GESAHKITA – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengumumkan langkah besar untuk memodernisasi proses penyerapan gabah petani.
Mulai tahun 2026, Bulog mengalihkan seluruh sistem pembayaran dari tunai menjadi digital guna menutup celah penyimpangan dan korupsi di lapangan.
Saat ini, Bulog masih menerapkan skema pembelian gabah langsung di lokasi panen (sawah) seperti di sentra produksi Indramayu, Subang, dan Karawang. Petugas menimbang gabah dan langsung membayar petani di tempat sesuai harga ketetapan.
“Selama ini kami beli gabah kering panen langsung di sawah. Namun, ke depan kami tidak lagi menggunakan uang tunai, melainkan uang digital,” tegas Rizal dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Rizal juga menjelaskan bahwa transformasi ke sistem transfer atau uang digital ini membawa empat keuntungan besar:
-
Keamanan: Menghindarkan petani dari risiko kriminalitas saat membawa uang tunai dalam jumlah besar.
-
Budaya Menabung: Mendorong petani untuk mulai menabung di bank.
-
Transparansi Data: Mempercepat pencatatan transaksi secara real-time dari lapangan hingga ke pusat.
-
Minimalisir Korupsi: Menghapus ruang bagi oknum internal Bulog yang ingin bermain curang di lapangan.
Menanggapi kendala akses ATM di pedesaan, Bulog menggandeng bank-bank milik negara (Himbara) seperti BRI, BNI, dan Mandiri untuk melakukan aksi jemput bola.
Bank-bank tersebut akan turun langsung ke desa untuk mendaftarkan petani sebagai nasabah baru menjelang musim panen raya.
“Kami akan mengumpulkan perbankan nasional agar mereka segera menjadikan petani sebagai nasabah. Dengan begitu, proses pembayaran jadi lebih mudah, aman, dan terkontrol,” pungkas Rizal.










