Kampus Energi Bersih Berbasis Masyarakat: Langkah Konkret Transisi Energi di Sumatera Selatan

PALEMBANG, GESAHKITA COM—-Dalam upaya mendukung mitigasi perubahan iklim, Indonesia telah menunjukkan komitmennya melalui ratifikasi Persetujuan Paris dalam UU No. 16 Tahun 2016 dan penegasan lebih lanjut di Pakta Iklim Glasgow, dengan tujuan menjaga kenaikan suhu global di bawah 2°C.

- Advertisement -

Hal ini membawa konsekuensi besar dalam arah pembangunan nasional, terutama dalam transisi menuju pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau.

Sektor energi, sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar, memegang peran penting dalam upaya mitigasi tersebut.

Namun, transisi energi dari sumber fosil ke energi terbarukan masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Dalam konteks ini, berbagai pihak berkolaborasi untuk mempercepat transisi energi terbarukan berbasis masyarakat.

Kerjasama Kampus dan HaKI: Wujud Nyata Pembangunan Rendah Karbon

Perkumpulan Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Universitas Katolik Musi Charitas Palembang menginisiasi program Kampus Energi Bersih yang diresmikan pada Senin, 23 September 2024, di Aula Yoseph Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC).

Acara ini melibatkan kuliah umum dan talk show dengan tema “Energi Baru dan Terbarukan yang Adil dan Berkelanjutan Berbasiskan Masyarakat.”

Direktur Eksekutif HaKI, Deddy Permana, menjelaskan bahwa HaKI berkomitmen mendukung pemerintah dalam mencapai target zero emission pada 2060.

Melalui kerjasama ini, HaKI dan mitra berupaya mengembangkan inovasi, teknologi, serta gerakan sosial yang lebih luas terkait energi terbarukan. Kampanye, pendidikan, dan riset bersama akan menjadi fokus utama dalam mewujudkan transisi energi yang adil.

Rektor UKMC Palembang, Dr. Antonius Singgih Setiawan, menyambut baik inisiatif ini sebagai bentuk kontribusi kampus dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam mendorong pembangunan rendah karbon, terutama di Provinsi Sumatera Selatan.

Potensi Energi Terbarukan di Sumatera Selatan

Sumatera Selatan memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Beberapa di antaranya adalah:

1. Energi Surya
Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi energi surya sebesar 17.233 MWp, namun baru sebagian kecil yang dimanfaatkan. Salah satu proyek yang berjalan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jakabaring, Palembang, dengan kapasitas 2 MW. Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan PLTS atap sangat memungkinkan, terutama dengan dukungan regulasi dan insentif.

2. Energi dari Sampah
Data dari DLHP Sumatera Selatan tahun 2023 menunjukkan bahwa volume sampah mencapai 1.581,62 ton/hari. Dengan teknologi gasifikasi, sampah ini dapat diolah menjadi energi listrik sebesar 5 MW atau setara 30.000 tabung gas 3kg per hari.

3. Energi Biomassa dari Sekam Padi dan Kopi

Sumatera Selatan menghasilkan sekitar 623.210 ton sekam padi dan 198.015 ton kopi setiap tahunnya. Melalui teknologi gasifikasi, sekam ini dapat menghasilkan energi listrik yang signifikan. Potensi energi listrik dari sekam padi mencapai 80 MW, sementara dari sekam kopi mencapai 5 MW.

4. Energi Minihidro/Mikrohidro
Provinsi ini memiliki potensi energi minihidro sebesar 448 MW, dengan beberapa desa di Kabupaten Muara Enim dan Lahat yang telah memanfaatkan energi mikrohidro untuk kebutuhan listrik lokal.

Manfaat Transisi Energi di Tingkat Daerah

Transisi energi di tingkat daerah akan memberikan beragam manfaat, seperti biaya listrik yang lebih murah, diversifikasi ekonomi, pengembangan industri baru, dan penciptaan lapangan kerja hijau.

Selain itu, transisi ini juga akan meningkatkan kualitas lingkungan dengan perbaikan kualitas udara, air, dan tanah, serta menurunkan biaya kesehatan masyarakat.

Pemerintah daerah membutuhkan strategi kebijakan yang ramah dan inklusif bagi para pemangku kepentingan untuk memastikan kelancaran transisi energi. Inisiatif-inisiatif berbasis masyarakat, seperti yang dilakukan oleh HaKI dan UKMC, menjadi kunci untuk mencapai transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.