Terlalu Lama Terapkan 1 Keluarga 1 Anak China Bakal Bermasalah Dengan Demografi

  • Bagikan
Foto BBC credited Getty Image
Foto BBC credited Getty Image

JAKARTA, GESAHKITA COM—China mencatatkan angka kelahiran paling lambat sejak 1949 untuk tahun 2019, sebesar 10,48 per 1.000 orang. Data awal yang diterbitkan pada Februari menunjukkan angka kelahiran juga turun signifikan pada 2020, meski jumlah kelahiran sebenarnya belum diumumkan.

China melakukan sensus setiap sepuluh tahun sekali untuk menentukan pertumbuhan populasi, pola pergerakan, dan tren lainnya. Data sensitif memainkan peran utama dalam perencanaan kebijakan pemerintah.

Survei tahun 2020 diselesaikan pada bulan Desember dengan bantuan lebih dari tujuh juta sukarelawan yang melakukan survei dari rumah ke rumah. Awalnya, survei penduduk yang dilakukan akhir tahun 2020 semula diharapkan bisa dirilis pada April kemarin.

Sensus satu dekade sekali di China menunjukkan populasi Negeri Tirai Bambu mengalami pertumbuhan yang melambat. Pada 1 November 2020, populasi China mencapai 1,41 miliar orang, naik lebih dari 4,67 juta orang pada 2019 lalu.

Baca Juga :  Pemkab Banyuasin Siapkan Rp 47 M Untuk Corona dan Implikasi Ekonomi

Menurut hasil sensus nasional ketujuh, yang dirilis Selasa (11/5/2021), tingkat pertumbuhan tahunan China rata-rata adalah 0,53% selama 10 tahun terakhir. Ini turun dari tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 0,57% antara tahun 2000 dan 2010.

Angka kelahiran China terus menurun sejak 2017, meskipun Beijing melonggarkan “kebijakan satu anak” yang sudah disahkan selama puluhan tahun untuk mencegah krisis demografis di sana.

“Data menunjukkan bahwa populasi China mempertahankan momentum pertumbuhan yang ringan dalam dekade terakhir,” kata Ning Jizhe, pejabat dari Biro Statistik Nasional, dikutip dari AFP.

Sebelumnya, Beijing mengubah aturan keluarga berencana pada 2016 untuk memungkinkan keluarga memiliki dua anak. Langkah ini diambil karena tumbuhnya kekhawatiran tentang populasi China yang cepat menua dan menyusutnya tenaga kerja.

Tetapi ada kekhawatiran yang berkembang bahwa perubahan kebijakan belum menghasilkan ledakan bayi yang diharapkan untuk membantu mengimbangi populasi menua di negara itu.

Baca Juga :  Danramil 430-04/Talang Kelapa Hadiri Upacara Peringatan Hari Santri Nasional

Hal ini sebagian disebabkan oleh penurunan angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir. Pasangan yang bergumul dengan mahalnya biaya membesarkan anak di kota-kota besar, serta perempuan yang secara alami menunda atau menghindari persalinan karena pemberdayaan mereka yang semakin meningkat.

Awal tahun ini, para peneliti dari People’s Bank of China menerbitkan sebuah makalah yang menyerukan penghapusan penuh pembatasan persalinan. Makalah ini juga memberikan saran lain untuk mendorong lebih banyak kelahiran, sambil menjelaskan bagaimana populasi tua menempatkan negara itu pada kerugian ekonomi dibandingkan Amerika Serikat dan India.(irf/AP)

selamat hari santri nasinonal

hari santri nasinonal

Baner HUT Kemerdekaan RI Ke-76

HUT Kemerdekaan RI Ke-76

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan