GESAHKITA – Bencana banjir bandang atau Galodo disertai tanah longsor hebat yang melanda kawasan Lembah Anai, Tanah Datar, Sumatera Barat, pada Rabu, 27 November 2025, telah melumpuhkan total akses vital Jalan Nasional yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi.
Kondisi terkini di lokasi menunjukkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah, dengan badan jalan terputus sepenuhnya akibat terjangan arus deras.
Laporan terbaru dari lokasi (per 29/11/2025) menyebutkan, salah satu ikon krusial di jalur tersebut, Jembatan Kembar, hancur total diterjang material banjir.
Selain itu, badan jalan di area Lembah Anai, khususnya di kawasan Mega Mendung, terbelah dua dan putus total, bahkan sulit dilalui dengan berjalan kaki.
Kerusakan ini disebabkan oleh arus sungai Batang Anai yang membawa material deras berupa batu-batuan besar, pecahan aspal, pohon tumbang, dan lumpur.
Total Korban dan Dampak Kemanusiaan
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat (per 29/11/2025), bencana hidrometeorologi yang melanda provinsi tersebut sejak akhir November 2025 telah merenggut 61 korban jiwa dan menyebabkan 90 orang masih hilang. Sebanyak 3.900 Kartu Keluarga atau lebih dari 69.239 warga terpaksa mengungsi.
Di kawasan hilir, tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman, petugas menemukan 33 korban jiwa yang diduga terseret arus dari arah Lembah Anai.
Saat ini, kontraktor bersama alat berat (ekskavator) telah dikerahkan ke lokasi untuk membersihkan material longsor dan puing-puing jalan.
Namun, upaya pembersihan ini menghadapi tantangan besar karena cuaca ekstrem masih melanda dan aliran sungai masih sangat deras, bahkan volume air cenderung membesar saat hujan kembali turun.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, juga meninjau lokasi bencana (29/11/2025) untuk mempercepat proses perbaikan dan melaporkan kondisi faktual kepada Pemerintah Pusat, meskipun status darurat bencana nasional belum ditetapkan.
Akibat terputusnya akses utama ini, masyarakat dan distribusi logistik dari Padang menuju Bukittinggi harus memutar melalui Kabupaten Solok, yang menambah waktu tempuh sekitar tiga jam dari waktu normal.
Selain itu, beberapa fasilitas umum seperti listrik di kawasan wisata masih terganggu, dan jaringan komunikasi seluler dilaporkan sangat lemah.
Bencana ini disinyalir merupakan dampak dari kerusakan lingkungan, mengingat kawasan Lembah Anai sebelumnya sudah menjadi perhatian karena adanya warung-warung ilegal yang dibangun di area yang rawan bencana.










