GESAHKITA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai mengidentifikasi kerusakan Bendung dan Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Pante Lhong di Kabupaten Bireuen, Aceh, pascabencana banjir Sumatera.

Langkah ini bertujuan untuk memulihkan layanan pengairan bagi ribuan hektare sawah yang terdampak sedimen dan kerusakan infrastruktur.

- Advertisement -

Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa saat ini bendung tidak berfungsi optimal karena tumpukan sedimen pada bangunan pengambil air (intake) dan apron mercu.

Banjir besar juga menyebabkan sungai melebar signifikan serta memutuskan tanggul di bagian hulu.

Beberapa titik kerusakan utama meliputi:

  • Bangunan Utama: Kerusakan tanggul kanan hulu dan tumpukan sedimen pada penyaring sampah serta kantong lumpur.

  • Jaringan Irigasi: Runtuhnya saluran tertutup dan hilangnya tanggul pada beberapa ruas saluran akibat limpasan air.

  • Lahan Pertanian: Sedimen menutupi sekitar 1.282 hektare sawah, yang mengganggu distribusi air dan menurunkan produktivitas petani.

Kementerian PU memperkirakan total kebutuhan anggaran untuk memulihkan jaringan irigasi dan area persawahan ini mencapai Rp79 miliar. Menteri Dody memerintahkan Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air untuk segera menyusun desain penanganan teknis yang komprehensif.

“Kami harus mengidentifikasi dan membuat desain penanganan dulu karena sungai melebar sangat signifikan. Tujuannya agar bendung ini tetap dapat masyarakat manfaatkan,” ujar Dody, Jumat (2/1/2026).

Dalam proses pemulihan nanti, pemerintah akan menerapkan skema padat karya untuk pekerjaan normalisasi saluran irigasi. Selain mempercepat aliran air ke sawah, program ini bertujuan memberdayakan masyarakat setempat pascabencana.

Rencana rehabilitasi ini meliputi pembangunan kembali tanggul yang putus, normalisasi kantong lumpur, serta perbaikan saluran sekunder.

Melalui percepatan ini, Kementerian PU berharap dapat menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Bireuen.