GESAHKITA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif pada hari perdagangan pertama tahun 2026.
Indeks dibuka menguat sebesar 1,17 persen dan mendarat di level 8.734,69. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat tumbuhnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai penguatan signifikan ini menetapkan nada optimistis bagi Indonesia untuk menjalani tahun terobosan.
Ia memproyeksikan pasar saham Indonesia berpotensi naik 8–10 persen sepanjang 2026, yang didorong oleh ketangguhan permintaan domestik.
“Bagi investor global yang selektif, Indonesia semakin menjadi pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi karena valuasinya masih di bawah rata-rata historis,” ujar Shan.
Senada dengan pandangan tersebut, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, melihat penguatan IHSG merupakan bagian dari reli luas bursa saham Asia. Investor terpantau melakukan aksi beli kembali saham setelah sempat melakukan profit taking pada akhir 2025 lalu.
Andry juga menyoroti kondisi makroekonomi domestik yang tetap solid:
-
PMI Manufaktur: Tetap berada di zona ekspansi pada level 51,2 per Desember 2025.
-
Aliran Dana Asing: Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) mencapai Rp1,1 triliun di pasar saham.
-
Pasar Obligasi: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke level 6,05 persen, mencerminkan stabilitas makro yang terjaga.
Kombinasi antara masuknya dana asing, penurunan yield obligasi, dan permintaan domestik yang solid menempatkan Indonesia pada posisi yang kuat di Asia Tenggara.
Kebijakan kredibel akan membawa Indonesia menuju fase penguatan pasar yang berkelanjutan, melampaui sekadar reli jangka pendek.










