Tentang Chairil Anwar dan Kumpulan Puisi ‘Deru Campur Debu’

  • Whatsapp
Photo Sket Lukisan Wajah Chairil Anwar

JAKARTA, GESAHKITA COM—Pastinya tidak asing dengan Chairil Anwar sastrawan Indonesia yang cukup Fenomenal dengan karya karya yang terbilang pembakar semangat Anak anak muda Bangsa. Bukan hanya itu, layak anak anak muda di zaman nya ia tergolong pemuda yang jujur dengan perasaan nya, dia pada zaman itu sudah sanggup menuturkan apa ada nya tentang, rasa, pemikiran, semangat, cita cita termasuk soal cinta asmara nya.

Dia termasuk salah satu Pahlawan Perpuisian di Indonesia, memiliki nama lengkap Chairil Anwar dan lahir di Medan, 26 Juli 1922. Semasa hidup berpendidikan MULO (tidak tamat).  MULO  singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti “Pendidikan Dasar yang Lebih Luas”. MULO menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar

Bacaan Lainnya

Perjalanan dalam dalam hal tulis menulis sang Maestro ini, pernah menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) kemudian juga redaktur Gema Suasana (1949).

Kumpulan sajaknya, Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950). Chairil Anwar dianggap pelopor angkatan 45. Ia meninggal di Jakarta, 28 April 1949.

Dibawah ini dinukil dari berbagai sumber Puisi buah karya Chairil Anwar yang terangkum dalam buku nya berjudul  Deru Campur Debu.

cover buku Tentang Chairil Anwar dan Deru Campur Debu

 

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

Tak perlu sedu sedan itu

 Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

***

 

Senja di Pelabuhan Kecil

Buat Sri Ayati

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

 

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

 

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

***

 

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau

Gadis manis, sekarang iseng sendiri

 

Perahu melancar, bulan memancar

di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak ‘kan sampai padanya

 

Di air yang tenang, di angin mendayu

di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertakhta, sambil berkata:

“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

 

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!

Perahu yang bersama ‘kan merapuh

Mengapa Ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

 

Manisku jauh di pulau,

kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

***

 Kawanku dan Aku

 

Kami sama pejalan larut

Menembus kabut

Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

 

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

 

Siapa berkata-kata?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga

 

Dia bertanya jam berapa?

 

Sudah larut sekali

Hilang tenggelam segala makna

Dan gerak tak punya arti

***

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,

mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,

selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

 

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,

tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,

layar merah berkibar hilang dalam kelam,

kawan, mari kita putuskan kini di sini:

Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

 

Jadi

Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,

Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,

Jangan tambatkan pada siang dan malam

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.

Tidak minta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi pamit pada siapa saja!

Jadi

mari kita putuskan sekali lagi:

Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,

Sekali lagi kawan, sebaris lagi:

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

****

Doa

kepada pemeluk teguh

 

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

 

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

 

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

 

Tuhanku

 

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

 

aku mengembara di negeri asing

 

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

****

 

Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

 

Jangan lagi kau bercerita

Sudah tercacar semua di muka

Nanah meleleh dari muka

Sambil berjalan kau usap juga

 

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

Menetes dari suasana kau datang

Sembarang kau merebah

 

 

Mengganggu dalam mimpiku

Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas

Mengaum di telingaku

 

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

***

 

Cerita Buat Dien Tamaela

 

Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu

 

Beta Pattirajawane

Kikisan laut

Berdarah laut

 

Beta Pattirajawane

Ketika lahir dibawakan

Datu dayung sampan

 

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama

 

Dalam sunyi malam ganggang menari

Menurut beta punya tifa,

Pohon pala, badan perawan jadi

Hidup sampai pagi tiba.

 

Mari menari!

mari beria!

mari berlupa!

 

Awas jangan bikin beta marah

Beta bikin pala mati, gadis kaku

Beta kirim datu-datu!

 

Beta ada di malam, ada di siang

Irama ganggang dan api membakar pulau…

 

Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu

****

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini

pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam

mau lebih banyak tahu.

“Sudah lima anak bernyawa di sini,

Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,

Keramaian penjara sepi selalu,

Bapakku sendiri terbaring jemu

Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!

Aku minta adik lagi pada

Ibu dan bapakku, karena mereka berada

di luar hitungan: Kamar begini

3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

****

Hampa

Kepada Sri

 

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai di puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti

Sepi

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencengkung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti

(****)

 

Pos terkait

pempek palembang, jual pempek palembang