hari jadi kota pasuruanisra miraj hut oku selatan, hari jadi oku selatan
News, World  

Akibat Militer Myanmar Makin Berdarah, Kyal Sin Gugur Simbol Perlawanan Terus Dikobarkan

JAKARTA, GESAHKITA COM–Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lebih dari 50 orang tewas akibat kekerasan apara sejak 1 Februari lalu. Sekitar 38 diantaranya dilaporkan tewas dalam sehari pada Rabu.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan sedikitnya 38 orang tewas dalam demonstrasi berdarah yang terjadi di beberapa kota di negara Asia Tenggara tersebut pada Rabu (3/3).

“Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari lalu. Kami mencatat hari ini, hanya hari ini saja, 38 orang sudah tewas. Sekarang kami mencatat ada lebih dari 50 orang tewas sejak kudeta berlangsung dan banyak sekali yang terluka,” kata Burgener di New York.

Burgener menuturkan Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan menggelar rapat tertutup membahas situasi di Myanmar pada Jumat pekan ini.

Saksi mata menuturkan kepada Reuters bahwa aparat keamanan tak jarang melontarkan tembakan peluru tajam ke arah pedemo.

Kyal Sin gadis 19 tahun menjadi bagian dalam aksi protes penentang kudeta di Myanmar. Ia bergabung dengan massa antikudeta pada Rabu, Maret 2021, dengan mengenakan kaus bertulisan ‘Everything will be OK’ atau berarti ‘Semua Akan Baik-baik Saja’.

Kyal Sin

Namun, hari itu menjadi aksi terakhir gadis yang juga dikenal dengan nama Angel ini. Ia terbunuh akibat tembakan di kepala setelah melakukan aksi heroik menendang pipa air hingga terbuka sehingga pengunjuk rasa dapat mencuci gas air mata dari mata mereka.

Mengetahui kondisi bisa tiba-tiba tidak terkendali, Kyal sudah melakukan persiapan terlebih dahulu. Dikutip dari Reuters  Kyal membawa rincian identitas mulai dari golongan darahnya, nomor kontak.

Selain itu, dalam identitas itu ia juga menuliskan sebuah pesan. Pesan tersebut berisi permintaan untuk menyumbangkan tubuhnya jika meninggal dalam aksi menentang kekuasaan militer.

Seorang teman, Kyaw Zin Hein, juga membagikan salinan pesan Kyal Sin kepadanya di media sosial. Bunyinya: “Ini mungkin terakhir kali saya mengatakan ini. Sangat mencintaimu. Jangan lupa”.

Di Facebook, dia telah mem-posting rincian medisnya dan permintaan untuk menyumbangkan tubuhnya jika dia terbunuh. Pesan duka dan pujian membanjiri halaman itu pada Rabu.

Kyal Sin

“Dia adalah gadis yang bahagia, dia mencintai keluarganya dan ayahnya juga sangat mencintainya,” kata Myat Thu, yang sekarang bersembunyi.

“Kami tidak sedang berperang. Tidak ada alasan untuk menggunakan peluru tajam pada orang. Jika mereka manusia, mereka tidak akan melakukannya,” kata dia.

Pesan Dinding akun Face Syapti Hidayat di Grup bernama facebooker Indonesia Diberi Judul : Selalu menaroh hormat kepada mereka yg mendedikasikan hidupnya buat kemanusiaan

SELAMAT JALAN KYAL SIN

Pagi ini sa baca berita tentang ini. Tentang Kyal Sin, kisah hebat dari perempuan yang paling gagah berani dibalik kudeta militer di Myanmar saat ini.

Perempuan muda heroik itu bernama Kyal Sin. Usianya baru 19 tahun, usia yang tengah yang mekar-mekarnya. Dia seorang anak tunggal, yang diharapkan orang tuanya agar kelak menjadi sosok yang mandiri.

Di Myanmar, dia memilih bergabung dengan barisan demonstran. Nalurinya terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi negerinya. Dia tidak berniat untuk sekadar gagah-gagahan lalu berpose alay atau bikin postingan tiktok tentang aksi.

Dia memang mempersiapkan semua kemungkinan terburuk. Dia memakai kaos hitam bertuliskan ”Everything will be okay.” Dia juga mengantongi pengenal, yang di belakangnya ada informasi golongan darah, jika kelak dia tertembak dan butuh transfusi.

Dia memang tertembak. Saat aparat menembakkan gas air mata, dia menerobos asap gas untuk membuka keran air yang dipakai para demonstran untuk membasuh mata yang perih. Saat itulah, sebutir peluru bundar menembus kepalanya.

tangkapan layar akun grup facebooker indonesia

Orang-orang merubung. Semua merinding. Di tanda pengenalnya, dia telah menulis pesan kematian. “Jika saya terluka dan tak dapat kembali ke kondisi yg baik, tolong jangan selamatkan saya. Saya akan memberikan bagian tubuh saya yang berguna pada seseorang yang membutuhkannya.”

Di negeri itu, sudah ada 40 orang demonstran yang tewas demi melawan rezim militer. Para aktivis Myanmar menampilkan perlawanan dengan cara yang mengagumkan. Mereka menggunakan semua kanal media. Mereka terjun ke jalan-jalan dan menjadi perisai bagi para demonstran.

Melihat potret gadis muda yang ditangisi banyak orang itu, saya terkenang puisi Toto Sudarto Bachtiar tentang anak muda yang tewas di Surabaya, pada 10 November.

“Hari itu hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda”

(Copas dari Kawan)

Editor : Goik

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *