GESAHKITA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Selasa (13/1/2026) dengan penguatan 46,52 poin atau 0,52 persen ke posisi 8.931,24. Penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari sebelumnya.
Kelompok 45 saham unggulan (Indeks LQ45) juga merangkak naik 5,21 poin (0,60 persen) ke posisi 871,76.
Pada Senin (12/1), IHSG sempat “ambruk” hingga 2,47% pada pukul 14.20 WIB sebelum akhirnya ditutup melemah tipis 0,58%. Analis memberikan dua catatan utama terkait anomali tersebut:
-
Profit Taking: MNC Sekuritas menyebutkan adanya aksi ambil untung pada saham-saham sektor energi.
-
Geopolitik: Mirae Asset Sekuritas menilai gejolak geopolitik global menjadi pemicu utama fluktuasi mendadak di pasar domestik.
Di tengah ketidakpastian global, indikator ekonomi dalam negeri menunjukkan fundamental yang kuat:
-
Penjualan Ritel: Bank Indonesia melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) November 2025 tumbuh pesat 6,3% (yoy), naik dari 4,3% pada bulan sebelumnya.
-
Sektor Energi: Pemerintah terus menggenjot proyek strategis dan kebijakan produksi nasional untuk menjaga ketahanan energi 2026.
Pasar komoditas energi dunia mengalami tren penguatan mingguan terbesar sejak Oktober lalu. Berikut dinamika harga minyak mentah per Januari 2026:
| Jenis Minyak | Harga Per Barel | Status |
| Brent | US$63,42 | Naik >3% dalam sepekan |
| WTI | US$59,17 | Naik >3% dalam sepekan |
Faktor Penentu:
-
Ketegangan di Iran: Protes besar-besaran di Iran mengancam pasokan hingga 1,9 juta barel per hari. Pasar mengkhawatirkan stabilitas distribusi di Selat Hormuz.
-
Sentimen Penahan: Rencana Amerika Serikat membuka kembali akses ekspor minyak Venezuela menjadi sentimen positif yang menahan lonjakan harga minyak lebih jauh.










