Materialisme Dan Matinya Hati Nurani Pada Konflik Internal, “BALLADA SEBATANG LILIN” Amanda Maida Lamhati

PALEMBANG, GESAHKITA COM—-Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Materi dapat dipahami sebagai bahan; benda; segala sesuatu yang tampak.

Materialisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.

Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata (harta, uang, dsb).

Dalam filsafat, materialisme adalah paham yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material.

Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.

Materialisme tidak mengakui entitas entitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati.

Realitas satu satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.

Konflik adalah perjuangan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan lain sebagainya, dimana tujuan dari mereka bertikai itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya dengan kekerasan atau ancaman.

Menurut Fisher, konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Konflik timbul karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan sosial, seperti kesenjangan status sosial, kurang meratanya kemakmuran dan akses yang tidak seimbang yang kemudian menimbulkan masalah-masalah diskriminasi.

Fuad dan Maskanah, konflik adalah benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang disebabkan karena adanya perbedaan kondisi sosial budaya, nilai, status, dan kekuasaan, dimana masing-masing pihak memiliki kepentingan terhadap sumberdaya alam.

Konflik internal adalah konflik kejiwaan, masalah muncul akibat adanya pertentangan antara manusia dengan dirinya sendiri. Misalnya: pertentangan antara dua keinginan, pilihan yang berbeda, harapan atau masalah lainnya. Karya sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang mengungkapkan kejiwaan seseorang.

Hati nurani adalah proses kognitif yang memunculkan emosi dan asosiasi rasional berdasarkan filosofi moral atau sistem nilai individu. Hati nurani berlawanan dengan emosi atau pemikiran yang ditimbulkan karena asosiasi berdasarkan persepsi sensorik langsung dan respons refleksif, seperti pada respons sistem saraf pusat simpatik .

Dalam istilah umum, hati nurani sering digambarkan sebagai perasaan menyesal ketika seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya .

Sejauh mana hati nurani menginformasikan penilaian moral sebelum suatu tindakan dan apakah penilaian moral semacam itu didasarkan atau harus didasarkan pada alasan telah menimbulkan perdebatan sepanjang sejarah modern antara teori-teori dasar-dasar etika kehidupan manusia yang disandingkan dengan teori-teori romantisme dan gerakan-gerakan reaksioner lainnya setelah akhir Abad Pertengahan .

Pandangan religius tentang hati nurani biasanya melihatnya sebagai terkait dengan moralitas yang melekat pada semua manusia, dengan alam semesta yang dermawan dan/atau dengan keilahian .

Beragam fitur ritualistik, mitos, doktrinal, hukum, institusional dan material dari agama mungkin tidak selalu sejalan dengan pertimbangan pengalaman, emosi, spiritual atau kontemplatif tentang asal usul dan pengoperasian hati nurani.

Pandangan sekuler atau ilmiah umum menganggap kapasitas hati nurani mungkin ditentukan secara genetik , dengan subjeknya mungkin dipelajari atau dicetak sebagai bagian dari budaya

Metafora yang umum digunakan untuk hati nurani termasuk “suara di dalam”, “cahaya batin”, atau bahkan ketergantungan Socrates pada apa yang orang Yunani sebut sebagai ” tanda daimōnic “, sebuah suara batin yang mencegah  hanya terdengar ketika dia akan melakukan kesalahan.

Foto Sumber Pinterest
Foto Sumber Pinterest

SEBATANG LILIN Dalam karakter yang dibangun merupakan simbolisasi kebaikan yakni pemberi cahaya kehidupan, penerang jalan Dan yang tidak kalah penting karakterisasi ini bahwa di dalam kehidupan ini yang bisa membawa ke jalan yang benar adalah penerangan yang bersumber Pada Lilin.

Pendek atau singkat nya kesadaran manusia yang tidak bersumber Pada Hati Nurani hanya mampu melihat Pada Hal Hal yang nyata yang berwujud saja.  Dan Hal sebaliknya yang tidak terlihat Pada pandangan mata, yakni bagaimana sesuatu itu terjadi, faktor sebab akibat kerab diabaikan sehingga tidak melahirkan idealisme Dan kebenaran serta moralitas.

Misal bagaimana cahaya terang itu ada karena Dari terbakar nya Lilin. Namun dalam Hal ini Fir Azwar yang merupakan nama Asli Dari Amanda Maida Lamhati melihat Dan merasakan akan ada nya masa dimana akan ada kematian Hati Nurani yang dia simbolkan Pada BALLADA SEBATANG LILIN yang ia tulis Pada 2015 silam.

BALLADA SEBATANG LILIN (1) Dan ( 2) juga merupakan rangkaian ontologi puisi dalam buku nya , “Perahu Tidak Lagi Kutambatkan”

(Bersambung)

 

BALLADA SEBATANG LILIN 

Oleh Amanda Maida Lamhati 

Sebatang lilin bercakap-cakap dengan angin

Sekerat demi sekerat kisah Meleleh disudut ruang.

“Aku menunggu saat kematian tiba”, ujar lilin dengan suara lirih. “Bertahanlah dengan kerlipmu, saudaraku”.

Mereka sedang menulis risalah kehidupan, mereka masih membutuhkan cahayamu”,

sahut angin.

Lilin pun terdiam keluh.

Demang Lebar Daun, 7 Februari 2015

 

BALLADA SEBATANG LILIN (2)

Oleh Amanda Maida Lamhati 

Dalam kerlipmu

Tiada lagi sedu sedan

Dalam kerlipmu

Tiada lagi penyesalan

Dalam kerlipmu

Luka menikam dada

Dalam kerlipmu

Telah berputih mata

Dalam kerlipmu

menunggu ajal tiba

 

Kantor PGRI Jl. Kebon Duku, Palembang, 9 Februari 2015

 

Sumber Reference: Wikipedia, googling

Editor Arjeli Sy Jr

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

hari santri nasinonal

Tinggalkan Balasan