Palembang, GESAHKITA – Mengawali hari kerja pertama di tahun 2026, Wali Kota Palembang Ratu Dewa melakukan aksi nyata dengan turun langsung ke lapangan.

Melalui kegiatan bertajuk “Anti Mager”, Ratu Dewa berjalan kaki bersama jajaran Kepala OPD, camat, dan lurah untuk memantau infrastruktur serta progres pembangunan kota pada Jumat (2/1/2026) pagi.

- Advertisement -

Rombongan memulai perjalanan pukul 06.00 WIB dari Bundaran Air Mancur (BAM) Titik Nol Kilometer.

Di lokasi ini, Ratu Dewa memberikan instruksi tegas kepada OPD terkait untuk merenovasi kawasan tersebut secara serius dan berkelas.

“Bangunan air mancur dan titik nol ini harus bagus dan berkelas. Apalagi tidak lama lagi kita akan memperingati peristiwa Perang Lima Hari Lima Malam. Ini adalah ikon sejarah perjuangan rakyat Palembang,” ujar Ratu Dewa.

Saat melintasi Jalan Kolonel Atmo, Wali Kota mengungkapkan rencana strategis untuk menghidupkan kembali ruang publik malam hari.

Ia menargetkan kawasan tersebut menjadi jalur pedestrian baru setiap malam Minggu sebagai alternatif pengganti pedestrian Sudirman yang saat ini vakum.

Langkah ini ia harapkan mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan menciptakan ruang interaksi sosial yang nyaman bagi warga Palembang.

Sementara itu, saat memasuki area Pasar Cinde, ia meminta para pedagang untuk menata lapak lebih mundur agar arus lalu lintas dan estetika pasar lebih tertata rapi.

Kegiatan jalan kaki ini berakhir di situs sejarah Goa Jepang, KM 5. Ratu Dewa langsung menginstruksikan jajarannya untuk:

  1. Pembersihan Kawasan: Segera merawat dan membersihkan area goa dari semak atau sampah.

  2. Koordinasi Pelestarian: Menggandeng Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) untuk mengembangkan situs sebagai destinasi wisata sejarah.

  3. Kajian Ilmiah: Melakukan studi terkait kebenaran adanya lubang yang disebut-sebut tembus hingga kawasan Charitas.

Ratu Dewa menegaskan bahwa aksi ini merupakan simbol perubahan budaya kerja di lingkungan Pemkot Palembang pada tahun 2026.

Ia menginginkan jajaran birokrasi tidak hanya bekerja di balik meja (rutinitas), tetapi aktif bergerak melihat realita di masyarakat.

“Saya ingin budaya kerja kita berubah. Tidak mager, tidak hanya rutinitas. Kita harus bergerak dan bekerja nyata untuk masyarakat,” tutupnya.