Produksi Ikan Olahan Tembus 1.128 Ton, Bojonegoro Fokus Tingkatkan Kapasitas SDM Pengolah Ikan

Kapasitas SDM Pengolah Ikan

Bojonegoro, GESAHKITA – Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro menggelar kegiatan penguatan Kelembagaan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan, Jumat (20/2/2026).

Bertempat di Bojonegoro, acara ini menghadirkan perwakilan dari tiga Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) utama, yakni Poklahsar Sepad Barokah (Trucuk), Ikan Mina (Kanor), dan Bhinneka Rasa (Dander).

- Advertisement -

mendongkrak ekonomi kerakyatan

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, M. Cholilur Rohman, S.Pi, MM, menegaskan bahwa penguatan lembaga menjadi kunci utama dalam meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.

Hingga tahun 2025, sektor pengolahan ikan di Bojonegoro telah mencatatkan angka produksi yang signifikan, yakni sebesar 1.128,21 ton. Produksi ini tersebar di tiga wilayah, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah timur yang memiliki 101 unit pengolahan.

“Tujuan utama pembentukan Poklahsar adalah memperkuat kelembagaan pelaku usaha agar mampu meningkatkan nilai tambah produk dan memperluas akses pasar secara berkelanjutan. Keberadaan kelompok ini terbukti menciptakan lapangan kerja baru dan mendiversifikasi produk perikanan daerah,” ujar Cholilur Rohman saat memaparkan materi mengenai kebijakan kelembagaan.

Ia menambahkan, dinas berkomitmen penuh bertindak sebagai fasilitator melalui pendampingan izin usaha, pelatihan SDM, hingga fasilitasi promosi pada berbagai ajang pameran.

Hal ini selaras dengan isu strategis Kabupaten Bojonegoro dalam pengentasan kemiskinan dan penguatan ketahanan pangan melalui sektor ekonomi produktif.

Senada dengan hal tersebut, narasumber dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi, Siti Robiah Nurbaiti, menyoroti pentingnya kenaikan kelas kelompok, mulai dari tingkat pemula hingga mandiri.

Ia mendorong para pelaku usaha untuk tidak lagi menggunakan metode tradisional semata, tetapi mulai mengadopsi teknologi pengolahan modern serta melakukan digitalisasi pemasaran.

“Penguatan tata kelola harus mencakup kemandirian manajerial dan inovasi produk. Kami mendorong Poklahsar untuk menjalin kemitraan dengan minimarket lokal dan toko oleh-oleh, serta memperkuat branding melalui media sosial untuk menjangkau jejaring pasar yang lebih luas,” ungkap Siti Robiah.

Selain mendapatkan paparan materi, para peserta yang terdiri dari anggota Poklahsar, staf Bidang Perikanan, dan penyuluh perikanan juga berdiskusi mengenai akses permodalan swadaya guna pengadaan alat pengolahan modern.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini, kelembagaan Poklahsar di Bojonegoro diharapkan mampu menjamin mutu keamanan pangan serta menciptakan kemandirian ekonomi bagi anggotanya. (PUR)