Opini  

10 Sifat Komunikasi Konteks Tingkat Tinggi Kamu Perlu Ketahui  

JAKARTA, GESAHKITA COM–Komunikasi konteks tinggi dapat didefinisikan sebagai jenis komunikasi di mana banyak faktor rumit (seperti status, hubungan sosial, lingkungan sosial, formalitas, isyarat non-verbal, keheningan, simbolisme) dipertimbangkan dalam komunikasi.

Makna sebenarnya dari komunikasi konteks tinggi menurut Preston Ni (seorang profesor, presenter, pelatih pribadi, dan penulis Komunikasi Sukses dengan Empat Tipe Kepribadian dan Cara Berkomunikasi Secara Efektif dan Menangani Orang Sulit) seringkali jauh lebih kompleks daripada makna literal dari kata-kata yang diucapkan.

Komunikasi konteks tinggi sering dikontraskan dengan komunikasi konteks rendah, yang lebih langsung dan spesifik.

Menurut peneliti lintas budaya Edward Hall, wilayah di dunia di mana komunikasi konteks tinggi lazim termasuk (dan tidak terbatas pada): Argentina, Brasil, Chili, Cina, Mesir, Yunani, Hong Kong, India, Iran, Jepang, Korea, Meksiko, Nigeria, Filipina, Portugal, Singapura, Spanyol, Taiwan, Turki, dan Venezuela.

Meskipun setiap budaya adalah unik, dan gaya komunikasi dibedakan lebih lanjut oleh faktor-faktor seperti bahasa, tradisi, dan kebiasaan, pemahaman umum tentang komunikasi konteks tinggi dapat menjadi titik awal untuk mengenali dan menavigasi perbedaan lintas budaya dalam hubungan romantis dan tempat kerja.

Berikut adalah sepuluh tanda umum komunikator konteks tinggi:

1. Komunikator konteks tinggi cenderung “membaca yang tersirat.” Ini adalah bentuk komunikasi bola, yang berbicara sekitar, bukan, to the point.

2. Komunikasi konteks tinggi sering kali dimulai dengan detail, dan akhirnya berhasil sampai ke poin utama di akhir, jika poin utama disebutkan sama sekali.

3. Komunikator konteks tinggi sering mengisyaratkan atau menyiratkan, dan berharap untuk dipahami. Komunikasi konteks tinggi biasanya diisi dengan simbolisme dan metafora. Tindakan dan perilaku sering kali menyampaikan pesan menggantikan kata-kata.

4. Komunikasi konteks tinggi sering diarahkan pada hubungan timbal balik dan harmonisasi ide. Ide-ide saling terkait, bukan berdiri sendiri.

5. Komunikator konteks tinggi memiliki kecenderungan untuk menangani masalah, konflik, dan kritik secara tidak langsung. Mereka lebih suka menyelesaikan masalah dengan menggunakan metode yang lebih tidak langsung, seperti pergi ke belakang layar, atau menggunakan perantara. Menyelamatkan muka dan menghindari penghinaan publik adalah penting.

6. Komunikasi konteks tinggi cenderung menawarkan pujian kepada kelompok daripada individu. Prestasi dan penghargaan kelompok biasanya tercermin pada masing-masing individunya.

7. Komunikator konteks tinggi cenderung berharap diperhatikan atas kerja keras, pengorbanan, dan pencapaian mereka, tanpa harus mengungkapkan diri mereka sendiri.

Mereka mungkin menganggap, “Jika saya bekerja sangat keras dan berkorban, maka saya harus diperhatikan dan diakui. Saya tidak perlu mengatakan apa-apa.”

8. Dalam budaya komunikasi konteks tinggi, kesepakatan sering dibuat berdasarkan jabat tangan, dan sifatnya lebih cair. Kesepakatan sering dibuat dan dijaga melalui kepercayaan, kesetiaan, dan rasa hormat terhadap hubungan tersebut.

Hubungan pribadi dan profesional cenderung menekankan komitmen jangka panjang.

9. Dalam komunikasi konteks tinggi, keheningan sangat dihargai. Keheningan
kaya akan makna. Tergantung pada situasinya, diam dapat digunakan untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau persetujuan, kekuasaan, otoritas, martabat, rasa malu , atau perlawanan.

10. Seorang komunikator konteks tinggi terkadang merasa tidak nyaman dan melelahkan ketika berbicara dengan komunikator konteks rendah, karena membutuhkan terlalu banyak kekhususan verbal, dan masalah harus dijabarkan terlalu blak-blakan.

Compiled Irfan

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

Tinggalkan Balasan