Pasuruan, GESAHKITA – Siapa tak kenal tempe? Di Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, makanan tradisional ini bukan sekadar hidangan meja makan, melainkan urat nadi ekonomi warga. Dikenal sebagai “Kampung Tempe”, desa ini konsisten menjaga warisan leluhur melalui aroma kedelai rebus dan tungku api yang menyala di hampir setiap rumah warga.
Salah satu pengrajin sukses, Mukhammad Irfan, membuktikan bahwa tempe mampu naik kelas. Dalam sehari, ia mengolah hingga 1 kuintal kedelai menjadi beragam produk inovatif dengan omzet mencapai Rp50 juta per bulan.
“Kalau tempe batangan ya tetap seperti biasanya kita jual ke pasar karena banyak yang menunggunya. Tapi sekarang bisa dijadikan olahan seperti keripik tempe, nugget tempe, mendol krispi, brownies dan cookies,” kata Irfan, Senin (19/1/2026).
Tak ingin sukses sendirian, Irfan membuka diri bagi masyarakat luas yang ingin mempelajari proses produksi melalui kelas khusus.
“Siapapun yang mau ke sini silahkan, akan kami ajari proses membuat tempe sampai jadi beragam olahan berbahan dasar tempe,” singkatnya.
Produk buatannya pun sangat kompetitif di pasar. Irfan menjual satu papan tempe batangan berat 2 kg seharga Rp30.000. Untuk produk turunan, ia mematok harga mulai dari Rp6.000 (mendoan) hingga Rp70.000 untuk 1 kg keripik tempe.
“Tempe Parerejo ini beda dengan yang lain, karena rasanya gurih dan empuk dilidah,” terangnya.
Perputaran Ekonomi Rp200 Juta per Hari
Potensi ekonomi Desa Parerejo memang sangat masif. Camat Purwodadi, Sugiarto, mencatat terdapat sekitar 185 pengrajin tempe yang aktif beroperasi di desa tersebut.
| Data Produksi | Capaian |
| Total Produksi Desa | 20 Ton per Hari |
| Estimasi Perputaran Uang | Rp200 Juta per Hari |
| Jumlah Pengrajin | 185 Orang |
“Desa Parerejo ini potensinya luar biasa di bidang produksi tempe. Puluhan tahun bertahan untuk menjaga produksi dan kualitas tempe khas yang banyak disukai semua kalangan,” tegas Sugiarto.










