GESAHKITA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria memperingatkan masyarakat mengenai pergeseran drastis ancaman siber di era Artificial Intelligence (AI). Saat ini, serangan tidak lagi sekadar mengincar sistem berskala besar, tetapi menyasar langsung rekening, identitas, dan perangkat pribadi warga.
Pesan tegas ini ia sampaikan saat membuka Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, Sabtu (31/1/2026).
Nezar menjelaskan bahwa teknologi AI memungkinkan pelaku kejahatan bekerja jauh lebih cepat dan masif melalui otomatisasi. Salah satu ancaman paling berbahaya adalah fenomena serangan tanpa interaksi pengguna.
“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” tegas Nezar dalam keterangan resminya, Minggu (1/2/2026).
Manipulasi Wajah dan Suara (Deepfake)
Selain teknis, pelaku kejahatan kini menyasar sisi emosional korban. AI mampu memalsukan wajah dan suara secara akurat untuk melakukan penipuan yang sangat personal. Hal ini membuat masyarakat sulit membedakan antara identitas asli dan manipulasi digital.
“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” tambahnya.
Wamenkomdigi juga mengingatkan bahwa sistem perlindungan konvensional kini semakin rapuh. Riset komputasi kuantum berpotensi membuat kata sandi (password) yang selama ini dianggap aman menjadi tidak bermakna.
Untuk merespons hal tersebut, Kemkomdigi mendorong tiga langkah perlindungan:
-
Penerapan Security by Design: Membangun keamanan sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran.
-
Kesadaran Individu: Mengubah kebiasaan digital warga agar lebih waspada terhadap koneksi jaringan.
-
Penguatan Arsitektur Digital: Negara hadir untuk memperkuat talenta dan infrastruktur keamanan siber nasional.








