GESAHKITA – Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan gambaran yang memilukan.
Angka korban meninggal akibat bencana di Sumatra sungguh mengejutkan. Bencana banjir dan longsor telah merenggut banyak nyawa. Ini terjadi di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Skala Tragedi yang Sulit Dipercaya
Hingga Sabtu (6/12/2025), total korban meninggal mencapai 914 jiwa. Angka ini bertambah 47 orang dari hari sebelumnya.
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, membenarkan kenaikan ini. Total 914 jiwa adalah angka yang sangat besar. Jumlah ini melampaui batas kewajaran.
Kenaikan ini merupakan pukulan telak bagi bangsa. Setiap angka mewakili sebuah kisah kehidupan. Kisah-kisah itu kini telah berakhir tragis.
Kita tidak bisa hanya melihat angka ini sebagai statistik. Sebaliknya, kita harus melihatnya sebagai tragedi kemanusiaan yang mendalam.
Penambahan 47 jiwa dalam kurun satu hari sungguh mencemaskan. Oleh karena itu, kita harus segera mencari akar permasalahannya. Sesungguhnya, angka ini mencerminkan betapa rentannya wilayah kita.
Peta Duka di Tiga Provinsi
Rincian sebaran korban meninggal juga perlu mendapat perhatian khusus. Tentu saja, data ini menunjukkan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Aceh menjadi provinsi dengan korban terbanyak. Di sana, 359 orang dilaporkan meninggal dunia. Angka ini naik 14 jiwa dari data sehari sebelumnya.
Sementara itu, Sumatera Utara juga mencatat kerugian besar. Di provinsi ini, korban meninggal mencapai 329 jiwa.
Tidak kalah memprihatinkan, Sumatera Barat mencatat 226 jiwa meninggal. Jelaslah, ketiga wilayah ini menanggung beban duka yang amat berat.
Meskipun bencana alam adalah takdir, dampaknya bisa diminimalkan. Namun demikian, kita harus mengakui bahwa mitigasi belum optimal. Skala kerusakan ini membuktikan hal tersebut.
Mengapa Angka Terus Meningkat?
Patut diduga, faktor kerusakan lingkungan turut berperan besar. Bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi.
Intensitas curah hujan yang tinggi menjadi pemicu utamanya. Namun, apakah hanya faktor alam yang bersalah? Pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur.
Pada dasarnya, deforestasi di daerah hulu memperparah kondisi ini. Kerusakan hutan menyebabkan tanah tidak mampu menyerap air.
Akibatnya, air bah turun dengan cepat dan merusak. Maka dari itu, evaluasi tata ruang menjadi sangat mendesak.
Selain itu, kita perlu meninjau kembali pembangunan infrastruktur. Apakah pembangunan sudah memperhitungkan risiko bencana? Jelas, pemerintah daerah dan pusat harus melakukan audit lingkungan. Audit ini penting dan harus dilaksanakan segera.
Secercah Harapan dan Upaya Pencarian
Di sisi lain, ada perkembangan positif yang perlu disyukuri. Jumlah korban hilang kini menurun signifikan. Angkanya turun dari 521 menjadi 389 orang. Hal ini terjadi karena beberapa korban ditemukan selamat.
Menurut Abdul Muhari, beberapa orang yang dilaporkan hilang telah ditemukan. Mereka ditemukan dalam keadaan selamat.
Oleh sebab itu, upaya pencarian tidak boleh berhenti. Para petugas di lapangan telah menunjukkan dedikasi tinggi.
Kendati demikian, petugas harus tetap melanjutkan pencarian. Keberhasilan menemukan korban, baik hidup maupun meninggal, sangat penting. Sebab, hal ini memberikan kepastian bagi keluarga. Oleh karena itu, dukungan penuh harus diberikan kepada tim SAR.
Tuntutan Aksi Nyata dan Solidaritas
Angka 914 jiwa adalah panggilan untuk aksi kolektif. Oleh karena itu, solidaritas nasional harus segera diwujudkan.
Bantuan kemanusiaan harus didistribusikan secara adil. Tentu saja, prioritas harus diberikan pada daerah terpencil.
Selain itu, pemerintah perlu fokus pada pencegahan jangka panjang. Misalnya, penanaman kembali pohon di hulu sungai.
Sistem peringatan dini juga harus diperkuat. Investasi pada mitigasi bencana adalah sebuah keharusan.
Sesungguhnya, kita berutang kepada para korban. Kita berutang upaya maksimal agar tragedi ini tidak terulang.
Duka di Sumatera adalah duka kita semua. Maka dari itu, mari kita jadikan 914 jiwa sebagai titik balik perbaikan. (RED)










