Pembunuh Cinta

Foto painting unreveal death ( foto credited pinterest)
Foto painting unreveal death ( foto credited pinterest)

Pembunuh Cinta

Oleh Ramli Lahaping

MAKASSAR, GESAHKITA COM—Vina melihat Andri masih berduka ketika ia keluar dari rumah mereka pagi ini. Orang tua tunggalnya itu tampak masih terpukul atas kematian Rovan yang merupakan partner hidup mereka.

Sedangkan ia sendiri, telah bangkit dari perkabungan itu. Ia hanya bersedih dalam beberapa hari setelah kehilangan kawan hidupnya tersebut.

Ia seolah belum begitu meresapi arti kehadiran dan kealpaan seseorang di usianya yang masih delapan tahun.

Tetapi nyatanya, kematian Rovan memberikan dampak yang berkepanjangan bagi suasana hidup Vina.

Kemurungan Andri karena tak kunjung mengikhlaskan kepergian Rovan, membuat Vina kehilangan sumber penghiburan.

Ketidakberdayaan Andri pun membuat Vina kehilangan sandaran penghidupan.

Itu karena selama ini, ia banyak menggantungkan pemenuhan kebutuhan jiwa dan raganya kepada Andri. Apalagi kini, sisa lelaki itu yang ada untuknya.

Setelah sekian lama hidup serumah, Vina memang lebih dekat dan lebih menyenangi Andri daripada Rovan.

Kecondongannya itu terbentuk karena Andri lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya ketimbang Rovan.

Andri yang melakoni usaha penjahitan di rumah mereka, senantiasa menemaninya dan menyiapkan keperluan hidupnya, sedangkan Rovan kerap pergi sebagai karyawan di sebuah perusahaan periklanan.

Karena keadaan itulah, Vina tak sampai terpuruk setelah kematian Rovan. Ia lekas tenang karena masih punya Andri yang mampu menjadi sosok orang tua yang komplet untuknya.

Ia merasa hanya perlu bersabar untuk menunggu kondisi batin Andri menjadi stabil, dan kehidupan mereka kembali menyenangkan seperti dahulu.

Ia pun berusaha semampunya untuk menguatkan dan menghibur Andri agar suasana itu segera terwujud.

Namun di tengah harapannya, Vina bisa memahami dalamnya kesedihan Andri. Ia tahu juga kalau Rovan meninggal secara tragis, sebulan yang lalu, sebagai korban pembunuhan dengan 12 tikaman di perutnya. Ia memang tak melihat jenazah Rovan karena larangan Andri, tetapi ia bisa membayangkan keadaannya yang mengenaskan.

Ia pun meyakini kalau kenyataan itulah yang membuat Andri terpukul. Apalagi, pelaku pembunuhan itu belum juga terungkap.

***

Untungnya, keinginan Vina untuk mengembalikan semangat hidup Andri, cukup terbantu oleh kehadiran Ivan, ayah dari seorang sahabat baiknya bernama Fino.

Lelaki itu kerap datang ke rumah mereka untuk sekadar bercengkerama dengan Andri. Lelaki tersebut tampaknya mampu menjadi partner baru yang menutupi rasa kehilangan Andri atas Rovan. Keduanya tampak sebagai sejoli yang memiliki hubungan emosional yang kuat.

Dan baiknya, kehadiran Ivan tidak hanya membuat Vina makin tenang melihat keadaan Andri, tetapi juga membuat hubungannya dengan Fino tambah erat.

***

Mereka makin lekat sebagai kawan bermain dan teman curhat. Karena itu, setelah dua hari tak bersenda gurau di luar jam sekolah, hari Minggu ini, Vina pun mengajak Fino bersepeda di taman perumahan, sembari berbagi cerita untuk melegakan perasaan mereka, seperti kemarin-kemarin.

Sepanjang waktu, memang hanya Fino yang bisa menjadi sahabat sehati bagi Vina. Hanya kepada Fino ia bisa berbagi keluh kesah tanpa beban. Bersama teman sepantaran dan sekelasnya itu, ia merasa kuat menanggapi pandangan merendahkan dan omongan negatif orang-orang tentang diri mereka berdua. Bersamanya, ia merasa sanggup menghadapi olokan anak-anak di sekitar rumah atau di sekolah mereka atas keadaan mereka yang tampak senasib.

Lingkungan kehidupan memang tak bersahabat bagi mereka. Orang-orang tak henti-hentinya mengusik dan merisak mereka dengan mempertanyakan asal-usul mereka yang jelas merupakan persoalan yang sensitif.

Orang-orang terus melayangkan dan mengembuskan kesangsian bahwa mereka hidup dengan ayah ataupun ibu yang bukan orang tua kandung mereka; bahwa mereka hanyalah anak angkat atau anak dari hasil hubungan gelap.

Atas tudingan itu, dahulu, Vina pun sempat terusik dan mempertanyakan asal-usulnya sendiri. Apalagi, ia memang hanya hidup dengan dua orang lelaki, dan ia tak punya sosok perempuan yang ia panggil sebagai ibu.

Karena itu, berkali-kali ia bertanya kepada Andri dan Rovan perihal keganjilan itu, tetapi ia akan selalu mendapat jawaban yang tegas bahwa ibu kandungnya telah meninggal saat melahirkannya di pulau seberang, dan dikuburkan di sana juga.

Seturut itu, Vina akan mendapatkan keterangan berulang bahwa Andri adalah ayah kandungnya, dan Rovan adalah sepupu satu kali Andri. Dan akhirnya, Vina menerima penjelasan tersebut sebagai kebenaran, meski ia menyadari kalau mereka bertiga memiliki tampakan fisik yang berbeda.

Pasalnya, ia tak punya dasar untuk sangkaan sebaliknya. Ia jelas tak punya ingatan perihal kehadiran orang lain sebagai keluarganya sebelum kebersamaannya dengan dua lelaki itu.

Keadaan yang hampir sama dialami Fino. Orang-orang tak henti-hentinya menyebarkan isu kalau ia bukanlah anak kandung dari Ivan.

Mereka menuding dengan alasan bahwa Fino hanya punya kemiripan fisik dengan ibunya, dan sama sekali berbeda dengan sosok lelaki yang ia anggap sebagai ayahnya selama ini.

Apalagi, secara kasat mata, Fino memang berwajah indo, seolah-olah ia dilahirkan dari perpaduan gen antara ibunya dengan seorang lelaki bule.

Tentu Fino pun sempat terusik dan menanyakan persoalan itu kepada ibunya dan Ivan. Tetapi ia hanya akan mendapatkan jawaban yang tegas dan berulang dari mereka, bahwa ia adalah anak kandung dari mereka.

Soal perbedaan fisiknya, mereka menyatakan bahwa ia hanya mengalami penyimpangan genetika yang terjadi secara alami. Dan akhirnya, ia menerima keterangan itu sebagai kebenaran, sebab ia pun tak punya alasan untuk beranggapan sebaliknya.

Sampai akhirnya, kini, di tengah penderitaan yang sama atas omongan orang-orang, Vina dan Fino kembali bertemu di taman perumahan sebagai cara mereka untuk saling menguatkan.

***

Setelah mengayuh sepeda ke sana kemari dan merasa kecapaian, mereka pun duduk di bawah pohon mangga yang rindang dan mulai berbagi cerita.

“Bagaimana kabar ayahmu?” tanya Fino kemudian.

Seketika, Vina jadi tampak lesu, seolah ketenangannya sirna kala membayangkan keadaan Andri.

“Dia masih sering murung. Tetapi kulihat-lihat, keadaannya makin membaik.”

Fino pun mengembuskan napas yang panjang. “Syukurlah kalau begitu. Aku yakin, ia pasti akan kembali ceria seperti dahulu,” tanggapnya.

Vina lalu mengangguk-angguk, seperti mengaminkan. “Ya. Itu berkat kehadiran ayahmu juga. Kau beruntung punya ayah yang baik dan pengertian,” singgung Vina, merujuk pada perlakuan Ivan terhadap Andri.

Tetapi Fino malah tersenyum kecut, lantas menggeleng-geleng. “Tidak juga. Kau tidak tahu saja kalau ayahku suka marah-marah. Belakangan, ia bahkan makin sering bertengkar dengan ibuku dan kerap keluar rumah entah ke mana.”

Sontak saja, Vina jadi heran. “Kenapa bisa? Ada masalah apa?”
Fino mengangkat bahu. “Aku tak tahu. Aku sudah menanyai ibuku, tetapi ia tak menjelaskan masalahnya. Ia hanya mengatakan kalau persoalan mereka adalah persoalan orang dewasa, dan aku tak akan bisa mengerti.”

“Tetapi yang kulihat, ayahmu begitu baik kalau sama ayahku,” ungkap Vina, seperti tak habis pikir.

Fino mendengkus. “Kita mungkin memang belum bisa mengerti persoalan orang tua.”

Vina mengangguk-angguk saja.
Jeda sekian lama. Mereka terus terdiam sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

Hingga akhirnya, mata Vina tertuju pada bagian tengah sebuah pohon yang tinggi. Ia menatap kagum pada bunga anggrek yang tumbuh di ketiak cabang pohon tersebut.

“Wah, lihat itu, indah sekali,” katanya, sambil menunjuk.

“Kau mau?” tanya Fino, dengan kesan seolah menawarkan diri untuk mengambilkannya.

Vina mengangguk tegas. “Ayahku pasti suka. Kau tahu sendiri kan kalau ia sangat suka memelihara bunga.”

Akhirnya, tanpa menunda waktu, Fino bergegas mendekati pohon tersebut. Ia lantas memanjatnya, hingga ia naik makin tinggi. Ia melakukannya dengan cepat, seakan-akan ia begitu berhasrat untuk mewujudkan keinginan Vina.

Tetapi baru sepertiga tanjakan menuju sasaran, pegangan tangannya terlepas dari batang pohon yang lembab dan berlumut, hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ia pun meringis kesakitan atas luka berdarah di siku dan lututnya.

Dengan penuh perhatian, di tengah kesedihan dan kecemasannya, Vina lantas memapah Fino ke sisi sepedanya. Secara cepat dan hati-hati, ia lantas menaikkan dan memboncengkan Fino menuju ke puskesmas. Tetapi di tengah perjalanan, kayuhannya melemah dan terhenti setelah rasa penasarannya membuncah menyaksikan keramaian di halaman depan rumahnya.

Orang-orang tampak berkumpul dengan penuh keriuhan.

“Apa yang terjadi?” tanya Fino terheran, hingga rasa sakitnya seolah-olah menghilang.

“Entahlah,” tanggap Vina.

“Ayo kita lihat sebentar,”saran Fino, lantas membaca kekhawatiran di wajah Vina.

“Nanti saja kita ke puskesmas. Aku tak mengapa.Vina mengangguk setuju. Ia lantas memarkirkan sepedanya dan melangkah menuju kumpulan orang-orang tersebut.

Fino turut saja dengan langkah terpincang-pincang. Mereka berdua lantas menghampiri dan bertanya kepada beberapa warga, tetapi tak ada satu yang memberikan keterangan yang jelas.

Mereka pun mencoba masuk dan memeriksa sendiri kejadian di dalam rumah, tetapi orang-orang lekas mencegat.

Terpaksa, mereka hanya mengintip dari balik pintu yang terbuka, hingga mereka melihat ayah mereka masing-masing.

Mereka melihat ayah mereka berjongkok di sekeliling beberapa personel polisi. Mereka melihat ayah mereka tertunduk takut dengan hanya mengenakan celana pendek.

Sampai akhirnya, setelah sekian lama dikerubungi orang-orang, kedua ayah mereka kemudian digiring keluar dari rumah setelah mengenakan baju. Dan serta-merta, orang-orang di sisi halaman meneriaki keduanya: “Laki-laki gadungan!”; “Pezina yang sekotor-kotornya!”; “Kaum terkutuk!”

Di sela-sela itu, seorang ibu kemudian berseloroh, “Oh, ternyata si Ivan toh yang membunuh Rovan demi cinta terlarangnya dengan Andri.”

Di tengah rutukan dan cibiran orang-orang, Vina dan Fino hanya terdiam membisu sembari bergenggaman tangan, seolah-olah mereka saling menguatkan untuk menerima kenyataan yang telah mereka pahami dan yang tidak atau belum bisa mereka pahami.***

 

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Menulis cerpen berjudul Pedagang Kebencian yang berhasil menjadi salah satu Cerpen Terpilih pada Malam Anugerah Ngewiyak Vol, 26 Maret 2022. I. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

hari santri nasinonal

Tinggalkan Balasan