Kontroversi Patung Soekarno di Banyuasin: Respon DKSS dan Sorotan Seniman Perupa Sumsel
PALEMBANG, GESAHKITA COM–Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) memberikan respons terkait viralnya patung Sang Proklamator Soekarno di Banyuasin, Sumatera Selatan. Iqbal Rudianto, Ketua DKSS, menegaskan kekritisannya dalam konferensi pers, menyatakan bahwa permasalahan ini perlu segera dibahas karena sudah dua kali patung tersebut menjadi viral akibat ketidakmiripannya dengan Soekarno.
Seniman perupa senior, Wawan, setelah survei langsung ke lokasi, menyatakan bahwa proses pengerjaan patung tidak sesuai standar. Ia menyoroti kebutuhan akan desain gambar dan maket untuk patung seukuran 6 meter. Wawan menyarankan penggunaan teknik potongan-potongan atau pencetakan sebelum disusun, tetapi tetap menggunakan model maket skala.
Syamsul, seniman perupa senior lainnya, menambahkan bahwa pembuatan patung yang merepresentasikan tokoh yang dikenal oleh masyarakat memerlukan keterlibatan saksi hidup untuk memastikan kecocokan. Empat elemen penting yang harus dilibatkan dalam pembuatan monumen, menurutnya, adalah supervisor, seniman ahli, seniman partisipan, dan tukang ahli.
Budayawan Sumsel, DR Erwan SuryaNegara, mengkritik patung tersebut dengan menyoroti monumen keberagaman nusantara yang sudah diakui dunia, seperti megalitikum di Pasemah Pagar Alam. Erwan merasa memalukan bahwa generasi sekarang membuat monumen seperti itu, sementara leluhur telah menciptakan monumen kelas internasional.
Erwan juga menekankan pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumsel agar budaya tinggi dapat diekspor dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Namun, ia meragukan pemahaman dan kemampuan Dinas terkait yang ditunjuk untuk pembuatan patung ini, menyatakan bahwa seni rupa tidak bisa disamakan dengan pengetahuan arsitektur.
Kontroversi ini menunjukkan perluasan perbincangan terkait seni dan budaya di Sumatera Selatan, serta tantangan dalam menjaga kualitas karya seni yang merepresentasikan tokoh sejarah penting.










