitas gangguan terhadap hutan semakin meningkat.

Pengurangan tutupan hutan merupakan salah satu bentuk gangguan yang terjadi di kawasan hutan. Penyebabnya bisa bermacam-macam, antara lain pembalakan liar, kebakaran dan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Musi berkomitmen untuk menurunkan laju deforestasi hutan melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).

Hal ini sejalan pula dengan komitmen Kementerian LHK untuk mencapai Folu Net Sink 2030. Kegiatan RHL ini mencakup kegiatan secara vegetative dan secara sipil teknis.

Sasaran kegiatan RHL ialah lahan kritis, baik di dalam maupun di luar kawasan. Tujuan kegiatan RHL tak hanya untuk menanggulangi lahan kritis, lebih dari itu, RHL bertujuan untuk pengendalian Banjir dan longsor, pengamanan danau dan infrastruktur SDA, optimasi produktivitas lahan, peningkatan karbon stok, peningkatan kualitas dan estetika kawasan IKN dan Wisata, dan kesejahteraan rakyat.

Dalam konteks kesejahteraan, kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan mulai dari tahap perencanaan telah melibatkan peran serta aktif masyarakat yang berada di sekitar sasaran lokasi kegiatan RHL.

Bentuk peran serta aktif ini antara lain ditandai dengan keterbukaan bagi masyarakat dalam menentukan jenis-jenis tanaman RHL yang diminati dan bernilai ekonomi tinggi. Tentunya, pemilihan jenis ini juga sesuai dengan kondisi biofisik di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, tahapan kegiatan RHL mulai dari penanaman hingga pemeliharaan, tak lepas dari peran serta masyarakat setempat. Dengan upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian fungsi hutan sebagai pengatur siklus hidrologis sekaligus penyumbang dalam perekonomian masyarakat.

Kepala BPDASHL Musi Bapak Dr. Sulthani Aziz, M.Sc,menyampaikan bahwa “Progres kegiatan RHL di setiap sasaran lokasi tentunya berbeda-beda, namun, dari beberapa sasaran lokasi yang telah dilaksanakan RHL kita mendapat laporan bahwa masyarakat sudah panen buah-buahan terutama untuk komoditi nangka, tentunya hal ini merupakan hal positif yang dapat memacu semangat kita untuk bersama-sama melestarikan hutan”.

Pada tahun 2019, rehabilitasi hutan dan lahan telah dilaksanakan seluas 10.400 hektar di seluruh wilayah kerja BPDASHL Musi. Sebaran lokasi sasaran RHL tersebut meliputi 3.900 hektar di Kabupaten OKU, 640 hektar di Kota Pagaralam, 250 hektar di Kabupaten Muara Enim, 1.460 hektar di Kabupaten Lahat, 2.300 hektar di kabupaten OKU Selatan, dan 1.850 hektar berada di Kawasan Konservasi HAS Gumay Tebing Tinggi dan SM Gunung Raya.

Kegiatan RHL ini telah diserahterimakan kepada pemangku wilayah pada tahun 2021.
Kegiatan RHL tahun 2021 dilanjutkan kembali seluas 3.100 hektar meliputi 1.550 hektar di kabupaten OKU, 500 hektar di Kabupaten OKU Selatan, 300 hektar di Kabupaten Muara Enim, 550 hektar di Kota Pagaralam, dan 200 hektar di Kabupaten Empat Lawang.

Kegiatan RHL tentunya akan terus berlanjut untuk menjawab kebutuhan rehabilitasi secara keseluruhan. Kementerian LHK merilis luasan Lahan Kritis untuk wilayah Sumatera Selatan yaitu 733,756 hektar (SK. 306/MENLHK/PDASHL/DAS.0/7/2018).

(End)

Berita Terbaru

hari kesaktian pancasila peringatan kesaktian pancasila selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha selamat hari raya idul adha

Jendela Sastra