Tradisi Sambut Asyura 10 Muharam di Palembang Dengan Bubur Asyura

0 0

Tradisi Sambut Asyura 10 Muharam di Palembang Dengan Bubur Asyura

PALEMBANG, GESAHKITA COM—Memperingati 10 Muharam 1444 H Palembang Darussalam Sepakat (Pedas) bertempat di sekretariat Pedas (Rumah Madani) jalan Datuk M Akib 22 Ilir membagikan bubur Asyura kepada anak yatim, warga sekitar dan anggota pedas , Selasa (8/8/2022).

Sejarah Bubur Asyuro ini bermula dari kisah Nabi Nuh a.s. ketika terjadi tsunami super besar yang menenggelamkan bumi. Nabi Nuh saat itu menyelamatkan diri dalam sebuah kapal besar yang dibuatnya berdasarkan Wahyu, bersama para pengikutnya yang beriman serta bermacam jenis hewan berpasangan masuk ke dalam bahtera. Kapal berlayar selama 150 hari hingga air bah akhirnya surut. Kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi pada hari Asyuro. Ketika berlabuh, mereka merasa lapar sedangkan persediaan bahan makanan sudah habis, tinggal saja sisa-sisanya.

Pose bersama pengurus Pedas

Lalu Nabi Nuh menyuruh para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan, seperti: kacang-kacangan, beras, gandum dan sebagainya.

Setelah terkumpul masing-masing segenggam, agar supaya bisa cukup untuk dimakan oleh orang banyak, lantas Nabi Nuh membuatnya menjadi Bubur. Maka terkenallah dengan sebutan ‘Bubur Asyuro’.
Baik sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam hingga sekarang, sedekah Bubur Asyuro yang penuh barokah ini masih dilakukan oleh masyarakat dan menjadi adat tradisi budaya Palembang.

Sekjen Pedas, Kms Ahmad Idham mengatakan “Adat istiadat budaya tradisi Palembang bersumber dari syariat agama. Di antaranya ialah memperingati Hari Asyuro (10 Muharram). Syekh Abdus Samad al-Palembani dalam Risalahnya mengajarkan beberapa Amaliah yang dikerjakan pada Hari Asyuro, antara lain: Puasa, mengusap kepala anak yatim, sedekah, meluaskan belanja, shalat sunah, mandi, bercelak mata, silaturrahmi, berkunjung kepada alim ulama, membesuk orang sakit, memotong kuku, membaca surah al-Ikhlas 1000x, membaca tasbih dan bacaan Asma Allah lainnya.

Salahsatu Amalillah yang menjadi adat tradisi Palembang yaitu sedekah ‘Bubur Asyuro’ (suro), tradisi ini harus harus kita jaga dan pelihara karena mengingatkan kita ada anak anak yatim piatu yang harus dibantu, untuk itu tradisi yng bagus ini harus dilestarikan dn dirawat kalau tidak akan luntur dan hilang”, terang Kms Ahmad Idham.(red)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan