World  

Riset : Sensasi yang Dirasakan Saat Membaca Puisi

Dr Tarech Rasyid Saat Membaca Puisi Ekologis, Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Dr Tarech Rasyid Saat Membaca Puisi Ekologis, Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Ringkasan: Menggunakan konsep ilmu saraf, peneliti mengevaluasi sensasi emosional dan representasi analitis yang terjadi saat kita membaca puisi.

JAKARTA, GESAHKITA COM—Selain mencari makna puisi, puisi juga seringkali dapat digambarkan melalui emosi yang dirasakan pembaca saat membacanya.

Kristiine Kikas, seorang mahasiswa doktoral di School of Humanities of Tallinn University, dinukil gesahkita dari laman Neuroscience news, mempelajari sensasi lain yang muncul saat membaca puisi dan bagaimana pengaruhnya terhadap pemahaman puisi.

Tujuan dari tesis doktoral adalah untuk mempelajari palpabilitas bahasa, yaitu kejenuhan sensorik, yang sejauh ini belum menemukan analisis dan aplikasi yang memadai.

“Dalam penelitian saya, saya melihat membaca sebagai proses impersonal, artinya sensasi yang muncul bukan milik pembaca atau puisi, tetapi keduanya sekaligus,” Kikas menjelaskan perspektif tesisnya.

Secara umum, bahasa puisi dipelajari secara metafora, untuk mencoba memahami apa arti sebuah kata baik secara langsung maupun secara kiasan. Perspektif berbeda yang disebut “perspektif afektif” biasanya mempelajari efek impuls pra-linguistik atau impuls yang tidak terkait dengan makna kata pada pembaca.

Akan tetapi, Kikas memandang bahasa sebagai proposisi dan aliran kesadaran yang simultan, yaitu diskusi yang berpindah dari satu pernyataan ke pernyataan lain serta hubungan yang tampaknya terjadi secara intuitif saat membaca.

Dia berusaha mengidentifikasi cara untuk mendekati bahasa verbal, yang dianggap memicu pemikiran analitis khususnya, dengan cara yang akan membantu membuka kejenuhan sensorik dan menempatkan pengamatan mereka dalam analisis puitis di garis depan bersama dengan mode lain dari mempelajari puisi.

Untuk mencapai tujuannya, Kikas menerapkan metode empirisme radikal Gilles Deleuze dan membandingkan beberapa pendekatan lain dengannya: semiotika, biologi, antropologi, psikoanalisis modern, dan ilmu kognitif.

Kikas menggambarkan membaca dalam tesis doktornya sebagai kehadiran konstan dalam bahasa verbal, yang terkadang lebih dan terkadang kurang diucapkan. Jenis kehadiran ini dapat dirasakan seperti warna, postur atau kicau burung.

“Mengikuti asal-usul metafora neuroscientific, saya menggunakan kecenderungan organisme manusia untuk memahami bahasa pada tingkat sensorik-motorik dalam membaca dekat saya untuk membantu memutar ulang menggunakan memori tubuh. Sifat ini memungkinkan kita untuk secara fisik mengalami kata-kata yang kita baca,” jelas Kikas.

Video Pembacaan Puisi Ekologis Oleh Dr Tarech Rasyid Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Bertempat di Sanggar Sastra Amanda Maida Lamhati

 

Sumber Teks :  Universitas Tallinn

Alih bahasa gesahkita

banner selamat menunaikan ibada puasa

banner selamat menunaikan ibada puasa

Tinggalkan Balasan