GESAHKITA – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menetapkan pengembangan desain chip dan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai fondasi utama kemandirian industri semikonduktor Indonesia. Strategi ini menjadi langkah awal realistis untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional di pasar global.
Melalui pernyataan resminya di Bontang, Jumat (30/1/2026), Menperin menjelaskan bahwa pemerintah tengah memperkuat ekosistem semikonduktor yang terintegrasi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan komponen di sektor otomotif, elektronika, dan transformasi digital.
“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” ujar Agus Gumiwang.
Urgensi Menekan Impor dan Potensi Pasar
Data BPS menunjukkan tantangan besar bagi ketahanan industri. Adapun nilai impor semikonduktor melonjak dari 2,33 miliar dolar AS (2020) menjadi 4,87 miliar dolar AS (per November 2025). Padahal, kebutuhan komponen ini sangat tinggi. Terutama pada kendaraan listrik yang membutuhkan semikonduktor tiga kali lebih banyak dibanding mobil konvensional.
“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri,” ungkapnya.
Kemenperin telah menetapkan roadmap yang mencakup empat pilar: material, desain, fabrikasi (front end), serta perakitan-pengujian (back end). Sebagai langkah konkret, pemerintah mendorong pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC).
Pusat kolaborasi ini melibatkan PT Hartono Istana Teknologi bersama pakar dari 13 universitas untuk menciptakan nilai tambah nasional dan memangkas ketergantungan teknologi asing. Momentum ini juga diperkuat melalui gelaran Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Bandung pada 29–30 Januari 2026.









